Chapter 100 : Pagi yang Belajar Memaafkan

1596 Kata

Pagi ini matahari menembus gorden putih apartemen Ryan, memantulkan warna keemasan di dinding krem yang hangat. Saat itu terasa tak ada sisa hawa gelap yang selama beberapa hari terakhir menghantui tempat itu. Semua seperti kembali bernapas. Aroma roti panggang, telur dadar, dan s**u hangat memenuhi ruangan. Suara tawa perempuan muda bersahutan dari dapur yang kini penuh kehidupan. Nu berdiri di depan kompor dengan celemek bergambar wortel, rambutnya dikuncir asal, wajahnya cerah. Ryan duduk di kursi meja makan sambil memotong buah, senyum kecil tersungging di bibirnya. Bianca dan Tya sibuk berebut spatula. “Hey, aku duluan yang mau ngaduk lodehnya!” seru Tya sambil tertawa. Bianca mencibir, “Kamu tuh nggak bisa diam, Ya! Kalau bukan aku yang aduk, bisa gosong nanti!” Dinda yang sedan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN