Pagi beranjak di Semarang. Setelah malam yang mencekam di Mranggen, Ryan kembali ke apartemennya dengan perasaan campur aduk. Ia tahu ia tidak bisa tinggal diam; ia harus bertindak cepat. Namun, di mata publik, kehidupan harus tampak normal. Minggu-minggu berikutnya dihabiskan Ryan dengan kembali ke rutinitasnya sebagai seorang penulis yang cukup ternama. Ia memaksa dirinya untuk kembali menulis, menghabiskan pagi hingga siang hari di depan laptop, mencoba membuang bayangan Iblis dan aura dingin dari Mranggen. Penerbitnya, melihat novel terakhir Ryan yang sukses besar, segera memanfaatkannya. Ryan diundang ke berbagai acara. Ia harus tampil prima, tersenyum, dan tampak bersemangat. Puncak dari aktivitasnya adalah sebuah Seminar Literasi di Aula Perpustakaan Daerah Jawa Tengah. Ruangan i

