#R - Prestasi

1473 Kata
Tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain melihat keluarganya bahagia, bagi Dimas senyuman nenek Rianty yaitu ibu kandungnya, senyuman Zahra istrinya, dan senyuman Risa keponakan tercintanya adalah hal yang paling berharga di dalam hidupnya. Setelah memutuskan pulang dan memilih tidak dirawat Risa setuju untuk pulang dan tinggal dirumah Dimas, jadi mereka hanya akan mampir ke rumah orang tua Risa untuk mengambil barang – barang Risa saja. Setelah semuanya selesai, mereka langsung pamit kepada bi Imah karena harus segera berangkat menuju rumah Dimas. Saat tiba dirumah Dimas, nenek Rianty tentu menyambut kedatangan cucu kesayangannya, tapi setelah bercengkrama sebentar bersama neneknya, Risa memutuskan untuk langsung masuk ke dalam kamar dengan alasan lelah. Bahkan, saat Zahra menawarkan diri untuk mengantar Risa ke kamar dia menolak. “Assalamu’alaikum Mas, kamu bengong aja, ada apa ?” tanya Zahra, sambil mengelus punggung Dimas saat dia masuk ke dalam kamar dan menemukan Dimas sedang melamun sendirian dipinggir ranjang. “Wa’alaikumussalam Warahmatullah, sayang” jawab Dimas, sambil tersenyum kecil. “Kamu kenapa Mas ?” tanya Zahra, saat dia melihat Dimas hanya diam seakan sedang memikirkan suatu hal. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Dimas, laki – laki itu hanya diam sambil menatap Zahra kemudian menghembuskan nafasnya. Lalu, dia menyerahkan sebuah map berwarna coklat kepada Zahra, dahi Zahra berkerut bingung karena tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya Dimas maksud. “Aku menemukan itu tergeletak dikamar Risa tadi, coba kamu buka dulu isinya” jelas Dimas, saat dia melihat pancaran kebingungan dari wajah istrinya. Mendengar penjelasan Dimas sebenarnya Zahra masih sedikit heran, kenapa Dimas tidak memberikan mapnya kepada Risa jika memang dia menemukannya dikamar Risa, karena kemungkinan besar itu adalah milik Risa, bukan malah memberikan padanya. Namun, setelah beberapa menit Zahra paham, jika maksud Dimas menyerahkan map itu kepadanya karena Dimas ingin Zahra melihat isinya. Saat Zahra membukanya, saat itulah kedua mata Zahra membulat kaget sekaligus kagum. “Ini beneran ?” tanya Zahra, sambil menolehkan kepalanya kearah Dimas. Zahra, tidak pernah membayangkan akan ada nilai sesempurna itu, hampir semua nilai ujian Risa seratus, kecuali pelajaran Bahasa Indonesia yang hanya mendapatkan nilai 90. “Bukan hanya itu Ra, Risa juga mendapatkan dua beasiswa, saat aku menemukan dua formulir didalam map itu aku pikir Risa sedang memilih dua universitas itu dan masih bingung memilih salah satu dari keduanya, tapi saat aku menelpon sekolahnya aku mendapatkan sebuah kabar jika Risa mendapatkan dua beasiswa dan salah satunya kampus bergengsi  di Singapore” ujar Dimas, berhasil membuat Zahra merasa sangat bangga dan kagum dalam waktu bersamaan. “Ini hasil ujian paling sempurna yang pernah aku lihat, Mas” ujar Zahra, masih menatap rekapan nilai Risa, “dan apa kamu bilang, Risa juga mendapat beasiswa dari dua universitas sekaligus, yang salah satunya dari universitas bergengsi di Singapore, Risa luar biasa banget, aku enggak nyangka kalau Risa sehebat ini, Mas” ujar Zahra, sambil beralih menatap kearah suaminya. Namun, pancaran kebahagiaan dan kabanggaan yang Zahra rasakan berubah menjadi sebuah kebingungan saat dia melihat wajah suaminya yang tampak terlihat seperti bingung dari pada bahagia.  “Terus kenapa kamu merana gini ? harusnya kamu bahagia saat tahu keponakan kamu punya prestasi luar biasa” ujar Zahra, sambil menyimpan rekapan nilai Risa dan beralih mengelus punggung Dimas. Mendengar pertanyaan Zahra, sesaat Dimas terdiam, melihat sikap yang Dimas tunjukan membuat Zahra semakin yakin jika ada sesuatu yang sedang suaminya pikirkan. Pelan – pelan tangan Zahra mengelus punggung Dimas, membuat laki – laki itu menoleh dan menatap Zahra tepat dibagian matanya. “Ada apa Mas ?” tanya Zahra, pelan – pelan sambil membawa tangan Dimas ke dalam genggaman tangannya. “Aku pikir setelah apa yang sudah terjadi didalam kehidupannya, setelah semua kesakitan dan luka yang dia dapat, Risa enggak akan peduli lagi sama kehidupannya  sendiri Ra, termasuk dengan pendidikannya” jawab Dimas, sambil menundukan kepala dan helaan nafas berat tedengar keluar dari mulutnya. “Maksud kamu, Risa enggak ada niatan buat lanjutin kuliahnya ?” tanya Zahra, sambil menatap Dimas. Zahra langsung mengeratkan genggaman tangannya saat dia melihat sebuah anggukan kecil dari kepala Dimas, sebagai seorang istri Zahra sangat paham apa yang sedang Dimas khawatirkan tentang Risa, apalagi Risa merupakan keponakan satu – satunya yang paling dia sayangi. Namun, dia juga tidak bisa melakukan apapun, dia hanya bisa memberikan dukungan kepada Dimas agar selalu kuat demi Risa yang harus selalu dia kuatkan juga. “Aku pikir, Risa udah enggak punya semangat hidup lagi, dia udah enggak peduli sama kehidupannya sendiri setelah semua perlakuan yang orang tuanya lakukan, selama ini Risa seakan hidup tanpa sebuah alasan yang pasti, dia ada disini karena Allah masih memberikan dia nafas, karena hatinya sudah lama mati, Ra” ujar Dimas, dengan suara yang terdengar putus asa. “Astagfirullah Mas, jadi kamu pikir Risa udah putus asa sama kehidupannya sendiri gitu ? enggak Mas Risa enggak mungkin seperti itu, jikapun itu benar maka tugas kita sebagai keluarganya untuk mengingatkan dan memberinya semangat” ujar Zahra, sambil mengeratkan gengaman tangannya pada tangan Dimas, membuat wajah laki – laki yang sedang menunduk itu terangkat dan menatap wajah Zahra. Saat melihat pancaran semangat dan ketulusan yang tergambar nyata diwajah istrinya, Dimas seakan ikut kembali mendapat semangat, dia seakan kembali disadarkan jika dia harus kuat untuk Risa yang harus dia kuatkan juga. Dimas sadar jika dia sudah terlalu jauh berpikir buruk tentang Risa, dan Dimas juga bersyukur karena ada Zahra yang bisa menjadi penguat dan pengingatnya. “Astagfirullah …” gumam Dimas, sambil menangkup wajah menggunakan tangannya sendiri. “Kita sama – sama bantu Risa ya, Mas” ujar Zahra, sambil tersenyum kearah Dimas. “Terimakasih karena kamu selalu ada disampingku sayang, terimakasih untuk semua yang sudah kamu berikan padaku, terimakasih untuk semuanya, aku sangat mencintaimu” jawab Dimas, sambil tersenyum kemudian berakhir dengan mencium punggung tangan Zahra sebagai ungkapan terimakasihnya. *** Risa tertidur dengan nyenyak setelah dia meminum obat yang Dokter berikan, demamnya juga sudah perlahan mulai turun. Wajahnya yang terlihat tenang dan damai menjadi bukti jika dia memang tidur dengan sangat nyenyak. Namun tidur nyenyak Risa tiba – tiba berubah menjadi gelisah saat bayang – bayang penyiksaan yang selalu Mamah dan Papahnya lakukan tiba – tiba hadir dalam sebuah mimpi mengusik tidurnya. Tiba – tiba matanya yang semula terkantup rapat terbelalak dan menatap sekelilingnya dengan awas dan waspada. Dia langsung  menyembunyikan seluruh tubuhnya dibalik selimut yang dia gunakan saat mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Risa menggigit bibirnya sekuat yang dia bisa untuk menahan tangisnya saat dia merasakan ada sebuah tangan yang menyantuh pundaknya. “Pergi, jangan ganggu aku, pergi !!!” “Pergi !!!” teriak Risa, sambil berusaha menyingkirkan tangan yang menempel dipundaknya, sedangkan tubuhnya dibalik selimut sudah gemetar kerena katakutan.  “Risa, ini Tante sayang, Tante Zahra” ujar Zahra, sambil mengelus punggung Risa, berusaha mengingatkan jika gadis itu sedang tinggal dirumah suaminya, jadi tidak akan ada lagi yang menyakitinya hingga membuat dia takut. Namun, saat itu Risa tidak langsung membuka selimutnya meskipun penolakan yang berusaha Risa lakukan sejak tadi sudah tidak dia lakukan lagi. Karena merasa khawatir, akhirnya Zahra memutuskan untuk langsung menarik selimut Risa karena saat itu Zahra yakin Risa sedang merasa ketakutan. Dia langsung membawa tubuh Risa ke dalam dekapanya meskipun Risa sempat menolaknya. “Ini tante sayang, jangan takut” ujar Zahra, tepat disamping telinga Risa. Mendengar bisikan Zahra, Risa langsung menoleh manatap wajah Zahra yang sedang menatapnya juga, kemudian setelah tahu jika itu benar – benar Zahra, Risa langsung membalas dekapanya, dan menyembunyikan kepalanya diceluk leher Zahra yang tertutup oleh kerudung instan. “Risa takut, Tan” ujar Risa, sambil mengeratkan dekapannya pada tubuh Zahra. “Jangan takut sayang, kamu masih punya oma, om Dimas, tante dan juga Allah yang akan selalu menyayangi dan melindungi kamu, percayalah jika kami akan selalu ada untukmu” jawab Zahra, sambil mengelus kepala Risa yang saat itu terlihat sangat ketakutan dan memeluknya begitu erat. “Allah” ulang Risa, dengan pelan. Zahra menganggukan kepalanya, mendengar Zahra menyebut Allah membuat Risa ingat jika dia sudah sangat lama menginggalkan dan menjuahi-Nya, bahkan Risa sendiri sudah tidak ingat kapan terakhir kalinya dia menyapa Allah. “Istigfarlah ketika kamu merasa gelisah, ingatlah Allah ketika kamu merasa takut, sedih, ataupun senang” jawab Zahra, masih sambil membelai kepala Risa, berusaha membuat gadis itu nyaman dengan kelembutan dan kehangatannya. “Sekarang, kamu tidur lagi ini masih jam dua loh” ujar Zahra, sambil tersenyum dan mendapatkan sebuah kecupan dipuncak kepala Risa. “Tapi aku takut, Tan” jawab Risa, sambil mendongakan kepala menatap wajah Zahra. “Yasudah tante temani kamu tidur di sini ya” jawab Zahra, yang langsung diangguki oleh Risa. Setelah itu, dua perempuan berbeda generasi itu berbaring diatas rangjang yang sama dengan posisi saling berpelukan. Saat itu, Zahra sadar jika Risa memang membutuhkan seorang teman untuk bercerita dan membantunya pelan – pelan keluar dari semua bayang – bayang menyakitkan yang pernah dia alami. Sebagai istri dari pamannya, Zahra akan berusaha semampunya menolong Risa.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN