#R – Sebuah Dukungan

1954 Kata
Waktu sudah menunjukan pukul lima pagi, Zahra yang sedang tertidur dikamar Risa karena menemani gadis itu yang sempat mengalami ketakutan langsung terbangun karena belum melaksanakan shalat Subuh. Namun, saat dia hendak bangun, tangan Risa yang melingkar dipinggangnya masih memeluk Zahra dengan erat, saat Zahra lihat ternyata Risa masih terjaga padahal Zahra pikir Risa sudah benar – benar lelap tidur.   “Kamu belum tidur, sayang ?” tanya Zahra, sambil membelai kepala Risa dengan penuh kasih sayag. Risa menggelengkan kepalanya saat dia mendengar pertanyaan Zahra, karena setelah mimpi buruk yang sudah berhasil mengusik tidurnya, Risa tidak bisa melanjutkan tidurnya meskipun Zahra menemaninya.  “Tante mau kemana ?” tanya Risa, saat dia sadar Zahra hendak bangun dari posisi berbaringnya. Sesaat, Zahra terdiam, matanya menatap mata Risa yang sedang menatap kearahnya juga. Saat itu, dari pancaran mata Risa, Zahra seakan bisa melihat pancaran ketakutan yang terlihat begitu jelas dan nyata. Kemudian, masih tanpa bicara, Zahra mengeratkan dekapan tangannya pada tubuh Risa, Zahra berharap cara itu bisa membuat Risa sadar jika sekarang dia tidak lagi sendirian. “Tante mau shalat dulu ya” ujar Zahra, sambil membelai kepala Risa. Mendengar ucapan Zahra, Risa mendongakan kepalanya menatap wajah Zahra, “tapi aku takut, Tan” ujar Risa, masih sambil menatap wajah Zahra. “Yaudah kalau gitu Tante shalatnya dikamar kamu aja, kamu mau ikut shalat juga ?” tanya Zahra, sambil menundukan kepala menatap Risa yang masih menatapnya. Sesaat Risa sempat diam menatap mata Zahra, tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban jika dia tidak akan ikut melaksanakan shalat Subuh. Mendapat tanggapan itu, Zahra terdiam memandang Risa dan mengusap puncak kepala Risa dengan penuh kasih sayang. Zahra tahu Risa tidak shalat bukan karena dia non-muslim, tapi karena keadaan yang membuat dia marah tapi dia sendiri tidak tahu harus marah kepada siapa, sampai akhirnya dia marah kepada Tuhannya dengan cara meninggalkan semua perintah ­– Nya. “Dulu Risa itu anak yang ceria, sangat ceria, baik, dan santun, Risa kala itu sekarang sudah lenyap berganti menjadi Risa yang dingin, kaku dan cuek, dia berubah menjadi sosok gadis tidak tersentuh setelah dia tumbuh dewasa dan memahami keadaan hubungan orang tuanya, bahkan dia sendiri mendapat kekerasan dari orang tuanya” ujar Dimas, sambil menghela nafas berat. Zahra yang masih setia mendengar disamping Dimas tidak banyak bicara, dia hanya diam menunggu kelanjutan cerita dari suaminya. Sambil mendengarkan Dimas bercerita, tangan Zahra menggenggam tangan Dimas dengan erat. “Karena orang tuanya juga, sekarang Risa menjauh dari tuhannya sendiri, dulu Risa anak rajin shalat, dia selalu menyukai segala hal yang berbau Islam, bahkan diusianya yang masih kecil Risa meminta sendiri jika dia ingin masuk sekolah Islam, dan saat aku menurutinya Risa benar – benar sekolah dengan sangat baik di sana” ujar Dimas, sambil memejamkan kedua belah matanya. “Tapi sekarang, lihat bahkan dia tidak mau menunaikan shalat karena alasan untuk menunjukan kemarahannya kepada tuhan, setiap kali aku ajak atau ingetin dia, dia selalu bilang, aku benci dengan kehidupan ini, hidup ini tidak adil bagiku, Allah tidak adil kepada ku, dan setiap Risa mengatakan kalimat itu hatiku sakit, Ra” gumam Dimas, sambil memukul ringan  bagian dadanya.  Seperti itulah kilasan cerita yang sempat Zahra dengar dari suaminya, dan setelah mendengar cerita Dimas,  Zahra mengerti apa yang Dimas rasakan, Risa adalah satu – satunya keponakan yang Dimas miliki, Risa tumbuh dalam penglihatannya, jadi saat Risa tumbuh kemudian terluka maka Dimas pasti akan ikut merasakan luka yang Risa rasa. Begitupula saat Risa menjauh dari tuhannya, saat itulah Dimas merasa sakit dan tidak ingin Risa berada dalam jalan itu selamanya. “Yaudah, Tante mau wudhu dulu” ujar Zahra, yang memilih untuk tidak memaksa Risa, karena Zahra yakin semakin dipaksa Risa justru akan semakin memberontak. Selama Zahra menunaikan shalat, tidak ada yang Risa lakukan, gadis itu hanya menatap setiap pergerakan shalat yang Zahra lakukan, gerakan yang sebenarnya berhasil menyentil setitik hati Risa karena dia sadar sudah lama tidak pernah melakukannya. “Tan, apakah saat aku shalat mimpi buruk itu tidak akan datang lagi ?” tanya Risa, sambil memeluk Zahra setelah dia melihat Zahra selesai melaksanakan shalat. Mendengar pertanyaan Risa, Zahra sempat terdiam selama beberapa saat, tangannya mengelus – elus pundak Risa yang saat itu sedang memeluknya dari posisi samping. Zahra juga bisa melihat wajah Risa yang masih terlihat pucat kini terlihat sangat lelah juga, mungkin semua itu terjadi karena dia memang sudah lelah pada mimpi buruk yang selalu mengusik tidurnya, dia lelah dengan rasa takut dan khawatir yang selalu dia rasakan beberapa hari belakangan. “Tentu sayang, Allah akan selalu menjaga kamu baik dalam keadaan tertidur ataupun tidak, baik itu siang ataupun malam, jika kamu selalu mengingat Allah dalam keadaan senang ataupun sedih, Allah pasti akan membantu kamu dalam setiap permasalahan yang kamu hadapi” ujar Zahra, sambil tersenyum kecil. “Berarti, kalau aku minta sama Allah agar Papah dan Mamah menyayangiku, Allah akan mengabulkannya juga ?” tanya Risa, sambil mendongakan wajahnya yang semula sedang bersandar dibahu Zahra. Sakit, hati Zahra sakit mendengar harapan yang sudah sepantasnya Risa dapatkan dari orang tuanya, tapi Risa hanya bisa membayangkannya dalam senyum kepahitan. Disaat teman – temannya bisa tersenyum bahagia bersama orang tuanya, tapi Risa hanya bisa menjadikan itu keinginan dan harapan untuk bisa dia rasakan. “Insya Allah sayang” jawab Zahra, sambil mengelus pundak Risa dengan suaranya yang bergetar setelah dia mendengar ucapan Risa. Zahra, mengurai pelukan Risa, kemudian dia menghapus lelehan air mata yang ternyata sudah menetes jatuh dalam diam dari pelupuk mata Risa. Dalam tangisnya, Zahra berusaha melukiskan senyuman, berusaha menguatkan Risa yang dia yakin pasti sudah sangat terluka. Saat itu, Zahra bertekad jika dia akan berusaha selalu ada untuk Risa, dia akan berusaha menjadi rekan, teman, kakak, dan ibu yang baik bagi Risa. “Wow, ternyata di sini sedang terjadi sesi pelukan,” suara Dimas yang tiba – tiba muncul ditengah suasana mellow Risa dan Zahra langsung membuat pelukan dua perempuan berbeda gerasi itu terlepas dan kompak menoleh kearah sumber suara. Risa melirik Dimas dengan tatapan sinisnya, membuat Dimas langsung tertawa saat dia menyadarinya. Dimas mengelus kepala Risa dengan lembut, saat itu dia tidak merasa tersinggung sedikitpun dengan tatapan Risa, karena dia dan Risa memang selalu seperti itu. “Sa, Om baru ingat sekarang kamu udah kelas tiga SMA, kamu mau lanjut kuliah dimana ?” tanya Dimas, sambil mendudukan tubuhnya dipinggir ranjang, karena memang saat itu dia datang ke kamar Risa untuk membicarakan dokumen yang dia temukan dikamar Risa. “Berhubung otak aku pas – pasan, aku juga udah pusing mikirin pelajaran, jadi kayanya aku enggak akan lanjut sekolah lagi deh” jawab Risa, terdengar acuh tidak acuh, sambil memeluk Zahra kembali. Mendengar jawaban Risa, Dimas dan Zahra kompak langsung saling bertatapan. Jawaban Risa tidak meleset sedikitpun dari prediksi Dimas, gadis itu sudah tidak ingin melanjutkan pendidikannya karena dia sudah putus asa dengan kehidupannya, seperti itulah prediksi yang pernah Dimas bicarakan dengan Zahra hingga membuat istrinya sempat sedikit marah. “Kenapa ? sayang dong sekolah kamu kalau enggak di lanjut, Rasulullah aja memerintahkan kita sebagai umatnya untuk senantiasa menuntut ilmu, tuntutlah ilmu sampai kenegeri Cina, itulah yang Rasulullah anjurkan kepada kita sebagai umatnya” ujar Zahra, sambil membelai rambut Risa dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. “Aku males Tan, otakku itu kayanya udah overdosis mikirin pelajaran -  pelajaran” jawab Risa, sambil mengurai pelukannya dan menatap mata Zahra. Kemudian, Risa berpindah posisi menjadi duduk disebuah sofa yang ada didalam kamarnya, letak sofa yang berhadapan langsung dengan ranjang membuat Dimas bisa lebih leluasa memperhatikan Risa yang dia sadar saat itu sedang berusaha menghindari tatapan matanya. “Iya, saking overdosisnya nilai Ujian Nasional kamu hampir semuanya dapat seratus kecuali Bahasa Indonesia yang hanya dapat 90, terus saking overdosisnya kamu sama yang namanya pelajaran, kamu sampai bisa dapat dua beasiswa sekaligus, gitukan maksud kamu ?” tanya Dimas, masih dalam posisi menatap Risa. Mendengar kalimat yang baru saja Dimas ucapkan, Risa langsung menoleh, keterkejutan sempat terlihat diwajahnya. Namun, tidak lama karena setelah itu Risa berhasil menormalkan kembali mimik wajahnya agar jadi terlihat baik – baik saja. “Om tahu dari mana ?” tanya Risa, karena dia merasa belum pernah memberi tahu Dimas tentang nilai dan beasiswa yang dia dapatkan, bahkan Risa justru berniat tidak akan memberi tahu Dimas, karena Risa yakin saat Dimas tahu pasti dia akan berusaha keras membujuk Risa. Namun, ternyata tanpa Risa beritahu Dimas sudah tahu lebih dulu.   “Enggak penting Om tahu dari mana tentang semua itu, sekarang kamu jawab pertanyaan Om, kenapa kamu enggak mau lanjutin pendidikan kamu ?” tanya Dimas, sambil menatap Risa penuh keseriusan. Mata Dimas menatap Risa penuh selidik, seakan berusaha membuat Risa merasa terintimidasi agar gadis itu tidak berbohong lagi kepadanya. Sedangkan Risa, masih tetap berusaha untuk tenang dihadapan Dimas dan Zahra. “Ayo dong sayang, ini kesempatan emas buat kamu, jangan sia – siakan  kesempatan itu” ujar Zahra, sambil menggenggam tangan Risa saat dia sudah ikut berpindah duduk ke atas sofa. “Diluar sana, ada banyak orang yang berharap bisa kuliah diluar negeri, sedangkan kamu hanya tinggal masuk dan kuliah di sana dengan gratis, apa kamu mau mengorbankan masa depan kamu hanya karena emosi yang ada di dalam diri kamu ?” tanya Zahra, sambil membelai pipi Risa, hingga membuat wajah Risa menatap kearahnya. Selama beberapa saat, Risa terdiam. Matanya menatap wajah Zahra lekat – lekat, Risa sadar dan paham apa maksud dari ucapan Zahra, hanya saja dia merasa sudah lelah untuk kembali melangkah, dia sudah lelah dan ingin beristirahat.  “Kenapa diem ?” tanya Dimas, masih dengan nada penuh keseriusan hingga membuat Zahra yang menoleh dan menatap kearahnya, mengisyaratkan agar Dimas tidak terlalu tegas bicara kepada Risa.  “Papah sama Mamah aja enggak peduli sama aku, mereka enggak peduli aku mau kuliah atau enggak, jadi untuk apa aku harus peduli dengan hidupku sendiri kalau gitu” tanya Risa, sambil menatap Dimas dengan tatapan dingin. Untuk yang ke dua kalinya, ucapan Risa benar – benar menjadi wujud nyata apa yang Dimas takutkan. Semua hal yang sempat Dimas prediksikan tentang Risa, akhirnya benar – benar terjadi dalam kenyataan setelah Risa mengatakan sendiri dengan gamblang. “Tapi Om peduli Sa, Om peduli sama kamu, kehidupan kamu, dan juga pendidikan kamu” ujar Dimas, dengan nada suaranya yang juah terdengar lebih lembut. Dimas berjongkok dihadapan Risa, dengan sengaja Dimas menatap wajahnya, tangannya dengan lembut membawa tangan Risa ke dalam genggamannya. Mendapat perlakukan demikian dari pamannya, tidak ada yang Risa katakan, dia hanya diam sambil mamingkan wajahnya, berusaha menghindari tatapan Dimas. “Ayodong buktiin sama Papah dan Mamah kamu, sama orang – orang yang selalu mencemooh kamu bahwa kamu itu bisa, kamu itu mampu berdiri diatas kaki kamu sendiri, buktikan jika marena salah sudah mencemooh kamu selama ini” lanjut Dimas, sambil mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Risa, membuat dia akhirnya menoleh dan menatap mata Dimas. “Iya sayang, kamu kuliah aja ya, percayalah Nenek, Om dan Tante pasti akan selalu berada didekat kamu untuk  menjadi pendukung” ujar Zahra, sambil merengkuh pundak Risa. Selama beberapa saat, Risa masih terdiam menatap Dimas tepat dibagian matanya. Selama hidupnya, Risa tidak pernah mendapatkan dukungan, cinta dan kasih sayang selain dari neneknya dan Dimas pamannya, setiap kali Risa bertatapan dengan mata Dimas dia selalu menemukan harapan baru dalam setiap keputusasaannya. Hal itu juga yang menjadi alasan Risa tidak mau menceritakan beasiswa yang dia dapatkan kepada Dimas, karena dia takut Dimas kembali membujuknya kemudian diapun menyetujuinya, sedangkan saat itu keputusan Risa sudah bulat jika dia ingin berhenti berjuang. Namun, ternyata sekarang Dimas lagi – lagi berhasil membawa Risa pada start perjuangan yang sebenarnya sudah tidak ingin Risa lakukan. “Okey” jawab Risa, sambil menundukan kepala. Mendengan satu kata dari jawaban Risa, membuat senyuman Dimas dan Zahra langsung merekah. Karena, akhirnya Risa bersedia kembali berjuang untuk kelangsungan masa depannya, Risa bersedia kembali melangkah untuk menjajaki takdir kehidupan.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN