Alunan musik itu menghentak dengan keras dan dua gadis berpakaian mini itu langsung turun ke area dansa, menari dengan riang sembari mengangkat gelas mereka di udara.
"Thanks Mika!" Thea berteriak keras tepat di telinga Mika kemudian mencium pipinya penuh semangat, "Makasih sudah kasih tas koleksi Lo buat gue!" Tawanya mengalun keras dan Mika menyahuti temannya itu dengan senyum lebar pula.
"Apa sih yang nggak bakalan gue kasih ke Lo supaya Lo nggak ngambek sama gue!"
"Kalau gue minta Marco gimana? Apa bakalan Lo kasih juga laki Lo buat gue?!" Sudut bibir Thea naik, menatap ekspresi Mika yang kaget dan melotot tajam.
"NGGAKLAH! Enak aja! Gue cinta banget sama Marco nggak mungkin gue kasih dia buat Lo!" Nada suara Mika naik dengan nafas kasar, "Lagian kenapa minta macem-macem sih? Bukannya Lo sendiri sudah punya pacar?!"
"Laki gue jarang ada waktu buat gue makanya gue iri sama Lo yang mana Marco punya waktu hampir 24 jam buat Lo." Thea tersenyum, "Lagian di luar sana banyak kok cewek yang mau berbagi pacar sama temennya."
"Dan gue bukan cewek diluaran sana yang mau berbagi." Nada suara Mika ketus dan gadis itu segeralah meninggalkan lantai dansa untuk duduk di meja yang telah mereka pesan.
"Pelit amat Lo. Egois." Thea menyusul Mika dan duduk disamping gadis itu, "Gimana kalau sebentar Marco juga suka sama gue?"
"Dia nggak mungkin suka sama Lo!" Mika mendesis kesal, "Yang jadi pertanyaan gue, Lo suka sama Marco?"
"Menurut Lo gimana?" Thea tersenyum sembari memainkan gelasnya mengabaikan Mika yang bersungut-sungut emosi, "Nggak anehkan kalau gue suka Marco."
"Hai, ada apa nih kalian berdua. Hawanya nggak enak banget." Si pemuda yang menjadi topik pembicaraan dia gadis itu datang dengan wajah penuh senyum, dia duduk disamping Mika dan merangkul pinggang kekasihnya itu sembari mengambil gelas berisi minuman pekat untuk dia minum.
"Thea minta aku berbagi kamu dengannya." Jawab Mika ketus.
"Hah, maksudnya gimana?" Marco tersedak hebat atas perkataan Mika, "Jangan ngawur." Tawa Marco kikuk sembari menatap Thea tajam, "Dia bercanda, kenapa kamu anggap serius, sih?"
"Siapa yang bercanda." Thea tertawa mengejek kearah Marco, "Gimana kalau gue bilang sebenarnya Lo punya affair sama gue."
"Ini nggak lucu, The! makin ngawur aja sih omongan Lo?!" Wajah Marco mengeras, pria itu menatap Thea dengan sorot mata tajam penuh peringatan, "Mika baik banget sama Lo tapi kayak gini balas Lo buat dia?"
"Takut banget sih kalau ketahuan punya affair sama gue." Kekeh Thea sembari meneguk cairan yang ada di tangannya.
"Sudahlah jangan ditanggepin ucapannya Thea." Marco lantas mengelus pipi lembut Mika dan mengecupnya singkat, "Mungkin dia sengaja buat kamu kesal."
"Nggak penting banget buat gue kesal."
"Penting." Jawab Marco, "Kamu lupa sekarang tanggal berapa?" Untung Marco cukup pintar untuk mengingat detail tentang kekasihnya itu.
"Oh." Mika terdiam, mengingat sesuatu, "b******k Lo, The! Lo ngeprank gue, ya!" Teriak Mika dengan mata melotot saat sadar bahwa tengah malam nanti adalah perayaan hari ulang tahunnya yang ke 20.
"Ah sialan, Lo!" Bibir Mika tersenyum tipis, "Thanks ya, sudah ingat hari ulang tahun gue." Wajah Mika yang tadinya memerah marah kini kembali normal bahkan gadis itu menatap Thea dengan sendu penuh haru. Mereka kembali bersenda gurau sampai akhirnya Mika pamit ke toilet, meninggalkan Marco dan Thea.
"Maksud Lo tadi apaan, The?! Lo mau bongkar affair kita di depan Mika?!"
"Bukannya Mika berhak tahu kelakuan pacar yang dia cintai itu?"
"Lo tahu kalau sampai Mika marah, kita bisa kehilangan sumber duit kita, Thea!"
"Yang ada di otak Lo kayaknya cuma duit doang, ya?"
"Memangnya kamu nggak?" Marco lantas menatap tas yang ada di atas meja, "Munafik banget Lo nggak tertarik sama uangnya Mika sedangkan Lo juga dapat tas puluhan juta dari dia." Marco berdecih kesal lantas meninggal Thea sendirian disana.
"Sok suci banget Lo." Kesal Thea, gadis itu lantas mengambil ponselnya yang berada dalam tas pemberian Mika, "Mangsa lagi di toilet, lakuin tugas kalian sekarang." Thea tersenyum lebar dibalik gelasnya, "Gue kasih surprise buat ulang tahun Lo, Mika. Gue harap Lo suka sama kejutan gue."
Sementara itu Mika keluar darinbilik toilet, mencuci tangannya di wastafel namun kepalanya langsung terangkat saat melihat seorang pria masuk ke toilet wanita lewat bayang cermin yang ada di depannya, "Sorry, ini toilet cewek."
"Gue tahu." Pria asing itu lantas mengunci pintu dari dalam hingga membuat Mika memekik keras, "Apa-apan Lo?! Kenapa kunci pintu?!" Mika menelan ludah serat dengan keringat dingin mulai menjalar di sekujur tubuhnya, dia ketakutan apalagi posisinya toilet saat ini sedang kosong dan Mika tidak membawa ponselnya.
"Bersenang-senang sama Lo. Sayangkan ada cewek cantik di depan mata tapi gue lepas gitu aja." Pria asing itu mendekat, membuat tubuh Mika terpojok.
"Gue bisa panggil guard kalau Lo berani macem-macemnya sama gue!" Teriak Mika keras sembari melempar apapun yang ada di toilet kearah lelaki asing itu.
"Mau panggil mereka? Silahkan saja! Itupun kalau mereka denger suara kamu, cantik." Seringai itu terbit dengan menjijikkan di bibirnya yang pekat karena pengaruh rokok dan teriakan Mika mengalun keras saat pria itu langsung mengunci gerak tubuhnya dengan kedua tangan kekarnya.
"Aromamu manis sekali, cantik." Wajah pria itu menunduk, menghirup aroma Mika dengan rakus hingga membuat Mika berteriak ketakutan diikuti dengan air mata mengalir di pipi saat pria asing itu menjulurkan lidahnya, menjilati kulit leher Mika dengan nikmatnya.
"Lepaskan aku, b*****t!" Teriaknya sembari meronta, "Argh!" Teriakan kembali terbit di bibirnya saat tangan besar itu meraih surainya dan menjambaknya keras.
"Nikmati saja apa yang kulakukan padamu, Nona! Kau pasti akan menyukainya."
"Cuih!" Mika meludah tepat di wajah pria asing itu hingga menyulut api kemarahan pria itu.
"Argh!" Mika didorong hingga kepala gadis itu membentur lantai, kedua tangannya digenggam erat dan kakinya dikunci oleh pria itu. Lelaki itu tertawa seperti iblis sebelum akhirnya menyerbu tubuh Mika dan mengabaikan tangis memilukan gadis itu.
"Plak!" Tamparan itu begitu keras diberikan hingga bekas merah membayang di tulang pipi gadis malang itu, "Kubilang diam saja dan nikmati apa yang akan kulakukan padamu, Jalang!" Teriaknya marah sembari mencengkram wajah Mika dengan kasar.
"Srek!" Tangan itu berhasil merobek gaun mini Mika hingga bra seksi yang membungkus buah gadis itu mengintip hingga membuat nafsu b******n itu semakin tersulut.
"Aku tidak sabar untuk menikmati tubuh indahmu, cantik." Tangan pria itu menarik penutup buah Mika diikuti dengan wajahnya yang menunduk dan bibir terbuka lebar, siap untuk merasakan buah manis yang terpampang di depan matanya.
"Brak!" Suara pintu kamar mandi ditendang kasar hingga fokus pria b******n teralihkan, belum sempat dia memakai pelaku perusak kesenangannya.
Sebuah bogem mentah langsung mendarat keras tepat di wajahnya, "Bugh!"
Sementara itu diluar sana, Thea menikmati minumannya sembari tersenyum, memikirkan bagaimana nasib Mika saat ini, "Gue bisa bayangin gimana muka Lo saat ini, Mika. Gue yakin setelah malam ini, Lo nggak akan pernah punya muka lagi dan hancur."
"Maaf, dengan Nona Thea?" Seorang pria berjas rapi datang menghampiri Thea, menatap gadis itu dengan tatapan tajam.
"Ya. Kenapa?"
"Anda harus ikut dengan kami, Nona."