10.

822 Kata
Seluruh rangkaian kelas telah selesai hari itu dan Mika tidak berani mendekat ke arah Thea karena perbuatannya tadi. "Thea..." "Masih berani nyapa setelah hancurin nilai gue?!" "Gue nggak maksud gitu. Tapi posisi gue lagi kejepit. Gue nggak bisa dapat nilai F lagi kalau nggak mau ngulang pelajarannya Mr. Killer tahun depan." "Terus urusannya sama gue apa?!" "Tugas Lo jadi penyelamat buat gue." Mika menggigit bibirnya keras, Maafin gue ya. Apapun bakalan gue kasih asal Lo maafin gue." Mika terdiam, berpikir yang justru membuat Thea kesal dan berniat meninggalkan temannya itu. "Parfum channel!" Mika dengan segera menarik tangan Thea, mencegahnya pergi, "Please, mau ya? Terima saja, Ok? Itu bentuk permohonan maaf gue." "Lo pikir gue gampang disogok?! Inget ya, gegara Lo, gue jadi dapat nilai F!" Wajah Thea kaku. "Gue tambahin koleksi tas gue deh. Kan ada tuh koleksi tas gue yang Lo pengenin." Mika meraih tangan Thea, "Mau ya? Thea..." "Mika..." Sebenarnya tawaran Mika sangat menggiurkan mengingat tas gadis itu menyentuh angka puluhan juta rupiah. "Gue nggak bisa kalau Lo marah sama gue, Please." "Ok. Ok." "Nah gitu dong. Nanti tasnya gue bawa sekalian kita pergi ke club'." Mika tersenyum lebar dan langsung mengecup pipi Thea, gadis itu langsung pergi begitu suara Marco memanggil namanya. "Club' ya?" sudut bibir Thea naik, "Makasih Mika. Lo sudah ngasih gue ide. Kayaknya asyik kalau gue ngerjain Lo disana." ucap Thea bengis sembari menatap wajah Mika yang tertawa lebar disamping Marco. Sementara itu Kereta yang membawa sepasang suami istri keluarga Bayu itu berhenti di stasiun Balapan Solo, keduanya turun dari kereta dan disambut oleh seorang pria paruh baya berpakaian rapi yang merupakan supir keluarga. "Silahkan Tuan, Nyonya." Sang supir membukakan pintu bagi sang tuan setelah seluruh barang bawaan dimasukkan ke dalam bagasi mobil. "Terima kasih, Dadan." Luna menatap supir itu cukup lama sembari tersenyum tipis. Tidak banyak hal yang dilakukan oleh pasangan suami istri itu saat tiba di Solo, setelah malam tiba, keduanya langsung masuk kedalam kamar untuk beristirahat sampai pagi datang menjelang keesokan harinya. "Mau kemana?" Luna menatap sang suami dengan alis mengerut saat mendapati pria paruh baya itu sudah tampil rapi di pagi hari. "Mas ada urusan sebentar." Alex menghampiri Luna dan mengecup puncak kepalanya dengan sayang untuk pamit. Luna menatap kepergian sang suami dengan tatapan tak putus sebelum suara Dadan memutus lamunannya, "Berangkat sekarang, Nyonya?" "Ya." Angguk Luna pelan kemudian mengikuti Dadan yang membukakan pintu mobil milik sepupu supir itu, "Ikuti kemana Mas Alex pergi, pastikan ambil jarak aman supaya dia tidak sadar kalau ada saya dibelakangnya." Luna menarik nafas berat, berusaha menarik nafas sabar. Sudah hampir 20 tahun dan suami itu selalu mengajak Luna pergi ke Solo, menaiki kereta yang sama di bulan dan tanggal yang sama hingga akhirnya Luna tidak tahan lagi dan memutuskan untuk membuntuti suaminya itu. "Mas dimana? Bolehkah Luna titip sesuatu kalau Mas pulang nanti?" Luna menekan ponselnya dan menghubungi Alex, menahan sesak dalam hati saat sang suami keluar dari toko Bunga dengan membawa Mawar putih di tangannya. "Mas ada janji temu dengan rekan kerja. Nanti mau titip apa?" Alex terlihat masuk kedalam mobilnya. 'Rekan kerja apa sampai Mas Alex bawakan bunga?' Luna mengigit bibirnya keras, menahan sesak dan tangis, 'Kamu main api dengan siapa, Mas? Kamu tega sekali melakukan hal menjijikkan ini padaku selama 20 tahun?' "Luna?" Dan mobil Alex mulai bergerak lagi, pergi entah kemana. "Tolong nanti belikan Nasi Liwet di langganan kita." "Hanya itu?" "Iya. Luna tunggu di rumah." "Huft!" Nafas itu kasar begitu Luna menutup sambungan teleponnya hingga membuat Dadan menolehkan kepalanya, menatap sang Nyonya khawatir. "Saya tidak apa-apa, Dadan." Senyum itu pahit dengan senyum sedih di bibir, "Tetap buntuti mobil Mas Alex, jangan sampai kita kehilangan jejaknya. Mobil Luna ikut bergerak mengikuti mobil Alex hingga mobil sang suami berhenti di tempat terakhir. Pemakaman? 'Untuk apa Mas Alex kesini?' Luna melihat mobil Alex terparkir di halaman pemakaman, alisnya mengerut dalam berpikir Alex berziarah ke makam siapa karena Luna tahu, Alex tidak punya keluarga di Solo. "Anda ingin turun sekarang?" "Kita tunggu sampai mobil Mas Alex pergi." Luna menarik nafas panjang sembari mengigit bibir, menanti detik demi detik sang suami yang berziarah entah di makam siapa. Luna menunggu cukup lama hingga akhirnya Alex keluar dari area pemakaman dan melajukan mobilnya kearah jalan raya. Luna keluar dari mobil ditemani oleh Dadan, pria akhir 30 tahun itu bertanya pada penjaga pemakaman. "Tuan baju putih dengan kaca mata hitam?" Alis tua itu mengerut, "Oh Tuan Alex." Senyum tua itu terbit dibibir saat Luna menganggukkan kepala. "Mari ikut saya, Nyonya." Luna lantas mengikuti langkah paruh baya itu, berjalan menelusuri beberapa makam sebelum akhirnya berhenti di sebuah makam tua namun terawat dengan sangat baik dan bersih. Dan yang lebih penting, ada bunga Mawar putih diatasnya, bunga Mawar yang tadi dibawa sang suami. Luna lantas bersimpuh di depan makam itu, mengerutkan alisnya sembari membaca deret huruf yang membentuk nama si pemilik peristirahatan terakhir itu. Wulandari Ningsih dan wafat di bulan dan tanggalnya tepat hari ini, 22 Oktober 2002. "Wulandari Ningsih?" "Siapa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN