9.

813 Kata
"Tante jangan khawatir, Marco akan menjaga Mika." Saat ini posisi Marco berada di Stasiun Gambir, pemuda itu berinisiatif ikut memgantar orang tua Mika. "Saya pegang ucapanmu." Manic Alex menatap tegas pada Marco hingga membuat pemuda itu menganggukkan kepalanya berat, "Jika sedikit saja kau melukainya, saya pastikan kamu akan hilang detik itu juga. Paham?!" "Ya, saya paham, Om." Senyum terbaik masih terpasang di wajah Marco meskipun dia tahu ayah Mika tentunya tak asal bicara. "Ayo, kita pergi." Alex merangkul pinggang sang istri membawa tubuh wanita cantik itu untuk segera masuk kedalam kereta yang sebentar lagi akan berangkat. 'Orang kaya satu ini memang beda, bukannya naik pesawat biar lebih nyaman dan cepat sampai tapi lebih memilih pergi pakai kereta.' Marco lantas menatap kereta yang perlahan meninggalkan stasiun Gambir itu. "Ayo, kita harus segera pergi ke kampus. Sebelum jalanan makin macet." Ajak Mika sekaligus melepas lamunan Marco. Dengan menggunakan mobil yang disetir oleh supir keluarga Mika, kedua remaja itu berhasil menembus kemacetan jalanan. "Nanti nggak usah dijemput. Aku bakalan pulang bareng Marco." Mika keluar dari mobilnya dan langsung mengandeng tangan sang kekasih, membawa pemuda itu kearah kantin karena dia tahu dengan pasti kalau Marco belum sarapan saat ini. "Bubur ayam atau Nasi Uduk?" Kantin masih tergolong sepi namun sudah ada beberapa stand yang sudah buka. "Bubur Ayam aja deh minumnya teh hangat." "Ok, tunggu sebentar." Mika meninggalkan Marco yang duduk disalah satu bangku kantin menuju stand Bubur ayam, memesan dua porsi sekaligus memesan teh hangat. Sementara itu, Marco yang duduk menunggu Mika sembari memainkan ponsel langsung mengangkat kepalanya begitu melihat sosok Thea duduk didepannya. "Kamu kemana sih? Pagi-pagi sudah ngilang. Padahalkan aku mau ajak sarapan bareng." Bibir Thea cemberut. "Aku diajak Mika nganter ortunya ke stasiun." Marco mematikan ponselnya, "Lagian tumben banget kamu ajak sarapan aku." "Memangnya nggak boleh aku ajak kamu sarapan. Gini-gini aku ini juga pacar kamu, meskipun dimata orang-orang aku cuma selingkuhan." "Tolonglah The, ngerti posisi aku. Aku jalin hubungan sama Mika buat kamu juga. Setiap nominal Rupiah yang Mika kasih ke aku, kamu juga nikmatin, kan." Marco mendesah berat, "Please, aku baru dapat kepercayaan orang tuanya Mika jadi aku mohon supaya kamu ngerti." "Aku kurang ngerti apa sih sama kamu? Kamu bilang kamu cinta aku, kan. Tapi aku pengen kamu sisain waktu buat aku aja kamu nggak bisa?!" "Waktu apa, The?" Suara bingung mengalun diantara mereka berdua, membuat pasangan selingkuhan itu langsung menutup mulut mereka dengan rapat. "Waktu apaan? Kamu salah denger kali." Thea tertawa sumbang. "Oh kirain apa." Mika duduk disebelah Marco, meletakkan nampan berisi dua porsi sarapannya dengan Marco, "Sorry ya, gue cuma pesan dua porsi buat gue sama Marco." "It's Ok. Mika. Gue sudah sarapan di rumah kok. Tadi mampir kesini karena lihat Marco duduk sendiri kayak orang ilang." "Eh mau kemana?" Mika mengangkat kepalanya, menatap Thea yang bangun dari duduknya. "Ke kelaslah. Emangnya mau kemana lagi. Gue duluan ya." Thea "Oh, Ok." Angguk Mika pelan dan tak anggap pusing pembicaraan singkat yang tadi dia dengar, "Marco." Tangan Mika terulur, meminta Marco membuka mulutnya untuk menerima suapannya. "Aku punya sendiri, Mika." "Bawel ah, tinggal buka mulut doang." Bibir gadis itu merajuk dan Marco mau tak mau menerimaku suapan dari gadis itu meskipun pemuda itu mati-matian menahan malu karena ada beberapa mata menatap mereka berdua sembari cekikikan, mengejek. "Sepertinya kelasmu akan dimulai." Marco mengalihkan perhatian Mika padanya dan gadis itu buru-buru mengecek jam di ponselnya. "Oh iya, lima menit lagi." Mika bangkit, gadis itu hendak meninggalkan Marco namun dia alih haluan dan menarik tangan sang kekasih, " Anterin aku ke kelas, ya." "Kan kelas kamu Deket dari sini." "Sesekali nyenengin pacar, Marco." Mika menggeret Marco sampai depan kelasnya, "Sial!" Gadis itu tiba-tiba berhenti kemudian menatap Marco panik, "Aku lupa ngerjain tugas Pak Budiono, Gimana dong?" Mika menggigit bibirnya keras, "Aku nggak mau dapat nilai F. Aku harus gimana, Marco?!" "Tanya Thea, dia sudah ngerjain apa belum." Marco masuk ke dalam kelas Mika dan menghampiri meja Thea yang berada di deret paling belakang. "Thea, Lo sudah ngerjain tugas Pak Budiono?" Marco mewakili Mika bertanya. "Sudahlah. Emang kenapa?" "Mana?" Marco merebut tas Thea dengan tidak sabar hingga membuat Thea memekik kaget atas ulah selingkuhannya itu. "Eh, apa-apaan kamu, Marco?!" Thea berusaha melindungi tasnya namun Marco lebih kuat. "Nih." Tugas Thea sudah ada di tangan Marco dan pemuda itu memberikannya pada Mika, "Pakai tugas Thea aja dulu." "Apa-apaan kamu, Marco?! Itu tugasku!" Pekik Thea dengan wajah memerah marah. "Sesekali Lo ngalah sama Mika. Anggap aja ucapan terima kasih Lo ke Mika." "Maksudnya, gue ngasih tugas gue ke Mika cuma-cuma? Gitu?!" "Memang." Ucap Marco santai pada Thea kemudian mengalihkan pandangannya kearah Mika, "Pakai tugas Thea dulu. Jangan lupa ubah nama dan NIM-nya." Marco mengelus puncak kepala Mika dengan lembut, "Udah ya, aku balik ke kelasku dulu. Bye, pacar." Marco pergi begitu saja, meninggalkan Thea yang mengumpat keras dalam hati sembari menatap Mika kesal. 'Awas saja kalian berdua. Aku akan lakukan sesuatu pada kalian berdua!'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN