"Kenapa?" Thea bangkit dari rebahannya, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang tak berpenutup sembari menatap Marco heran karena Marco turun dari atas ranjang kemudian masuk ke kamar mandi dan keluar dalam keadaan segar dan sudah mengenakan setelan yang cukup rapi.
"Mau kemana?" alis Thea naik, bingung saat Marco meraih kunci motornya.
"Mika tadi telepon, dia mau ngajak keluar sebentar."
"Lalu aku?"
"Kamu bisa langsung pergi setelah ini."
"Aku diusir?!" Mata Thea terbelalak lebar, tak percaya dengan ucapan Marco padanya.
"Aku tidak mengusirmu, The." Marco mendesah pelan, "Hanya saja jika akan sangat beresiko kalau ada penghuni kost yang tahu keberadaanmu di kamar ini dan mereka memberitahu Mika, bisa tamat kita berdua." Marco mendekat kearah ranjang dan menggenggam tangan gadis itu, "Thea please, tolong mengerti, ya."
"CK!" Thea tak bicara sepatah katapun dan justru bangkit dari atas ranjang sembari menepis tangan Marco.
"The..." wajah Marco putus asa, tahu dengan jelas kalau Thea marah padanya, "Thea..." Marco membuntuti langkah gadis itu dengan nada suara merengeknya.
"Apaan, sih?!" Thea langsung menepis tangan Marco dan menatap pemuda itu sebal, "Katanya aku disuruh pergi, giliran aku mau pergi malah ditahan!"
"Kamu nggak marahkan sama aku?"
"Kamu mau aku marah? Toh aku juga nggak ada hal buat marah sama kamu, kan?"
"Maafkan aku, The." wajah Marco bersalah, "Kalau begitu aku pergi dulu, ya." pria itu hendak memeluk tubuh sang gadis namun Thea dengan cepat menggelengkan kepalanya, melarang.
"Kamu mau aroma tubuhku menempel di tubuhmu dan membuat Mika curiga karena dia mencium aroma lain di tubuhmu?" perkataan Thea membuat Marco mundur satu langkah ke belakang.
"Udah pergi sana! Jangan biarin Princess nunggu. Oh ya sebelum pulang, aku numpang mandi bentar, ya. Gerah, lengket juga tubuhku."
"Ok." angguk Marco pelan, melangkahkan kakinya keluar dari kamar sembari menolehkan kepalanya ke arah Thea, ragu.
Marco turun ke lantai bawah, menaiki motornya yang terparkir di halaman parkir kost dan segera menuju lokasi yang dibagikan oleh Mika.
Dan motor Marcopun berhenti, menatap gerbang tinggi berwarna hitam yang berdiri gagah didepannya, "Mika nggak salah sharelock, kan?" Marco menatap gerbang itu sembari menelan ludah serat, terintimidasi dan menunjukkan perbedaan kasta yang cukup besar diantara dirinya dan Mika.
"Marco!" pintu gerbang terbuka lebar dan sosok yang tadi hendak ditemui Marco tersenyum lebar, "Kenapa nggak ngabarin kalau sudah sampai?"
"Kamu ngajak aku ke rumahmu?"
"Ya, memangnya kenapa?" Mika menatap Marco bingung, "Bukannya wajar ya kalau cewek ngajak cowoknya main ke rumah?" Mika lantas meraih tangan Marco, menyeret pacarnya itu secara paksa untuk mengikuti langkahnya.
Marco mengamati sekitar dengan mata tak berkedip, menghitung aset keluarga Mika di setiap langkah yang dia lalui. Tak perlu jadi orang pintar berhitung kalau kenyataan cartport rumah Mika lebih besar daripada rumahnya yang ada di kampung sana.
Marco lantas menatap sosok Mika dari samping, mangamati profil gadis itu seksama, 'Mika cantik dan cukup seksi. Dia kaya dan cukup royal. Sebenarnya aku cukup beruntung dia memilihku jadi pacarnya dan akan lebih beruntung lagi kalau aku bisa masuk ke dalam keluarganya. Aku memang cinta pada Thea tapi aku tidak mungkin membuang sumber uangku, kan?' sudut bibir Marco naik, senang.
"Kamu bawa siapa, Mika?" suara lembut dengan seulas senyum teduh membuat lamunan Marco terputus.
"Mika bawa pacar buat main ke rumah sekalian buat kenalan sama Ayah dan Bunda. Bunda kenalkan ini Marco." Mika mundur satu langkah, memberi ruang pada Marco untuk menjabat tangan Luna.
"Saya Marco, Tante. Pacarnya Mika." suara Marco sopan dengan senyum tipis terbit dibibir.
"Saya Luna, Bundanya Mika." Luna tersenyum lembut, "Ayo kita masuk kedalam, kita ngobrol-ngobrol sama Ayah dan kakaknya Mika sekalian makan malam." Luna menuntun tangan Marco, membawa pacar anaknya itu duduk di meja makan, bergabung bersama Alex, Damian serta Desyana yang sedari tadi menunggu kedatangan mereka.
"Maaf kami menyuguhkan hidangan seadanya untukmu." Luna menatap Marco dengan ekspresi tak enak, "Mika Lain kali kalau mau ajak pacarmu bilang dulu sama Bunda biar nanti buatkan masakan spesial untuknya." suara nyonya rumah sangat ramah penuh senyum tanpa tahu bahwa Marco sesak akibat tatapan tajam dan aura gelap yang menguar kuat dari sang kepala keluarga serta si sulung.
"Ya, Tante." angguk pemuda itu dengan senyum sungkan.
"EHEM!" deheman itu mengalun keras dan tajam saat tangan paruh baya itu mengambilkan makanan untuk Marco, "Makan yang banyak ya." meskipun sang Nyonya ramah tersenyum padanya.
"Iya, Tante. Terima kasih." Marco hendak memasukkan makanan kedalam mulutnya saat suara sang tuan rumah mengalun.
"Sudah berapa lama kau menjalin hubungan dengan anak saya?"
"Sudah 6 bulan, Uncle." jawab Marco lirih dengan kepala menunduk, tak berani menatap mata tajam dan menusuk sang tuan rumah.
"Oh ternyata masih baru." Alex menegak air putihnya dalam sekali teguk, "Saya rasa kalau kalian putus sekarang, Mika tidak akan terlalu patah hati."
"Ayah!"
"Mas!" protes Mika dan Luna bersamaan.
"Kenapa kamu bilang begitu. Kasihan Mika dan Marco-nya." bibir Luna menipis, menatap suaminya jengkel.
"Ayah mau Mika putus sama Marco?! Nggak mau! Mika sayang sama Marco, kami nggak akan putus." protes Mika dengan wajah cemberutnya.
"Ayah hanya bercanda tapi kalian berdua anggap serius ucapan Ayah." Alex lantas menatap Damian, mengamati sorot si sulung yang kini memutar matanya, malas.
"Jadi Saya dan Bundanya Mika akan pergi ke Solo, besok. Damian cukup sibuk dengan pekerjaannya, Desyana cukup sibuk dengan kuliahnya jadi Saya harap kamu bisa jaga Mika dengan baik."
"Anda bisa percayakan Mika pada saya, Om." ucap Marco dengan nada tegas, 'Sepertinya aku sudah dapat kepercayaan di keluarga ini.' Marco lantas melirik kearah Damian dan mendapati pria itu diam seribu bahasa.
'Dan kakaknya Mika yang rese' itu sepertinya sudah tak mau ikut campur lagi.'
'Apakah ini lampu hijau untukku untuk bisa masuk ke keluarga ini?' Marco menyendok makanan ke mulutnya, mengunyahnya pelan, 'Lakukan semuanya dengan smooth, Marco. Pokoknya jangan sampai ketahuan.' sudut bibir Marco tersenyum tanpa dia sadari.
Pemuda itu lantas mengangkat kepala dan bertemu mata dengan Damian.
Pemuda itu diam namun sorot gelap penuh perhitungan dan kekejaman yang siap mencabik-cabik raga itu membuat nafas Marco kembali sesak.
'b*****t! Sepertinya aku harus tetap hati-hati dengan kakaknya Mika yang satu ini.'