7.

988 Kata
"Sebel banget kalau Bunda sama Ayah di rumah." Mika menggerutu begitu mematikan sambungan ponselnya. "Kenapa?" Thea yang duduk disampingnya menatap Mika penasaran, "Bukannya enak kalau Ayah dan Bunda mereka semua kumpul di rumah. Gimana sih, durhaka banget jadi anak." "Kalau mereka di rumah, gue jadi susah keluar malemnya!" bibir Mika cemberut, "Gue kan jadi nggak bisa hangout sama Marco." "Marco pasti ngerti kok kalau Lo nggak bisa pergi." "Tapi gue yang nggak bisa. Gue pengen ketemu Marco terus." "Cowok bakalan cepet bosen kalau diintilin terus Mika." desah Thea tipis, "Kasihlah kebebasan buat Marco sebentar aja. Gue yakin kok dia nggak bakalan macem-macem." "Gitu ya?" Mika menipiskan bibirnya, berpikir cukup lama sebelum akhirnya mengangguk. "Nah gitu dong." senyum Thea lebar. "Tapi The, gue disuruh pulang sekarang jadi gue nggak bisa nganterin Lo. Gimana dong." "Gue mau gampang. Gue bisa naik Ojol." Thea hendak membuka pintu saat tangannya tiba-tiba ditarik oleh Mika. "Lo kan nggak bawa dompet." Mika membuka dompetnya, mengambil uang merah dua lembar dan memberikannya pada Thea, "Nih buat naik taksi." Thea menatap uang yang ada ditangannya, 'Nih anak bego kali ya? Kan gue bisa minta Ojol nunggu bentar buat ambil duit di dalam rumah.' "Thanks, ya." Thea langsung memasukkan uang dari Mika kedalam saku celana sebelum akhirnya gadis itu turun dari mobil Mika dan melambaikan tangan kearah mobil yang perlahan menjauh dari pandangan matanya itu. Thea mengamati jam yang melingkar di tangan sembari bermonolog, "Jam segini kayaknya Marco sudah pulang. Apa aku main ke kost-nya dia ya?" Thea menggigit bibirnya, berpikir, "Kesana aja ah, sekalian mau kasih surprise." Thea memesan Ojol dan turun di kost baru Marco dan beruntungnya Marco sudah pulang. "Beli apa saja tadi?" Tanya Marco begitu Thea naik keatas pangkuannya. "Beli Parfum sama lingerie." ucap Thea sembari memainkan rambut Marco, "Thea tuh bego banget ya, tahu gitu aku beli skincare sekalian." ucapnya dengan wajah penuh tawa. "Jangan sering-sering morotin dia, Thea, bahaya. Gimana kalau sampai kakaknya tahu dan kamu kena masalah?" "Kamu belain dia nih? Ya sih dia pacar kamu sedangkan aku cuma selingkuhan." sudut bibir Thea menipis kaku. "Tapi akukan cintanya sama kamu." Bibir Marco tersenyum, mencubit pipi Thea dengan lembut supaya gadis itu kembali tersenyum seperti tadi, "Bagiku kamu segalanya. Jauh lebih penting dari apapun termasuk Mika. Mana lingerie yang tadi kamu beli, Sini aku pengen lihat." "Bentar." Thea turun dari pangkuan Marco, gadis itu mengambil paper bag ada diatas meja dan berniat menunjukkannya pada Marco saat pemuda itu bicara. "Mending pakai aja langsung supaya aku tahu lingerie-nya cocok atau nggak buat kamu." Marco bersandar di dashboard ranjang, menatap Thea penuh atensi. "Ok." Thea berlalu ke kamar mandi dengan membawa paper bag-nya, melepas seluruh pakaian di tubuhnya dan memakai lingerie merah seperti bikini berbentuk segitiga dengan hiasan renda tipis sebagai outer-nya. Thea merapikan penampilannya, memoles lipstik merah dibibir serta membubuhkan parfum yang tadi dia beli. Thea menatap penampilannya dengan puas didepan cermin, mengagumi pahatan seksi tubuhnya sendiri sembari mengibaskan rambut lembutnya dengan sombong. "Mika memang cantik dan kaya tapi gue jauh lebih cantik dan seksi." Gadis itu keluar dari kamar mandi, menatap Marco yang langsung duduk tegak diatas ranjang begitu melihatnya. Thea menyeringai sebelum melenggokkan tubuhnya seolah dia adalah model, berpose seksi di depan Marco sembari mengigit bibir merahnya. "Plak!" Thea membelakangi Marco dan memukul bagian selatan tubuhnya dengan telapak tangannya sendiri kemudian menyeringai. "Seksi banget kamu." Marco hendak meraih Thea namun tangan gadis itu terulur, mendorong tubuh Marco hingga pemuda itu terbaring pasrah diatas ranjang. "Don't touch me!" Thea menggelengkan kepala pada Marco, "Kamu hanya boleh menikmati tanpa boleh menyentuh, Marco." Thea lantas kembali berlenggak-lenggok, berjalan seperti model Victoria's secret didepan Marco hingga membuat pemuda itu tersenyum lebar. "Hup!" setelah puas dengan aksinya, Thea lantas melompat kearah Marco dan duduk diatas perut pria itu, menari dengan gerakan nakal, menaikkan kaos hitam Marco dan membelai perut datar sang kekasih hingga membuat Marco tersenyum lebar. "Seksi banget sih. Kamu kayak model VS." Tangan Marco terulur, membelai tubuh Thea dengan gerakan menggoda, "Boleh kulepas nggak sekarang?" "Aku bilang, jangan sentuh aku. Biar aku yang bekerja, Marco." Thea menepis tangan Marco. Gadis itu lantas melepas gaun tipis yang membalut tubuhnya secara perlahan dengan gerakan menggoda. Gaun tipis mirip jala itu dibuang ke lantai, menyisakan 2 piece lingerie mini. Thea membelai ujung bagian atas lingerie-nya, menariknya turun secara perlahan hingga kain tipis itu terbang. "Argh! Marco!" Thea menjerit, tubuhnya lantas ditumbangkan begitu saja oleh Marco dan menindihnya dan pemuda itu menyerbu Thea dengan beringas. "Aku bilang..." Nafas Thea terengah saat Marco mengecupi sekujur tubuhnya dengan rasa lapar yang teramat sangat. "Kamu terlalu banyak buang waktu, The." Marco bangkit dari atas tubuh Thea, melepas seluruh kain yang membelit tubuhnya kemudian kembali menyerbu gadis itu. Memainkan buah kesukaannya dengan ujung lidah sembari memberikan tanda cinta disana. Ciuman manis Marco perlahan turun dan berhenti tepat di segitiga bermuda Thea. "Argh!" Thea menggigit bibirnya keras, manic gelapnya tertutup rapat dengan jemari meremas surai lebat Marco yang bermain dibawah sana. "ARGH!" akhirnya Marco memasukkan miliknya kedalam lembah hangat Thea, menggempur tubuh gadis itulah sembari memberikan ciuman-ciuman di wajah cantiknya. Keduanya bermain cukup lama hingga Thea kehilangan seluruh tenaganya. "Cup!" Marco mengecup puncak kepala Thea dan membawa gadis itu dalam pelukan hangatnya, "Makasih ya, Thea sayang." "Kalau begini aja bilang sayang." bibir gadis itu cemberut dan Marco kembali mengecup bibirnya, "Memang aku sayang dan cinta kamu kok." "Hm. Aku tahu." Thea lantas menaikkan kepalanya dan menatap Marco, "Gimana ya reaksi Mika kalau dia tahu lingerie yang dia beliin kupakai didepan pacarnya?" "Tentunya dia bakalan cakar-cakar kamu." kekeh Marco pelan. "Habisnya jadi cewek bego banget." "Kalau dia pinter, kita yang bakalan rugi karena kita nggak bisa morotin dia lagi." Marco mengelus surai Thea sembari memejamkan mata, "Yuk tidur, kamu pasti capek banget, kan." "Hm." Thea membalas pelukan Marco. Gadis itu hampir terbang kedalam mimpi saat suara keras mengusik pendengarannya dan pemuda disampingnya itu melepas pelukannya untuk mengangkat sumber suara. "Siapa?" "Dari Mika." Marco meminta Thea untuk tak bersuara sebelum mengangkat ponselnya. "Ya, Sayang..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN