Setelah membuatkan s**u untuk Una, Ros kembali ke dapur untuk mengecek barang belanjaan yang tadi dibeli Romi. Apalagi softex yang dipesannya benar, membuat dirinya tersenyum—membayangkan apa hal yang terjadi lalu sudah barang tentu suaminya itu merutuki sifat menyebalkan yang celakanya menempel pada jiawanya. Dari s**u Una yang penting hingga kebutuhan dapur serta sabun ditambah lagi camilan. Heum, lengkap. Untuk s**u Silmi, kali ini Ros membelikan satu kardus saja. Cukup diminum saat pagi. Lain cerita jika dengan Una, pagi sampai malam selalu s**u. "Ada yang kurang, nggak?" tiba-tiba suara Romi menyapa indera pendengarannya. "Nggak.” Ros tersenyum. "Makasih.” Romi mengangguk. Ia ikhlas. Setelah itu Ros meletakkannya ke dalam kulkas yang sekiranya memang perlu disimpan di sana. "Oh

