Suara denting sendok beradu dengan piring terdengar di ruang makan besar keluarga Kusuma. Aroma steak dan wine memenuhi udara, berpadu dengan percakapan yang terasa kaku dan dingin di antara para anggota keluarga. Karin duduk di samping Harris, berusaha menjaga sikap seanggun mungkin. Tangannya yang terlipat di pangkuan terasa aneh, sementara pikirannya melayang entah ke mana. Di seberang meja, Ny. Adelin menatapnya tanpa banyak bicara, seolah masih menilai apakah menantunya itu layak duduk di meja mereka. “Bagaimana makananmu?” tanya Harris pelan, memecah kesunyian yang sudah berlangsung terlalu lama. Karin menatapnya, lalu tersenyum samar. “Enak,” jawabnya singkat. “Bagus,” Harris menimpali singkat, lalu kembali memotong daging di piringnya. Namun dari sudut matanya, ia bisa melihat

