Sinar matahari menembus tirai kamar hotel, memantul di antara kelopak mawar yang semalam dibiarkan berhamburan di lantai. Aroma bunga mawar sudah berubah —tak lagi romantis, melainkan mengingatkan bahwa semalam lewat tanpa satu pun makna. Karin membuka mata perlahan. Kepalanya masih berat, kelopak matanya sembab karena tangis yang ia tahan hampir semalaman. Gaun pengantin sudah tergantung di kursi, sementara dirinya kini hanya mengenakan pakaian tidur yang diberikan staf hotel. Di sisi lain ruangan, tempat tidur besar itu masih rapi di satu sisi. Harris tak tidur di sana. Ia menepati kata-katanya, memilih ruang sebelah. Karin duduk, menatap cermin di depannya. Wajah di sana tampak asing —pucat, kehilangan cahaya. Seorang perempuan yang baru saja menikah, tapi matanya tak menunjukkan ke

