Langit kota sore itu tampak muram, awan-awan tebal menggantung di atas gedung-gedung tinggi seolah enggan pergi. Di luar gedung Kusuma Group, hujan baru saja berhenti. Jalanan yang basah memantulkan cahaya lampu kendaraan, menciptakan bayangan yang tampak bergetar di permukaan aspal. Karin masih duduk di kursi lobi lantai dasar, map di pangkuan, matanya kosong menatap sisa-sisa rintik hujan yang menempel di kaca besar depan gedung. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia duduk di sana —mungkin setengah jam, mungkin lebih. Ia tidak benar-benar menunggu siapa pun, tapi hatinya menolak untuk pulang. Ponselnya masih bergetar di tangan. Pesan dari Angga terus terbuka di layar: “Bisakah kita bertemu?” Karin menatap pesan itu lama. Ada jeda panjang sebelum akhirnya ia mengetik balasan. “Untuk apa

