Suara printer berdengung pelan di ruangan kerja Karin. Aroma kopi yang baru diseduh Rena memenuhi udara, memberi sedikit kehangatan di pagi yang terasa panjang. Karin menatap layar laptopnya, mencoba fokus pada laporan yang harus ia revisi untuk presentasi sore nanti. Tapi pikirannya terus kembali pada adegan di ruang kerja Harris—pada Thalia yang berdiri terlalu dekat, dan pada tatapan Harris yang entah, tidak bisa ia artikan. Ia memijat pelipis, menekan perasaan yang sejak tadi berusaha keluar ke permukaan. “Jangan bodoh, Karin,” gumamnya lirih. “Kau tahu siapa dia. Jangan biarkan dia menang.” Rena yang baru saja meletakkan tumpukan berkas di meja, menatap sahabat sekaligus atasannya itu dengan khawatir. “Mbak, kamu kelihatan pucat banget. Mau aku ambilkan vitamin?” Karin menggeleng

