Koridor kantor terasa lengang menjelang siang. Suara langkah sepatu Karin terdengar lembut di lantai gedung. Juga suara halus dari angin yang masuk dari jendela di ujung koridor. Beberapa lembar kertas ia bawa dalam map berwarna abu-abu. Ia baru saja menyerahkan laporan mingguan kepada tim administrasi ketika suara tawa yang sangat dikenalnya terdengar dari ujung lorong. Tawa itu tinggi, renyah, dan sedikit dibuat-buat. Thalia. Langkah Karin otomatis melambat. Perempuan itu sedang berjalan bersama dua staf perempuan lain, mengenakan gaun kerja marun yang pas di tubuhnya, rambutnya tergerai sempurna. Saat melihat Karin, senyumnya langsung mengembang —manis di permukaan, tapi dingin di baliknya. “Oh, aku kira aku salah lihat,” ucap Thalia ringan, suaranya cukup keras untuk menarik perh

