Bab 30. Sosok Si Baik

1132 Kata

Karin menutup pintu ruangannya dan menegakkan punggung. Napasnya masih sedikit tersengal oleh percakapan singkat itu —bukan karena lelah, melainkan karena sesuatu yang lain, yakni perhatian Harris yang tak henti-hentinya membuatnya was-was. Ia menghela napas panjang, lalu duduk kembali di kursinya. Di layar laptop, berkas-berkas menumpuk menunggu tanda tangannya. Ia mencoba menenggelamkan perasaan dengan bekerja, irama mengetik yang familiar selalu ampuh menenangkan pikirannya. Jari-jarinya menari di papan keyboard, menyusun angka-angka dan kalimat demi kalimat laporan yang harus selesai sebelum sore. Tapi di sela-sela itu, pikirannya melayang —pada kata-kata Harris tadi, pada nada suaranya yang mengingatkan akan larangan tak minum kopi lagi. Ia menahan senyum miris. Larangan kecil itu t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN