Karin menutup pintu ruangannya dan menegakkan punggung. Napasnya masih sedikit tersengal oleh percakapan singkat itu —bukan karena lelah, melainkan karena sesuatu yang lain, yakni perhatian Harris yang tak henti-hentinya membuatnya was-was. Ia menghela napas panjang, lalu duduk kembali di kursinya. Di layar laptop, berkas-berkas menumpuk menunggu tanda tangannya. Ia mencoba menenggelamkan perasaan dengan bekerja, irama mengetik yang familiar selalu ampuh menenangkan pikirannya. Jari-jarinya menari di papan keyboard, menyusun angka-angka dan kalimat demi kalimat laporan yang harus selesai sebelum sore. Tapi di sela-sela itu, pikirannya melayang —pada kata-kata Harris tadi, pada nada suaranya yang mengingatkan akan larangan tak minum kopi lagi. Ia menahan senyum miris. Larangan kecil itu t

