"Jadi bunga yang aku pesan kemarin dengan spesial dan menguras bajet, buat kamu?" Laura tampak melotot dan tidak terima.
Sedetik kemudian dahinya berkerut sampai membuat kedua alisnya hampir menyatu. "Tidak-tidak! Jangan bilang kamu istri sahnya!"
"Sayang sekali, tapi itulah fakta," jawab Maudy antara bangga, tapi dia juga malu disaat yang sama.
"Kau pasti berbohong," ucap Laura tiba-tiba berubah dan tersenyum yakin. "Kalau kau istrinya tidak mungkin bekerja jadi karyawan apalagi cuma di toko bunga. Gajinya tidak seberapa. Setidaknya kamu bekerja di firma hukum atau pengacara seperti Zein," ucap Laura meremehkan.
Maudy mengernyitkan dahinya. "Jadi suamiku pengacara, tapi kenapa dia lebih mirip seperti pelaku kejahatan?"
"Apa?! Beraninya kau mengatai Zein-ku yang manis. Dasar jal*ng, sudah ngaku-ngaku, tidak tahu mau, hidup lagi!" cibir Laura ketus.
"Lalu maksudmu aku harus mati?!" bentak Maudy tak terima. "Dasar simpanan, kau yang tidak tahu malu. Sudah tahu bajing*n itu beristri, masih saja kau dekati!"
"Sudahlah, aku muak melihatmu. Menyingkir!!" balas Laura berjalan sambil menyenggol bahu Maudy.
Maudy yang diperlakukan seperti demikian pun langsung murka. Alih-alih bersabar, dia langsung mendorong Laura sampai tersungkur. Sampai terjadilah perkelahian tak terelakkan.
Kedua tangan Laura sudah bertengger di kepala Maudy. Menjambak dan menarik rambutnya kuat, begitu juga sebaliknya. Maudy melakukan hal yang sama pada Laura.
"Enyahlah wanita tidak berguna!" geram Laura sambil mengoceh.
"Simpanan!" ucap Maudy membalas dengan mengatai.
"Gembel, tapi ngaku-ngaku!!" balas Laura tak mau kalah.
"Pelacu*r!" umpat Maudy kesal.
"Dasar jala*ng!" balas Laura dengan jengkel.
Mereka masih tetap di posisi yang sama, sampai kemudian beberapa orang menghampiri dan mengamankan mereka.
*****
"Huft ... Dy-dy! Kamu kenapa sampai kepancing kayak gitu? Sampai berantam di tempat umum lagi. Malu tahu!" ungkap Jihan yang kini bersama Maudy.
Acara bertengkar dan saling menjambaknya telah selesai di tangan warga. Mereka berdamai dan dipaksa saling memaafkan.
"Aku juga merasa begitu Jihan, aku malu. Malu bangat tadi, tapi gimana lagi, wanita itu bikin emosi. Dia nggak percaya aku istri sahnya suamiku yang brengs*k itu!" jelas Maudy sepertinya maaih sedikit kesetanan.
"Iya juga, sih. Mulut wanita simpanan itu udah kayak racun. Aku juga geram tadi, tapi aku menahan diri. Maaf ya, aku datang terlambat tadi, jadi kamu sendiri yang menahan malu," jelas Jihan.
"Hm, tidak masalah lain kali apa lain kali aku hajar dia di tempat sepi?"
"Setuju! Kita lihat apakah simpanan itu masih punya nyali!"
Jihan pun mengusap pipi Maudy yang tergores mungkin tercakar oleh kuku Laura. Dia mengoles saleb obat luka ke sana.
*****
"Apa yang terjadi padamu?" Zein mengernyit memperhatikan tatakan rambut Maudy.
Itu sudah dirapihkan, namun masih keliatan kusut dan sedikit aneh di mata Zein.
Tanpa sadar Zein mengikis jarak diantara mereka, akibat terlalu memperhatikan sesuatu di bagian pipi istrinya. Sementara itu Maudy yang tidak nyaman, hanya berusaha menjauhkan wajahnya, tanpa melangkah mundur.
"Kau habis dicakar kucing?" tanya Zein akhirnya mundur, dan membuat Maudy segera bernafas lega.
"Hah?!" bingung Maudy mendapatkan pertanyaan tersebut.
Zein langsung berdecak kesal merutuki kelemotan Maudy dalam menangkap maksud ucapannya.
"Pipimu!" beritahu Zein sambil menunjuk sebelah kanan. "Terdapat tiga garis luka, aku pikir kau habis dicakar kucing."
Maudy mengangguk paham. "Kucing garong!" ceplosnya asal.
"Pantas saja, cakarannya sudah menunjukkan siapa pelakunya, tapi kamu pasti melakukan kesalahan besar makanya dia mencakarmu," tebak Zein lagi.
"Tidak, aku tidak melakukan apapun. Aku hanya mengantar bungamu, tapi kucing garong itu mencegatku. Kamu tahu sendiri bagaimana kucing garong, dia gila dan suka menyerang tanpa alasan," jelas Maudy memikirkan Laura, tapi sepertinya Zein malah memikirkan kucing sungguhan.
"Aku tidak percaya, kau pasti melakukan kesalahan mungkin mengambil miliknya, atau membawa ikan yang dia inginkan," balas Zein tak mau kalah, tapi kali ini Maudy akhirnya mengangguk setuju.
"Ya, kucing itu menginginkanmu!" jawab Maudy terus terang.
Zein mengernyit dan akhirnya tersadar maksud istrinya.
"Sebenarnya aku tidak mau peduli soal simpananmu, tapi aku tidak akan diam dia menggangguku!" tambah Maudy sambil memperingatkan. "Satu lagi, aku juga tidak akan bertanggung jawab soal bungamu. Bunga itu rusak sebelum sampai tujuan. Jika kau mau menuntut silahkan, tapi lakukan pada simpananmu!"
Brugh!
Maudy tiba-tiba berani, dan setelah berkata demikian dia melewati Zein sambil menyenggol suaminya.
Zein masih terdiam memikirkan ucapan Maudy, sebelum dia disadarkan oleh sesuatu.
"Maudy, aku sudah membayarmu enam puluh juta untuk mengantar bunga itu!" teriak Zein tak terima dan menyusul Maudy.
Wanita itu berhenti dan berbalik sambil menatap Zein tanpa kenal takut, dan bahkan berani membalas dengan tatapan tajamnya.
"Yang kamu bayar bukan biaya pengantaran barang, tapi membayar untuk menghinaku, dan kau belum mendapatkannya!" sarkar Maudy tepat sasaran.
"Maaf, tapi aku harus mengatakan ini. Kamu juga lupa membayar proteksi kerusakan, jadi tidak ada jaminan!" lanjut Maudy sedikit mengejek.
Urat leher Zein langsung menegangkan dan wajahnya sedikit memerah.
"MAUDY!!" geram Zein marah.
Mendengar hal itu, Maudy langsung sigap kabur dengan berlari ke kamarnya. Oh, bukan kamar, maksudnya bekas gudang.
Brugh-brugh!!
"Buka pintunya wanita gila! Aku akan menyiksamu!" teriak Zein kesetanan tepat saat Maudy berhasil lolos darinya.
Blam!
"Auchhh ... sial!" umpat Zein akibat terbawa emosi.
Barusan dia meninju pintunya, tapi malah membuat tangannya sendiri menjadi sakit.
"Zein ...," panggil seseorang dengan lembut membuat Zein langsung berbalik.
Namun, dia segera merubah mimik wajahnya seratus delapan puluh derajat. Dari marah menjadi ramah.
"Mama bukannya masih sakit, sejak kapan ke sini, dan bersama siapa?" tanya Zein dalam kekagetannya.
Ternyata Utari yang datang dan melihat adegan terakhir yang terjadi antara anak dan menantunya.
"Mama sudah lebih baik, sayang. Di mana Maudy, Mama ingin ketemu sama dia Zein?" tanya Utari seolah tidak melihat apapun yang terjadi.
Dia sengaja karena tak ingin memperpanjang masalah, selain itu dia punya rencana tersendiri buat putranya itu.
"A--nu Ma ...." Zein ragu mengingat kondisi terakhir ibunya. Takut Utari syok dan sakit kembali jika sampai mengetahui kondisi hubungannya dengan Maudy, apalagi jika sampai tahu soal dia yang masih mengejar cinta Mila.
"Maudy sangat kelelahan, dia sedang beristirahat di kamar kami," jawab Zein berbohong.
"Jadi apa yang kamu lakukan di tempat ini?" tanya Utari.
"Hanya ingin mengambil barang yang tersimpan di dalam, tapi sepertinya kuncinya macet," jelas Zein berbohong dan Utari tahu kebohongannya itu.
"Yasudah, kalau begitu kamu panggil tukang besok untuk memperbaikinya," jelas Utari.
"Oh, ya. Mama belum mengatakan alasan Mama ke sini?" ulang Zein mengingatkan.
Keduanya kini berjalan ke arah ruang depan bersamaan. Utari memikirkan Maudy, setelah mendengar informasi yang dia dapatkan dari suaminya. Zein putranya sendiri sengaja mempersulit pekerjaan Maudy, dan dia ke sana sebenarnya untuk bicara dengan menantunya itu.
Naman, Utari malah dibuat kaget soal apa yang barusan terjadi.
'Apa aku belikan Maudy Stun gun, supaya Zein tidak bisa menyakitinya?' batin Utari langsung memikirkan sebuah alat kejut listrik yang bisa digunakan untuk membela diri.
"Ma, kenapa malah jadi bengong?" tanya Zein bingung.
Utari langsung geleng-geleng kepala. "Sudah sore, dan tidak baik untuk tidur. Pergi bangunkan istrimu, Mama juga mau bicara padanya."
*****