"Cari tahu di mana Maudy bekerja, dan buat wanita itu segera di pecat. Kalau perlu blacklist namanya dari perusahaan yang bekerja sama dengan Abhimayu Company!" ucap Zein tegas dan serius.
Cklek!
Pintu ruangannya di buka, dan memunculkan pria paruh baya yang tampak kecewa dengan ucapan barusan.
"Apa? Kamu mau mempermainkan menantu Papa, Zein?! Katakan dengan jelas apa maksud ucapanmu barusan ...."
Ternyata itu Hendra ayahnya. Zein langsung kaget dengan kehadiran beliau yang tiba-tiba. Bahkan spontan menutup panggilan dan mengusap tengkuknya sendiri.
"Bukan begitu, Pah. Maksudku-- aku ...." Zein langsung kebingungan kehilangan kata untuk memberi jawaban.
"Papa tahu Zein kamu tidak suka dengan Maudy, tapi dia adalah anak teman Papa. Kamu tahu om Setiawan, Nak? Dia sangat berjasa buat Papa. Salah satu ginjalnya ada di dalam tubuh ini, Son!" jelas Hendra sambil menganguk-anggukkan kepalanya.
"Tapi Pa--"
Hendra tidak membiarkan putranya memotong ucapannya. "Setelah itu, aku dan ibumu yang tidak tahu terimakasih malah melunjak dan meminta pertolongan mereka lagi. Kami paksa putri mereka agar menjadi menantu keluarga Abhimayu, tapi itupun sebagai pengganti.
Apa itu tidak kedengaran egois Zein. Maudy menikah denganmu cuma untuk menutupi malu besar keluarga kita, karena kamu ditinggal kabur oleh mempelaimu!"
Zein menghela nafas, dia masih tidak mau kalah dan mencoba sekali lagi untuk mendapatkan kesempatan bicara.
"Aku akui om Setiawan sangat berjasa buat kita, tapi Maudy tidak. Wanita itu bahkan tidak terpaksa menikah denganku. Dia justru beruntung karena menikah dengan keluarga kita!
Lagipula keluarga mereka terlalu munafik, bukankah keluarga kita juga sering membantu keluarga mereka!"
Plak!
Hendra geleng kepala, tak percaya putranya akan berkata seperti itu. "Sahabatku Setiawan tidak pernah meminta imbalan atas jasanya, dan soal bantuan yang keluarga kita berikan untuk ekonomi mereka. Aku sendiri malu mengungkit hal itu, Zein.
Keluarga mereka tidak pernah menerima banyak. Bahkan pekerjaan, sahabatku itu menolak. Dia tak mau terlalu banyak berhutang budi, padahal harusnya aku yang begitu. Aku terlalu banyak menikmati kebaikannya."
"Aku tidak bermaksud seperti itu, Pah. Aku--" Zein terdiam sejenak. Menyadari kesalahannya, namun bukan pada Maudy melainkan Setiawan ayah mertuanya.
Dia ingat seberapa tekunnya pria paruh baya itu dan juga ketulusannya. Zein bersalah karena sudah sempat menghinanya lewat ucapannya beberapa saat lau.
"Aku hanya tidak siap dengan kebersamaanku dan Maudy. Papa tahu sendiri seberapa besar aku mencintai Mila, bahkan sampai sekarang aku tidak bisa melupakannya. Itu sulit!" ucap Zein sambil menahan diri dan meremas telapak tangannya sendiri.
Hendra segera mendesah kasar, kemudian menatap putranya dengan terus terang. "Papa paham penderitaanmu, Son. Akan tetapi, Papa harap kau tidak akan menggangu Maudy setelah ini. Apalagi sampai menghambat karir juga pekerjaannya.
Papa tidak akan ikut campur soal rumah tangga kalian, tapi jangan pernah melukai Maudy! Apalagi sampai mama kamu sampai tahu. Kondisinya bisa memburuk setelah ini, jika kamu keras kepala," ungkap Hendra.
Dia terpaksa menggunakan istrinya diakhir kalimatnya, sengaja untuk lebih menekan putranya.
*****
"Saya mau bunga mawar premium tanpa duri, sebanyak dua puluh tangkai secepatnya!" ucap Laura dengan bossy.
Bugh!
Dia menaruh segepok uang pecahan lima puluh ribu, lalu dengan angkuh memasang kaca mata hitam yang segera bertengger dan menutupi kedua bola matanya.
Maudy mengerutkan dahi, sambil kemudian geleng-geleng kepala tak habis pikir. Menghitung uang, sebelum kemudian menyerahkannya pada kasir.
"Uangnya pas ...." ucap rekan kerjanya di meja kasir, sambil kemudian melirik ke arah Laura yang ada di sana.
"Mbak, mengenal wanita itu?" tanya Maudy sedikit serius.
"Tentu saja, dia pelanggan di sini. Paling banyak tingkah dan suka berlagak seperti bos. Aslinya cuma simpanan," jawab kasir itu santai.
Maudy tidak terlalu memusingkan ucapan teman kerjanya itu, dan malah lanjut melakukan pekerjaannya. Yaitu, memenuhi pesanan pelanggan.
Akan tetapi, sepulang kerja tepat baru saja sampai di rumah. Maudy segera menemukan buket mawar di atas meja yang berada di ruang tamu.
"Loh, ini bukannya bunga yang aku siapkan tadi?" bingung Maudy sambil memeriksa. Siapa tahu saja dia salah menduga.
Namun, ternyata tidak. Itu memang yang dia bungkus untuk pelanggan siang itu. Sama persis, dari gaya bungkusan, pita atau bahkan catatan kecil yang diselipkan di sana. Dugaan paling kuat, duri di bunga mawar itu sudah tersingkir habis.
"Jadi wanita tadi simpanan suamiku!" ucap Maudy kaget pada dirinya sendiri.
"Jangan sampai merusak bunga itu, jaga baik-baik," ucap Zein tiba-tiba sudah berada di belakangnya dan membuat Maudy kaget.
"Buatk--"
"Antar bunga itu pada kekasihku besok pagi, tapi jangan biarkan dia sampai tahu pengirimnya!" ungkap Zein, membuat Maudy bersukur ucapannya dipotong sebelum selesai.
Setidaknya dia tidak harus mempermalukan dirinya, karena hampir merasa bunga itu untuknya. Namun, dia juga jadi bingung. Simpanan suaminya membeli bunga, untuk suaminya, dan suaminya memberikan bunga itu pada kekasihnya.
'Ah, sudahlah. Buat apa memikirkan ini. Biarkan saja bedeb*h ini bertingkah semaunya, yang penting dia tidak menggangguku!' batin Maudy.
"Ada apa, kau keberatan melakukannya? Atau jangan-jangan kamu berpikir bunga itu untukmu?! tebak Zein sebenarnya tak salah, hanya saja Maudy juga tak terlalu berharap.
"Kenapa harus aku, kamu bisa meminta pada orang lain, ataur kurir untuk tugas itu?" tanya Maudy sambil meletakkan bunganya.
"Pertama supaya kau sedikit bermanfaat untukku, kedua supaya kau tahu diri. Kamu memang istriku, tapi bukan pemilik hatiku. Kau bisa mendapatkan ragaku, menikmati hartaku, tapi tidak dengan perasaanku!" tegas Zein serius.
'Cih, sok puitis!' Maudy membatin kesal dan langsung melirik sinis.
"Ketiga aku bisa membantumu soal uang. Aku tahu kau butuh bukan?!" tebak Zein membuat Maudy berubah serius saat itu juga.
Sial. Dia hampir lupa soal biaya ganti rugi atas masalah yang dilakukan oleh adik laki-lakinya. Hampir satu bulan dari jatuh tempo pembayaran yang sudah ditentukan.
"Lima puluh juta!" ucap Maudy tiba-tiba.
Zein sontak kaget dan menatap dengan tak percaya. "Apa?"
Nominal sebanyak itu memang tak seberapa buatnya, tapi untuk membayar jasa antar barang, Zein agak tak rela.
"Kita sepakat, aku akan mengantarkan bungamu ini, menjaganya selamat sampai tujuan, dan enam puluh juta segera transfer padaku!"
"Kau sudah gila, dan matre!" ketus Zein langsung mengatai istrinya sendiri.
"Kau sendiri yang menawarkan bantuan soal uang, sekarang malah keberatan. Apa kau sangat miskin suamiku?" pancing Maudy dengan sengaja.
Dia bahkan menaik-turunkan alisnya untuk memperlihatkan seringai mengejek. "Tidak kusangka, ternyata duit sekecil itu untuk orang kaya seperti sangat banyak. Ah, tapi tunggu dulu. Jangan-jangan kau juga miskin sama seperti aku. Kehabisan uang karena terlalu banyak pengeluaran untuk para simpananmu--"
"Sudah aku transfer. Tutup mulut busukmu sekarang!" jawab Zein secara mengejutkan.
*****