Bab 5. Memutar Fakta

1045 Kata
"Cepat buka pengawasan di dapur restoran ini!" tegas Zein terdengar bossy. Sebenarnya dia sudah pergi, setelah cukup puas membuat istrinya dipecat. Namun, kembali lagi lantaran masih belum puas dan tidak terima pelaku sebenarnya bebas begitu saja. Zein kembali, tapi selanjutnya dia tak sendiri melainkan bersama pemilik restoran tersebut dan menager restoran sebelumnya. Menager itu tampak bingung, meski akhirnya dia cuma bisa menahan rasa penasarannya tak berani bertanya. "Huft, setelah membuat karyawanku dipecat kau masih tidak puas?! Ckckck, bukankah pelakunya sudah dipecat?" "Tidak, aku tahu bukan Maudy yang melakukannya," jelas Zein membuat Arlan bertambah bingung, tapi satu yang pasti dia tahu siapa Maudy itu. "Maksudmu Maudy istrimu?" ulang Arlan mengucapkan nama yang sama untuk memastikan. "Ya, aku hanya ingin memberi perhitungan pada wanita itu, tapi sekarang giliran orang bodoh yang sudah berani menaruh kecoa dalam makananku!" tegas Zein dengan serius. "Jadi kau cuma memanfaatkan keadaan untuk membalas istrimu sendiri?!" Menager yang bersama mereka cukup kaget, apalagi beberapa waktu lalu dia membentak Maudy. Dia merasa bersalah dan sekarang takut juga. "Berhenti bicara dan cepat vperintahkan anak buahmu untuk memeriksa rekaman CCTV yang ada!" peringat Zein dengan bossy membuat Arlan langsung membuang nafasnya kasar. Namun, Arlan tetap saja patuh dan melakukannya. Menager restoran itu segera pergi dan selang waktu beberapa menit dia kembali dengan bukti rekaman juga pelaku sebenarnya. "Tolong jangan pecat saya, Pak. Saya mohon ... hiks-hiks saya terpaksa melakukan ini. Saya dendam pada Maudy. D--ia sudah menjebak saya dan menjual saya pada om-om tua. Saya ingin melaporkannya, tapi saya tidak punya bukti dan nekat melakukan cara ini untuk membalasnya," ungkap Hilda membuat semua orang kaget. "Apa maksudmu, jelaskan?!" Giliran Arlan yang mengintimidasi Hilda. Wanita itupun mengusap pipinya yang basah, dan serta tampak berusaha untuk menenangkan diri. "Hari itu saya sangat membutuhkan uang untuk biaya perawatan anak saya. Dia sedang sakit keras dan sekarang masih dalam perawatan di rumah sakit. Sa--ya kebingungan," jelas Hilda menghentikan ucapannya sembari menatap bos besarnya dan juga Zein yang menjadi korbannya. "Kemudian Maudy datang dan menawari pekerjaan tambahan. Saya awalnya tidak setuju menjadi pelayan di kelab malam, karena cukup beresiko, tapi akibat kepepet saya setuju saja apalagi tergiur dengan gaji besarnya. Hiks-hiks, siapa yang tahu kalau ternyata Maudy sekejam itu. Di--a berbohong dan membuat saya harus membayar harga yang besar. Saya merasa hina dan jijik pada diri saya sendiri. Namun, apa yang bisa saya lakukan? Bahkan bukti pun saya tidak punya. Itulah kenapa saya melakukan hal tadi. Saya khilaf, Pak. Tolong ampuni sa--ya ...." Arlan terdiam dan melirik Zein. Zein tampak tak berekspresi ataupun tersentuh dengan cerita pembelaan yang Hilda katakan. Dia seperti tak punya hati, berbeda dengan Arlan yang sudah menaruh prihatin. "Kamu mau diampuni?" tanya Zein serius. Hilda langsung menganggukkan kepalanya yakin, tapi baru saja dia terlihat lega. Tiba-tiba saja Zein menyeringai dengan aneh. "Kalau begitu makan kecoanya!" ucap Zein tak terduga. Dia mungkin tidak habis pikir dengan kelakuan Maudy, tapi Zein tak perduli. Baginya mata harus dibalas dengan mata. "Apa?!" kaget Hilda tampak syok. Itu bukan jawaban yang dia harapkan setelah ceritanya dan juga sedikit drama kesedihannya. "Aku tidak peduli dengan urusanmu, tidak peduli soal kau dan Maudy. Namun, aku sudah mencicipi kecoa menjijikkan karena ulahmu, dan kau harus membayar berlipat atas perbuatanmu!" ucap Zein sudah seperti monster tanpa hati. "Panggil anak buahmu kemari dan siapkan satu piring kecoa. Paksa wanita ini menelannya atau pecat dia jika tak mau!" jelas Zein tanpa ampunan. "Kau benar-benar gila Zein!" "Ya, itu karena kau tidak tahu rasanya kecoa menjijikkan masuk ke dalam mulutmu!" sarkas Zein. ***** Menjelang malam, Maudy dan Zein tiba di rumah bersamaan. Mereka saling melewati dan tak bicara seperti orang asing. Sibuk dengan diri mereka masing-masing. Namun, Zein segera selesai dengan kegiatannya sendiri. Sedikit kepo dengan apa yang Maudy lakukan di gudang. Zein pun ke sana, tapi sebelum sampai, dia justru menemukan Maudy di tepi kolam renang. Wanita itu tampak asik, dan sepertinya bicara dengan seseorang di telepon. Zein pun penasaran dengan yang dibicarakan Maudy dan mendekat untuk mencuri dengar. "Terimakasih, Jihan. Aku tak tahu gimana lagi, ... andai saja tidak ada kamu mungkin masalahku soal dipecat masih berkepanjangan. Tapi aku memang beruntung mempunyai sahabat sepertimu. Kamu bisa diandalkan dan walaupun besok tidak bekerja di restoran, aku tetap tidak harus jadi pengangguran," ucap Maudy sambil tersenyum senang. Mendengar percakapan itu, Zein langsung mengepalkan tangannya erat. Dia kesal dengan nasib baik istrinya, karena merasa sia-sia sudah membuatnya dipecat. "Sial! Kenapa wanita itu sangat beruntung. Hari ini dia baru saja dipecat, tapi kenapa malam ini dia langsung mendapatkan pekerjaan baru? Brengs*k! Aku tidak akan membiarkannya bahagia. Pokoknya aku akan membuatnya menyesal sudah menjadi istriku ... aku akan menyiksamu Maudy. Akan kupastikan kau selalu menderita!" ucap Zein begitu yakin. Dia sudah di dapur dan segera meneguk minum dengan kasar, tak lupa meletakkan gelasnya kembali dengan sama kasarnya. Zein memijat ringan kepalanya yang tiba-tiba pusing, kemudiannya memikirkan rencana berikutnya. Sampai tiba pada jam makan malam, Maudy bergabung di sana dengan sedikit sungkan. Namun, dia memberanikan diri, sebab hampir seharian dia belum makan. Setelah dipecat siang itu, dia langsung mencari pekerjaan baru. Bertanya lowongan pada kenalannya, sebelum kemudian Jihan memberinya angin segar. Itulah kenapa dia tak ingat makan seharian dan sekarang merasa kelaparan. "Jangan duduk di kursi itu, kamu bisa mengotorinya!" ucap Zein tanpa meliriknya sama sekali. Maudy mengerutkan dahi dan segera merasa bingung. "Tapi kenapa, aku duduk di mana jika bukan sini? " tanya Maudy polos. Zein menyeringai dan segera menoleh, menatap istrinya itu. "Aku lupa soal peraturan menjadi istriku. Bukankah kau sangat tergila-gila dengan posisi itu, maka baiklah. Biar ku katakan beberapa peraturan, tapi sebelum itu, pahamilah satu hal ini terlebih dahulu!" "Maksudmu?" tanya Maudy masih dalam kebingungannya. "Jangan pernah duduk di kursi ini, atau menggunakan perabotan rumah lainnya selain sampah di gudang. Aku tidak suka barang-barangku tercemar oleh jal*ng sepertimu" jelas Zein dengan sengaja merendahkan Maudy. Begitu menyaksikan penderitaan diwajah istrinya, Zein tampak puas dan tersenyum aneh. Sementara itu, Maudy setelah mendengar ucapan Zein, langsung berbalik pergi, tapi pria itu segera menahannya. "Aku tidak melarangmu makan, ibuku bisa marah dan kesehatannya bertambah buruk, jika sampai kau sakit karena tidak makan. Jadi silahkan saja ...." "Makan apapun yang ingin kau makan, sebagai suamimu aku bertanggung jawab untuk itu, tapi duduklah di lantai. Wanita memuakkan sepertimu cocok di sana! Supaya kau sadar siapa dan apa posisimu yang sebenarnya!" lanjut Zein tersenyum puas. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN