Bersedih

1078 Kata
"Kenapa kenapa kamu tiba-tiba nangis seperti ini?" Tanya Ati dengan memeluk keponakannya begitu erat, Bahkan dia mengusap lembut punggung Akmal dengan penuh kasih sayang. Orang yang ditanya tidak langsung menjawab, Dia tersedu sedan menangis di pundak bibinya, mencurahkan segala rasa pilu yang beberapa hari terakhir sesak memenuhi d**a. melihat kenyataan yang begitu memprihatinkan Ati pun tidak meneruskan pertanyaan dia mengajak Akmal untuk masuk ke dalam rumah. Setelah mendudukkan keponakannya Ati pergi ke dapur untuk mengambil air putih kemudian diberikan kepada Akmal supaya lebih tenang, sambil memindahkan beberapa kue yang di bawah ke atas piring bahkan dengan santainya Dia memotong kue itu menjadi beberapa bagian kecil, memberikan waktu untuk anak angkatnya menenangkan diri. "Makan kuenya supaya kamu lebih tenang, karena menurut buku yang aku baca coklat bisa memberikan relaksasi tersendiri kepada orang yang sedang menghadapi masalah." tawar Ati sambil memberikan potongan kue kepada orang yang berkunjung ke ke rumah. Akmal yang sudah tidak memiliki jalan keluar dari masalah yang dihadapi, dia pun mengambil potongan brownies yang diberikan, kemudian melahapnya dengan perlahan sambil menyeka air mata yang membasahi pipi, seperti anak kecil yang ditinggalkan bekerja oleh bapaknya. meski Akmal seorang pria namun kesedihan yang begitu mendalam tidak menyurutkannya untuk menangis, apalagi dia sedang berada di depan orang yang tepat orang yang sangat menyayangi dirinya. "Kenapa kamu tiba-tiba menangis?" Tanya Ati setelah melihat Akmal semakin tenang. "Aku putus Bi." jawabnya singkat sambil menghela nafas yang dalam. "Kok bisa putus, padahal kalian mau melangsungkan pernikahan bulan depan. Apa jangan-jangan kamu tidak menuruti perkataan Bibi yang harus lebih sabar ketika menghadapi seorang perempuan." ujar Ati yang tidak langsung menyalahkan orang lain, sebagai orang tua yang bijaksana menyelidiki akar permasalahannya terlebih dahulu. "Aku sudah menuruti semua perkataan Bibi, namun wanitanya saja yang keras kepala dan egois." "Coba tolong ceritakan Bagaimana kamu bisa putus dengannya!" "Ketika kemarin sepulang dari kampung aku menemuinya untuk melamar namun wanita itu menolak tanpa alasan yang jelas bahkan dia mengusirku untuk pergi jauh dari kehidupannya." jawab Akmal yang tidak berani jujur dengan apa yang sudah ia lakukan, karena sudah bisa dipastikan ia akan kena marah bahkan mungkin bisa jadi Boomerang dalam kehidupan kedepannya soalnya Akmal sudah membunuh orang lain. "Semua itu terjadi pasti ada alasan, dan Apa alasannya tidak mau menikah denganmu?" "Dia tidak memberikan jawaban, dia hanya menyuruhku agar aku tidak menemuinya kembali." "Kok aneh, Coba tolong kamu ingat-ingat Apa kesalahan yang sudah kamu perbuat, sehingga dia berbicara seperti itu?" tanya Ati yang tidak paham dengan apa yang menimpa keponakannya. Akmal pun terdiam seolah merenungkan apa yang sudah dia lakukan terhadap, namun sejak dari awal Akmal tidak memiliki kesalahan, hanya saja dia yang bodoh yang dimanfaatkan oleh orang lain. "Tidak ada Bi, Akmal tidak melakukan kesalahan." "Kalau begitu, kamu kurang pintar meyakinkan wanita itu untuk diajak menikah." "Akmal sudah berusaha semaksimal mungkin untuk meyakinkan, bahkan Akmal baru mengenal dia beberapa minggu yang lalu Akmal tidak mau membuang waktu, sehingga Akmal pun dengan cepat melamarnya." Mendengar penjelasan dari keponakannya sekarang giliran Ati yang terdiam, merasa bingung dengan masalah yang sedang dihadapi oleh anak angkatnya. "Coba kalau mau temui lagi wanita itu dan kamu berbicara dengan pelan supaya bisa sampai menyentuh hatinya. Kamu yakinkan dia bahwa kamu benar-benar menginginkannya." "Sudah terlambat Bi, dia sudah menutup semua jalanku untuk mendekatinya." Ati hanya menarik nafas dalam karena dia sangat tahu bagaimana Akmal menceritakan tentang ketertarikan wanita yang sedang didekati oleh keponakannya, soalnya hampir setiap malam Akmal selalu memuji dan bercerita tentang Shakila yang sangat mengaguminya. "Terus apa yang akab kamu lakukan sekarang?" akhirnya Ati pun bertanya kembali. "Nggak tahu Bi, makanya aku datang ke sini untuk menenangkan diri sambil mencari solusi dari masalah yang sedang dihadapi." "Menurut saran bibi, kalau kamu benar-benar mencintainya maka penolakan seperti itu bukan dijadikan alasan untuk menyerah, tapi harus dijadikan cambuk yang akan memacu semangat agar kamu berhasil mendapatkan cintanya. karena kamu adalah laki-laki yang harus berjuang lebih daripada seorang perempuan, kamu datangi dia kembali yakinkan kalau kamu benar-benar Mencintainya " "Ya Bi, Akmal akan coba sekali lagi." Mereka berdua pun terus melanjutkan obrolan dengan nasehat-nasehat yang diberikan. menguatkan Akmal yang sedang ditimpa masalah yang begitu besar. Akmal Sudah lama tidak mendapatkan perasaan cinta namun ketika dia merasakan harus Kandas secepat kilat, bahkan menjadi korban penipuan. Ati yang sudah tahu dengan sikap Akmal dia terus memberikan motivasi agar Akmal bisa melanjutkan kehidupan, walaupun kegagalan sering ia temui, jangan sampai kegagalan itu menjadi penghalang untuk terus berkembang. Malam itu Akmal pun menginap di rumah bibinya untuk tidak terus memikirkan Shakila dan Rinto yang sudah menghancurkan kehidupan, sambil terus mencari cara supaya Shakila mau meminta maaf terhadapnya dan kalaupun tidak dia bisa membalaskan rasa sakit yang sedang ia Derita. ~ Keesokan paginya, siang itu setelah waktu istirahat tiba Akmal keluar dari klinik kemudian berjalan menggunakan mobil menuju restoran Farm in the country, restoran yang sudah pindah kepemilikan kepada istri pemiliknya. Sesampainya di sana, suasana mewah dan elegan pun mulai tercium ruangan yang didekorasi bergaya klasik menambah ke eksotisannya, lampu yang redup ditambah dengan kursi-kursi terbuat dari kayu jati, menjadi pelengkap sebagai restoran yang mengusung gaya klasik. Akmal memindai keadaan sekitar yang nampak ramai namun tidak bising seperti di cafe. orang-orang terlihat sangat menikmati hidangannya dan berbicara pun sangat sopan tidak mengganggu ketenangan orang lain. mata itu berhenti ketika melihat seorang wanita cantik dengan rambut yang tergerai sedang Sibuk mengatur para pegawai, Bahkan dia tidak senggan turun tangan ketika ada pelanggan yang tidak tertangani. Akmal memilih salah satu kursi yang berada tepat menghadap ke arah wanita yang sudah menyakitinya, sehingga membuat wanita itu tersadar bahwa dirinya sedang dipantau, dan dia pun mulai melipatkan tangan menyandarkan punggungnya ke dinding membalas tatapan Akmal dengan lebih tajam, menunjukkan bahwa dirinya tidak sedikitpun dipenuhi ketakutan. Seorang waiter terlihat mendekat ke arah Akmal untuk mencatat pesanan yang akan di pesan. Akmal pun meminta. "Cappucino es krim." jawab Akmal yang sudah mengetahui menu-menu yang dijual di restoran frame in the country, soalnya dulu dia sering berkunjung ke tempat itu ketika bertemu dengan wanita dari kencan online. matanya tetap menatap ke arah Shakila seolah ingin menerkam bulat-bulat. Wanita yang menatap tajam sekarang mulai merubah raut wajahnya menjadi tersenyum sinis, menghina atas kebodohan Akmal yang sudah berhasil dimanfaatkannya. namun Akmal tetap dengan wajah datar mungkin kalau bisa dia akan menahan untuk tidak berkedip. Tak lama akhirnya pesanannya pun datang dengan segera Akmal pun meminum cappuccino es krim itu sampai habis sambil tetap menatap wajah Shakila, seolah membayangkan bahwa minuman yang sedang diminum adalah darah yang keluar dari wanita yang sudah menipunya. "Lagi!" Pinta Akmal kepada waiter yang mau pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN