"Maksudnya pak?" tanya waiter yang sedikit keheranan, apalagi ketika dia melihat Akmal menghabiskan satu gelas cappucino ice cream dengan satu kali teguhkan.
"Minumannya satu gelas lagi!!" jawabnya masih dengan wajah yang sangat datar.
Maski sedikit dipenuhi dengan keraguan, sang waiter pun mengangguk kemudian dia kembali untuk membuatkan pesanan pelanggannya. Shakila yang dari tadi memperhatikan dia pun merasa heran kenapa Akmal bisa minum sampai segitu banyaknya, namun dia belum bertindak sedikitpun dia masih memantau apa yang akan dilakukan pria introvert itu.
Tak lama diantaranya pesanan yang diminta pun datang kembali, dengan segera Akmal pun meneguknya sampai habis. matanya tetap menatap ke arah Shakila yang mulai merasa risih dengan perilaku yang sangat aneh yang ditunjukkan oleh mantan kekasih yang berhasil diperdaya.
"Lagi!" pinta Akmal sambil menaruh gelasnya di meja.
"Minumannya lagi Pak?" Jawab waiter seolah tidak percaya dengan permintaan pelanggannya.
Akmal tidak menjawab Dia hanya menatap ke arah Shakila seolah ingin puas memandang. membuat Shakila merasa semakin risih hingga akhirnya dia pun memanggil Rinto.
" Ada apa sayang?" tanya Rinto yang sedang disibukkan membuat pesanan para pengunjung yang datang ke restoran, soalnya dia sudah mulai bekerja menjadi barista from in the country.
"Kamu ke sini dulu sebentar." pinta Shakila yang masih tetap membalas tatapan Akmal.
Rinto mencuci tangan kemudian dia mendekat ke arah Shakila dengan wajah penasaran, karena tidak seperti biasa Shakila terlihat seperti sangat ketakutan.
"Lihat dokter bodoh itu! sejak dari tadi memperhatikanku, bahkan dia meneguk habis minuman satu gelas, seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya sedang mengancam kita."
"Sudah aku jelaskan dari kemarin. kita harus secepatnya menyingkirkan orang itu. agar tidak mengganggu ketenangan kita."
"Yah Nampaknya kita harus segera membereskannya dengan Mengantar ke penjara supaya kita bisa tenang."
"Makanya jangan membuang waktu, secepatnya kita harus menyingkirkan pria bodoh itu.
"Baiklah nanti setelah merenovasi restoran, kita laporkan kejahatannya ke pihak yang berwajib."
"Sebaiknya kamu Jangan menganggap remeh orang itu, lihat saja tatapannya yang begitu tajam, seolah tidak ada ketakutan dalam dirinya. ancaman yang kemarin kita berikan tidak sedikitpun membuat dirinya terlihat gentar bahkan dengan beraninya dia mendatangi restoran Kita."
:Terus apa yang harus kita lakukan?" tanya Shakila yang masih tetap sesekali melirik ke arah Akmal.
"Biarkan saja. kalau dia tidak berbuat macam-macam kita tidak usah meladeninya. nanti Citra restoran Kita akan menjadi buruk di mata para pengunjung lainnya." saran Rinto yang terlihat masih Tetap tenang. karena kalau sampai harus beradu fisik Dia sangat jauh berada di atas angin.
Pesanan minuman ketiga pun datang diantarkan kepada Akmal, dengan wajah yang sangat datar dan dingin dia mulai mengambil gelas yang diisi oleh minuman cappucino ice cream, kemudian meneguknya sambil menatap lekat ke arah Rinto dan Shakila. yang tetap memperhatikannya. membuat Rinto merasa tersinggung sehingga dia pun sudah tidak bisa tenang lagi. karena Akmal seperti sedang menyalakan kobaran api peperangan.
"Kurang ajar memang benar-benar ngelunjak. pria bodoh ini tidak bisa dibiarkan untuk hidup." gumam Rinto yang terlihat hendak berjalan menuju ke arah Akmal namun secepat kilat menghentikannya.
"Bagaimana sih katanya tidak boleh membuat keributan, nanti citra baik ke restoran Kita akan hancur gara-gara meladeni pria bodoh itu. sudah kita lihat saja apa yang akan dia lakukan selanjutnya?" tahan Shakila mengingatkan kekasihnya, meski dia merasa kurang nyaman di Tatap seperti itu, namun dia tidak bisa berbuat banyak karena sedang berada di depan publik.
Rinto menarik nafas dalam mengendalikan emosi yang mulai tersulut oleh Akmal. meski dia tidak melontarkan kata-kata, namun Tatapan yang sangat menyebalkan membuat dirinya merasa tidak nyaman dan merasa direndahkan oleh pria yang dianggapnya sangat bodoh.
Setelah menghabiskan minumannya Akmal pun menyimpan kembali gelas di atas meja, kemudian mengangkat tangan karena waiter yang tadi mengantarkan sudah pergi untuk melayani pelanggan lainnya. sampai akhirnya datang salah satu waiter yang lain.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanyanya dengan manggut memberi hormat.
"Cappucino es krimnya satu lagi!" pinta Akmal tanpa melepaskan tatapan.
Pelayan yang baru pun mengangguk memberi hormat, kemudian dia membawa gelas kosong untuk dicuci sambil menyampaikan pesanan pelanggannya.
Tak lama diantaranya pesanan minuman keempat pun datang, Akmal melakukan hal yang sama, meneguknya sampai habis sambil menatap lekat ke arah Rinto seolah dia bertanya kenapa mereka berdua sangat tega kepada dirinya, padahal Akmal tidak pernah melakukan kesalahan kepada orang lain.
Rinto yang sudah terpancing emosinya dengan elegan dia pun membalas tatapan itu, dia berjalan ke belakang Shakila. kemudian ia menyingkirkan rambut yang menghalangi leher, tanpa ada sedikitpun rasa malu Rinto mulai mencium leher kekasihnya dengan begitu mesra, seolah menyalakan api amarah orang yang sedang menatapnya, Karena orang itu hanya dimanfaatkan tanpa bisa menikmati hasilnya. Namun sayang orang yang dipancing tidak sedikitpun tertarik, dia hanya tidak melepaskan tatapan sambil kembali memesan minuman cappucino es krim untuk yang kelima kalinya, meski waiter merasa aneh dengan sikap pelanggannya namun dia yang dituntut melayani sepenuh hati tidak berani bertanya.
Melihat wajah Akmal yang tak sedikitpun terpancing, Shakila pun mulai memejamkan mata sambil mendongakkan kepala disandarkan tidak ada Rinto yang begitu bidang, memberikan keleluasaan bagi kekasihnya untuk menikmati leher jenjang, yang sangat wangi dan harum. Bahkan dia terlihat mendesah seolah sangat menikmati perlakuan itu di hadapan orang yang sudah ia kecewakan.
Mereka berdua seolah tidak memiliki rasa malu memamerkan kemesraan di hadapan khalayak ramai, padahal kelakuan seperti itu adalah hal yang tabu di Negara yang menjunjung tinggi moral. namun mereka seolah tidak memperdulikan, seolah ingin menertawakan kebodohan Akmal yang sudah ditipu olehnya. Namun sayang Akmal masih tetap dengan wajah yang sama sedikitpun menunjukkan perubahan dia tetap menatap dengan wajah dingin sorot mata penuh kebencian.
Merasa perlakuan mereka tidak membuahkan hasil, Rinto pun menghentikan aktivitasnya, kemudian dia mendekat ke arah waiter yang hendak mengantarkan gelas minuman kepada Akmal.
"Biarkan aku yang mengantar, kamu layani pelanggan yang lain." pinta Rinto sambil mengambil nampan yang berisi cappucino ice cream.
Pria yang berbadan tinggi dengan otot lengan yang sangat besar, berjalan mendekat ke arah pelanggan yang sangat aneh. setelah sampai di hadapannya, tanpa memiliki rasa hormat dia meludahi Minuman itu sebelum diberikan.
"Kayaknya minumanmu harus dicampur ludahku, agar otakmu bisa sedikit encer. tidak bodoh dan tidak mudah dimanfaatkan." hujan Rinto dengan nada yang sangat merendahkan.
Akmal tidak menjawab, Dia hanya memperhatikan pria yang sedang menaruh gelas di hadapannya jelas yang berisi Cappucino es krim yang sudah diludahi.
"Yah benar, kamu harus sering-sering bergaul dengan orang pintar agar kamu tidak bodoh seperti itu." Timpal Shakila dengan senyum sinis yang selalu Terukir di sudut bibirnya.
"Kenapa kamu malah diam? Ayo minum itu rasanya sangat enak, lebih enak dari minuman yang pernah kamu minum!" seru Rinto sambil melipatkan tangan di depan dadanya wajahnya terlihat sangat tengil dan menyebalkan.
"Ayo minum dokter gigi yang bodoh! Apakah kamu ingin merasakan ludahku juga?"
Akmal tidak menjawab namun matanya saja yang berbicara terus menatap ke arah kedua orang yang sudah menghancurkan kehidupannya, seolah ingin menembus hati masing-masing ingin mengetahui sebenarnya mereka itu manusia ataukah iblis yang sedang menyamar.