Hanya kata Maaf

1182 Kata
"Buruan minum atau kamu mau aku injak lagi kepalanya seperti beberapa hari yang lalu?" ancam Rinto yang masih tetap melipatkan tangan di dekat dadanya. Masih dengan wajah yang sangat dingin namun tatapannya begitu tajam mengandung kebencian, Akmal mengambil gelas yang diberikan, kemudian meneguknya sambil tersenyum seolah tidak merasa jijik dengan ludah Rinto yang sudah tercampur di dalam Cappucino es krim, Bahkan dia terlihat sangat menikmatinya. "Dengan meminum air ludahku Semoga saja kamu menjadi orang pintar, tidak bodoh seperti kemarin." cibir Rinto dengan wajah penuh kemenangan. Akmal tetap tidak menjawab, dia hanya meletakkan gelas yang sudah habis diminum, matanya tetap menatap ke arah kedua orang yang masih berdiri menghadapnya seolah tidak ada ketakutan sedikitpun dari wajahnya. "Cappucino es krimnya satu lagi!" hanya kata itu yang keluar dari mulut pria introvert yang belum diketahui keinginannya Seperti apa, karena Akmal dari tadi dia tidak berbicara. "Apa? kamu meminta minum lagi, Kamu memang benar-benar bodoh dan sangat bodoh. kalau kamu merasa kesal dengan kami Berbicaralah jangan seperti orang yang tidak memiliki akal, yang hanya bisa menyakiti dirinya sendiri." Pria introvert itu kembali ke mode awal dia hanya menatap lekat ke arah kedua orang yang mulai merasa tidak nyaman mendapat tatapan seperti itu, sehingga amarah Rinto mulai terpancing kembali. "Sekarang kamu pergilah!" Usir Shakila dengan suara pelan Dia tidak ingin terbawa suasana. "Bukankah kalian menginginkan restoran ini, kalau kalian menginginkan maka kalian harus melayani pelanggannya dengan baik, bukan malah mengusirnya." jawab Akmal mulai membalas serangan mereka. Rnto yang sudah tidak kuat menahan emosi dengan segera dia pun menarik Akmal untuk berdiri, kemudian menyeretnya ke salah satu ruangan yang berada di restoran itu. Akmal tidak memberikan perlawanan seolah tidak takut dengan apa yang akan mereka lakukan. Sesampainya di salah satu ruangan, terlihat ada satu buah meja besar dan kursi yang bisa berputar, mungkin itu adalah ruangan kerja petinggi restoran Fram in the country, melihat dari dinding yang dihiasi oleh penghargaan-penghargaan yang dicapai. Rinto menundukkan tubuh Akmal di salah satu kursi dihadapkan kepada dirinya dan Shakila yang mengikuti. mereka menatap tajam menebar ancaman namun Akmal seolah acuh tidak peduli dengan kemarahan mereka. "Dibiarkan kamu semakin melunjak. Apa kamu mau ini?" bentak Rinto yang sudah merasa bebas dari pantauan orang-orang, tanpa ada rasa Belas Kasihan dia pun melayangkan satu tamparan ke arah wajah Akmal. Brugk! Tubuh pria yang sangat lembek itu jatuh ke lantai, akibat kerasnya tamparan yang dilayangkan. namun dia sedikitpun tidak menunjukkan rasa kesakitan dia hanya menggerakkan rahangnya seolah masih menginginkan tamparan selanjutnya. "Sekarang kamu pergi dan jangan menampakan lagi di hadapanku, karena kalau itu terjadi Aku tidak akan senggan senggan menjebloskanmu ke penjara, supaya kamu bisa menemukan pasangan sejati di sana." teriak Rinto sambil mendekatkan layar handphonen yang menunjukkan beberapa foto Akmal yang sedang berada di sekitaran rumah Shakila. Mendengar ancaman seperti itu, Akmal hanya mengangkat sudut bibirnya sedikit seolah tidak merasa gentar sedikitpun dengan ancaman yang diberikan,karena kalaupun dia akan dimasukkan ke dalam penjara pasti mereka juga akan ikut terbawa. "Memang benar-benar psikopat kamu!" bentak Rinto sambil mengangkat tangannya kembali hendak melayangkan tamparan yang kedua kali, namun dengan cepat Shakila pun menghentikan. "Sudah orang bodoh seperti ini tidak akan mengerti dengan pembicaraan yang kita sampaikan." "Ini semua gara-gara kamu yang tidak mau menuruti keinginanku. Coba kalau kemarin kemarin dia sudah dimasukkan ke penjara, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini." Gerutu Rinto yang menyalahkan kekasihnya. "Sudah kamu diam aja, jangan ikut berbicara!" jawab Shakila sambil menarik tubuh Rinto agar menjauh dari Akmal. wanita cantik dan tinggi itu menghadap ke arah pria introvert, matanya terus menatap lekat ke arah Wajah orang yang sempat menjadi kekasihku seolah ingin mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan. "Pak Dokter Akmal Sanjaya. Aku sudah memberikan keleluasaan untuk hidup bebas kepadamu, Tapi kenapa kamu memilih jalan hidup yang rumit. Sepertinya kamu benar-benar menginginkan membusuk di dalam penjara?" "Tidak, aku tidak menginginkan itu." "Kalau begitu Pergilah dengan baik-baik urusan kita sudah impas. Aku sudah memberikan sedikit tubuhku untuk kamu Nikmati dan kamu juga sudah memberikanku sebuah restoran yang begitu mewah. sekarang kita jalani hidup masing-masing tidak boleh saling mengganggu, kamu boleh mencari wanita yang lain yang benar-benar tulus mencintaimu, karena melihat dari kebaikanmu aku yakin banyak wanita di luar sana yang menginginkan kehadiran sosok pria sejati sepertimu." jelas Shakila dengan lemah lembut mencoba merayu Akmal agar pergi jauh dari kehidupannya. "Aku tidak akan pergi, sebelum kamu meminta maaf?" Hahaha! Suara tawa pun menggema memenuhi seluruh ruangan, seperti mendengar perkataan yang sangat lucu dari seorang pelawak. "Apa....? meminta maaf. memang benar-benar kamu ini dokter gigi yang sangat bodoh, yang tidak pernah mengerti apa itu belas kasihan. kamu sudah aku kasihani, kamu sudah aku maafkan. Bahkan aku biarkan kamu memilih kehidupan selanjutnya, tapi kamu menginginkan hal yang Tidak sepantasnya kamu dapatkan. Lagian kenapa aku harus minta maaf Memangnya Apa salahku?" "Kamu sudah menipuku, memanfaatkanku." "Itu bukan kesalahanku, Tapi itu kesalahanmu yang menjadi pria bodoh dan mudah dibodohi oleh orang lain. Jadi pria itu harus cerdik. gelar saja dokter tapi otak tidak dipakai." "Tolonglah meminta maaf kepadaku walau hanya sekali." Cuih! Saliva Shakila menyembur memenuhi wajah, namun dengan santainya Akmal mengelap ludah itu dengan jari tangan kemudian menjilatnya seperti sangat menikmati, tidak ada sedikitpun rasa jijik terlintas diraut wajahnya. Rinto yang sejak dari tadi memperhatikan dia pun sudah tidak bisa berdiam diri lagi, dia menarik tubuh Shakila kemudian melancarkan satu pukulan tepat di wajah. Bugh! Suaranya begitu nyaring membuat Akmal kembali terjungkal ke belakang, namun dengan santainya dia pun bangkit kembali meski dari hidung ada darah yang menetes. "Kamu menginginkan permintaan maaf? itu adalah hal yang konyol yang kamu minta. karena Shakila tidak bersalah Kamulah yang bodoh yang mau diperalat oleh orang lain, Harusnya kamu sadar diri kalau kamu itu pria yang sangat aneh dan tidak mungkin wanita secantik dirinya mencintai dirimu yang sangat lembek dan menjijikkan." bentak Rinto dengan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Akmal. Pria introvert itu kembali ke mode asal, dia hanya terdiam sambil membagi tatap kembali ke arah kedua orang yang sedang menganiayanya, seolah belum puas dengan rasa sakit yang diberikan. "Pak Dokter Akmal Sanjaya, yang sangat bodoh dan sangat aneh sampai mati pun aku tidak akan pernah meminta maaf kepadamu, kalau kamu menginginkan permintaan maaf mintalah sama orang lain karena aku tidak bersalah." Setelah merasa mereka tidak ada perubahan sedikitpun, Akmal merogoh kantong kemejanya kemudian mengeluarkan uang sesuai minuman yang tadi ia habiskan, lalu menaruhnya di atas meja sambil melempar senyuman yang sangat aneh dia pun pergi tanpa berpamitan. "Kita tidak bisa menganggap remeh dokter aneh itu, secepatnya Kita harus melakukan tindakan ujar Rinto yang merasa kesal dengan kekasihnya." "Biarkan saja karena aku yakin dia tidak akan berani lagi menginjakkan kaki untuk menemui kita, soalnya aku memilikimu yang sangat Sigap melindungi." Jawab Shakila masih belum sadar. "Kenapa kamu tidak mau melaporkannya, apa jangan-jangan kamu sudah menaruh hati kepada pria aneh itu?" tanya Rinto dengan penuh selidik. "Kalau ngomong jangan asal nguap. walaupun di dunia ini hanya tersisa satu pria dan itu adalah Akmal, maka aku tidak akan pernah mau berhubungan dengannya. aku membiarkannya Bukan aku tidak mau melaporkan dia, aku hanya memberikan sedikit waktu untuk bisa menghirup udara Bebas, Karena setelah selesai semua urusanku di restoran ini, maka akulah yang akan menjebloskannya ke penjara."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN