Akmal keluar dari ruangan itu, melewati kursi-kursi restoran yang terlihat masih ramai diduduki oleh para pengunjung, Mereka terlihat nampak Santai dengan berbincang hangat bersama keluarga ataupun rekan bisnis, meski suasana di luar sangat panas berbeda dengan suasana berada di dalam restoran yang sangat sejuk dengan nuansa klasik yang begitu menenangkan.
Akmal mengambil sebuah tisu dari salah satu meja yang ia lewati untuk mengusap darah yang masih berada di atas bibirnya, tak ada sedikitpun raut penyesalan dengan apa yang sudah ia terima, seolah sedang menikmati apa yang dikerjakan oleh Rinto dan Shakila.
"Desi tolong Atur ulang jadwalku hari ini pindahkan ke hari esok, karena aku ada kepentingan mendadak." pinta Akmal kepada asisten yang menjaga kliniknya.
Setelah menarik nafas yang sangat dalam kemudian menghempaskan begitu pelan, Akmal pun mulai menyalakan mobilnya untum pergi meninggalkan parkiran dengan membawa hati yang sudah bulat bahwa dirinya akan meladeni permainan mereka.
"Oke kalau itu yang kalian inginkan, aku akan berikan pelayanan terbaik, meski kalian selalu memanggilku dengan sebutan bodoh, tapi nilai akademisku lebih tinggi daripada kalian yang hanya mampu mewujudkan sebuah perusahaan hasil merebut dari orang lain. itu adalah pekerjaan orang yang sangat licik yang mau kesuksesan tanpa bekerja keras. awas kalian akan merasakan apa yang sudah aku rasakan sekarang." gumam Akmal yang kembali mengukir senyum yang belum bisa diartikan entah apa yang sebenarnya terjadi, Mungkinkah dirinya sekarang sudah menemukan cara untuk mengobati rasa pilu yang ia Derita.
Akmal terus melajukan mobilnya menuju ke salah satu pantai yang berada di ujung Utara Kota Jakarta, menikmati suasana siang yang tidak terlalu Begitu terik karena masih berada di musim penghujan, namun beberapa hari terakhir hujan itu tidak terlihat turun.
Setibanya di salah satu pantai, Akmal pun duduk di sebuah tanggul yang sangat besar. matanya memandang ke arah hamparan air yang berwarna biru, deburan ombak terdengar begitu bergemuruh, burung-burung Camar sesekali terdengar ketika melintasi diatas, matanya ditutup seolah sedang meresapi kekuatan alam yang berada di sekitar.
"Aku tidak akan ragu-ragu lagi untuk menyadarkan kalian berdua, supaya tidak ada korban lagi ke depannya. aku akan membuat kehidupan kalian berada di Titik terendah di mana kalian tidak akan bisa merasa sombong lagi. karena Manusia itu memiliki keterbatasan dan orang yang disakiti memiliki akal sehat, yang kalau digunakan akan lebih menyakiti orang lain." gumam Akmal sambil tetap memajamkan mata mengambil saripati keadaan alam yang nampak begitu sejuk.
"Beli balonnya Kak!" tiba-tiba terdengar suara anak kecil yang menawarkan jualannya.
Mata Akmal yang tertutup perlahan terbuka kemudian menetap ke arah datangnya suara, terlihatlah dua orang anak yang sedang memegangi balon dengan berbagai macam bentuk hewan.
"Yah Kak, Siapa tahu saja untuk oleh-oleh anak Kakak di rumah?" tawar yang satunya lagi dengan penuh keceriaan.
Akmal pun turun dari tanggul, kemudian dia berjongkok Lalu menatap kedua bocah yang keadaannya sangat memprihatinkan, baju yang lusuh ditambah wajah yang dekil, beruntung tidak tercium bau tidak sedap.
"Boleh, Memangnya berapaan?" jawab Akmal dengan mengulum senyum.
"Rp15.000-an Kak, Tapi kalau beli 10 Kakak Dapat diskon."
"Berapa diskonnya?" tanya Akmal yang menatap ke arah gadis cilik yang terlihat pandai berbicara.
"Kalau ambil 10 harganya jadi Rp140.000."
"Baiklah kalau begitu, aku ambil dua. aku bayar Rp50.000 satunya."
"Yang bener Kak?" tanya gadis kecil itu seolah tidak percaya dengan kebaikan calon pembelinya, namun terukir secara raut harapan kebahagiaan di wajahnya.
Akmal pun mengulum senyum, kemudian dia mengeluarkan dompet dari kantong celananya, lalu memberikan uang Rp100.000.
"Terima kasih banyak Kak, silakan pilih Kakak mau ambil yang mana?" Tawar Gadis itu sambil mendekatkan barang jualannya.
Akmal pun memilih dua balon dengan bentuk jerapah dan beruang, dengan cekatan kedua anak itu mengambil plastik yang sudah diisi dengan batu, kemudian mengikat kedua balon yang sudah dibeli agar tidak terlepas.
"Terima kasih banyak Kak, semoga rezeki Kakak lancar dan semua urusan dimudahkan." ujar Gadis itu yang masih tetap mengulum senyum.
"Sama-sama!" jawab Akmal dengan membalas tersenyum terbawa bahagia oleh kedua anak kecil yang terlihat bersemangat menjalani hidup meski dengan kesusahan.
Akhirnya kedua anak kecil itu mereka pun kembali melanjutkan pekerjaannya, mendatangi setiap orang yang sedang berkunjung ke pantai untuk menawarkan barang jualannya. Akmal menatapnya dengan begitu penuh rasa iba, membayangkan dirinya yang dulu harus bekerja lebih ekstra dengan anak-anak pada umumnya, karena kedua orang tuanya sudah meninggal ketika dia berumur 8 tahun.
Setelah itu Akmal pun naik kembali ke atas tanggul memejamkan mata seolah sedang bertapa untuk mencapai tujuannya. di sampingnya ada dua balon yang bergerak-gerak tertiup oleh angin pantai, mungkin begitulah kata peribahasa orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti. Akmal yang memiliki kelembutan hati dia akan berubah menjadi sangat beringas ketika dikhianati oleh orang lain.
Waktu pun terus melaju tanpa henti, Akmal tetap menundukkan tubuhnya di atas tanggul merenungi kejadian-kejadian yang sudah dia alami, untuk dijadikan acuan menentukan langkah ke depannya. sampai ketika matahari terbenam di atas permukaan laut, barulah Akmal pergi meninggalkan pantai.
Sesampainya di rumah dengan segera Akmal pun membersihkan tubuh kemudian dia duduk di kursi sofa, namun malam itu terlihat sangat berbeda. biasanya Akmal menunggu rasa kantuk dengan melukis pesawat yang sudah berguna ganti warna catnya, tapi malam itu dia terlihat duduk sambil memegang sebuah pensil dan secarik kertas yang sudah dipenuhi oleh coretan. di sampingnya ada kura-kura yang selalu setia menemani sambil mengunyah makanan yang diberikan.
"Aku sedang membuat rencana untuk menyadarkan mereka berdua Robi, karena kalau dibiarkan mereka sudah sangat keterlaluan Aku bukan orang bodoh seperti yang mereka tuduhkan, yang tidak bisa melawan ketika diinjak. aku manusia yang diberikan akal yang sehat, sehingga aku akan menunjukkan kepada mereka." seperti biasa Akmal akan bercerita keluh kesahnya kepada kura-kura peliharaannya.
Seperti biasa Robby tidak pernah menjawab dan mungkin tidak akan pernah menjawab sampai kapanpun, karena kura-kura tidak diberikan pembicaraan, namun Akmal seperti orang yang kurang waras selalu mengajak hewan itu mengobrol bertukar pikiran.
"Kita mulai dengan memasuki rumahnya terlebih dahulu untuk mencari barang bukti yang mereka gunakan untuk mengancamku, setelah itu barulah kita akan mulai melakukan pembalasan." lanjut Akmal yang membeberkan rencananya.
Keadaan pun terasa hening hanya terdengar suara televisi yang dinyalakan, Akmal terlarut dalam rencana-rencana balas dendam dia ingin melakukannya dengan sangat rapi, agar kedua orang itu sadar bahwa dirinya bukanlah orang bodoh.
"Benar, sabun cuci piring itu harus dimasukkan ke dalam rencana. Beruntung aku masih menyimpan data-data miliknya." gumam Akmal kemudian dia menuliskan pemikirannya itu buku catatan agar tidak lupa.
Akmal terus terlarut dalam pemikiran-pemikiran dan rencana-rencana yang akan dia lakukan mulai besok pagi, Kebetulan malam itu bibinya menelepon hanya sebentar memberikan waktu yang sangat banyak untuk memikirkan cara terapi mungkin.
Pukul 09.00 malam tiba Akmal pun menyudahi semua rencananya, kemudian dia menempelkan catatan rencananya di dinding bersamaan dengan foto Shakila dan Rinto, yang sudah disilang dengan berwarna merah. sebelum pergi ke tempat tidur dia pun menatap kedua orang itu dengan menggulung senyum.
Akmal yang sudah membulatkan tekad dengan semua yang akan dia lakukan, Dia bisa tertidur dengan lelap dan Bermimpi indah tidak seperti beberapa malam terakhir yang mimpinya selalu mimpi buruk. kalau tidak didatangi dengan mendiang ibunya, Akmal didatangi oleh Shakila dengan wajah yang sangat menyeramkan.