Keesokan paginya, ketika waktu beristirahat tiba Akmal pun menyempatkan diri untuk makan di luar, setelah itu dia pun berjalan-jalan ke pasar tradisional yang menyediakan berbagai macam alat kebutuhan, baik yang biasa ataupun yang tidak biasa. suara riuh tawar menawar dan sesekali gelak tawa terdengar mengisi udara dari penjual yang sedang bertransaksi atau sedang mengobrol sesama penjual lainnya.
Aroma rempah-rempah bumbu dapur dan buah-buahan yang segar menyatu memenuhi hidung, bercampur dengan keadaan lantai yang sangat becek penuh dengan Lumpur, tidak sedikit orang yang terlihat menutup hidungnya. namun bagi para penjual mereka tetap nyaman dengan keadaan seperti itu sampah-sampah menumpuk di samping jalan menambah suasana khas pasar tradisional.
Akmal terus berjalan di lorong yang di samping kanan kirinya dipenuhi oleh jualan-jualan pasar, hingga akhirnya dia pun tiba di ujung pasar yang berhubungan dengan jalan, di mana aroma pengap dan bau becek sudah tidak terlalu tercium di sana.
"Mau reparasi kunci Pak?" tanya salah seorang yang duduk di kios sempit berukuran 1 kali 2 meter.
"Yah, kebetulan kunci rumah saya hilang." jawab Akmal dengan manggut memberi hormat, ia terlihat sangat sopan menunjukkan Attitude yang sangat tinggi.
"Waduh kok bisa hilang, terus kunci serepnya ada?"
"Justru itu saya datang ke sini, saya mau bertanya. Kalau kunci rumah yang hilang terus tidak ada kunci serepnya kira-kira bisa dibuatkan kunci duplikat?"
"Sangat bisa, asal rumah Kuncinya dibawa ke sini. nanti saya akan buatkan duplikatnya." Ujar tukang kunci Itu menjelaskan.
"Yah bapak, suka bercanda. kalau saya bisa membuka pintunya mana mungkin saya datang ke sini, Saya pasti sudah akan ganti satu set penuh." jawab Akmal sambil duduk di kursi berwarna hijau berkaki empat kursi khas yang selalu ada di pedagang emperan.
"Memangnya kenapa kuncinya bisa hilang, terus sekarang bagaimana bapak bisa masuk ke rumah?" selidik orang itu mulai sedikit agak curiga.
"Biasalah Pak! punya rumah satu-satunya saya sewakan ke orang lain dan saya ngontrak di rumah yang lebih kecil supaya ada pemasukan untuk makan, Maklum keadaan sekarang yang sedang sangat genting, membuat kita harus pandai-pandai menyiasati keadaan."
"Oh, jadi rumah besar milik Bapak disewakan, terus bapak ngontrak di rumah yang lebih kecil supaya bapak memiliki uang lebih untuk hidup?" jawab tukang kunci yang kembali mengulum senyum, kecurigaan yang sempat hinggap mungkin sudah sirna seketika.
"Yah begitulah Pak kehidupan yang sangat tidak bisa tebak Ke mana arah dan tujuannya. rumah yang saya sewakan Sudah beberapa bulan menunggak dan kurang ajarnya orang yang mengontrak itu kabur sehingga ketika ada yang mau menyewa lagi saya tidak bisa masuk, karena kurang ajarnya mereka sudah mengganti kunci pintu dengan kunci yang baru."
"Emang Kadang hidup itu tidak bisa diprediksi, kita sudah merencanakan sedemikian rupa agar kehidupan kita serba kecukupan, kalaupun tidak minimal kebutuhan kita terpenuhi. namun ada saja penghalang untuk menikmati kebahagiaan. seperti saya kemarin saya mendapat orderan kunci duplikat yang lumayan banyak, agar memudahkan para satpam ketika menjaga tempat bekerjanya. namun uang yang sudah saya kantongi Ketika pulang ke rumah, tiba-tiba uang itu hilang." cerita Tukang kunci dengan wajah yang sendu membayangkan kembali perjuangan yang terasa sia-sia.
"Saya yakin dari semua kejadian yang kita alami semuanya pasti akan ada hikmahnya, namun kadang kita tidak sadar Hikmah apa yang bisa kita pelajari."
"Betul Pak, Jadi sekarang bagaimana kalau bapak tidak bisa masuk ke rumah, apalagi mereka kabur tidak membayar uang sewanya."
"Beruntung Saya dan istri saya sangat menghemat uang pemasukan dari rumah itu, sehingga saya masih memiliki tabungan namun tetap saja ada rasa Ngenes ketika ditipu seperti itu, padahal kalau mereka mau menipu Kenapa harus menipu orang susah seperti kita, kalau mau menipu tipu lah orang-orang yang kaya yang banyak hartanya." jawab Akmal Sanjaya dengan wajah yang sama, raut sedih penuh kebingungan.
"Semoga apa yang sudah diambil oleh orang lain digantikan berkali-kali lipat oleh Allah subhanahu wa ta'ala."
"Amin, Terus bagaimana kira-kira pintu rumah saya bisa terbuka atau tidak?"
"Saya belum bisa menjawab, Saya ingin melihat dulu kunci pintu rumahnya Seperti apa. Kapan saya datang ke sana?" tanya tukang kunci dengan penuh antusias karena orang yang membutuhkan duplikat sekarang sudah sangat jarang.
"Kalau bisa sekarang pak, soalnya orang yang mau ngontrak lagi. Nanti sore mau mengecek rumah itu, kira-kira bapak bisa atau tidak?" Tanya Akmal penuh harap.
"Bisa pak, bisa. ya sudah sebentar saya tutup tokonya terlebih dahulu " ujar tukang kunci yang terlihat mengemasi barang-barang yang dibutuhkan. sebelum pergi tak lupa tukang kunci itu menutup kiosnya terlebih dahulu.
"Aduh bagaimana ya Pak ,saya tidak ada kendaraan. Saya mau order ojek online terlebih dahulu." tanya Akmal yang berpura-pura menjadi orang yang sangat susah, Dia tidak memiliki kendaraan untuk menunjang kebutuhannya.
"Ngapain ribet-ribet, pakai motor saya saja biar tidak susah mencari alamatnya." tawar tukang kunci dengan begitu ramah dan itulah yang diharapkan oleh Akmal.
Setelah motornya menyala, Akmal pun naik di bagian belakang untuk memulai mengarahkan tukang kunci menuju ke rumahnya. di perjalanan mereka terus mengobrol membahas kehidupan sehari-hari, yang semakin lama semakin terasa susah, membuat mereka semakin terlihat sangat akrab.
"Memangnya rumah Bapak ada di mana?" tanya tukang kunci mulai kembali ke pokok permasalahan.
"Perum Sentosa. Jalan Cendrawasih."
"Waduh, itu berarti perumahan yang sangat elit. Berarti Bapak sangat hebat bisa memiliki rumah di sana."
"Ah Pak Kasman, kayak tidak tahu saja. mana mungkin orang yang tidak memiliki kendaraan bisa memiliki rumah mewah di sana, kecuali itu adalah warisan dari orang tua."
"Beruntung masih memiliki orang tua yang bisa diharapkan, tidak seperti saya yang sudah tidak memiliki bapak dan tidak memiliki Ibu."
"Yah Sama, Ibu saya juga sudah tidak ada, begitupun dengan bapak yang sudah pergi tiga tahun yang lalu."
"Iya sangat terasa kalau sudah tidak memiliki orang tua. meski kita sudah berumah tangga tapi kalau tidak memiliki orang tua rasanya seperti anak ayam yang tidak memiliki Ibu, hidup kita terasa tidak memiliki arah dan tujuan." ucap Kasman membenarkan.
"Awalnya saya kepikiran untuk menjual rumah itu, tapi itu adalah harta peninggalan satu-satunya orang tua saya. dulu beliau sangat pandai berbisnis namun semakin tua bisnisnya semakin melorot, sampai akhirnya menjadi korban penipuan. harta yang sudah sangat melimpah sampai ludes tak terasa. beruntung rumah itu tidak terganggu sehingga saya bisa memanfaatkannya sekarang untuk menopang kehidupan."
"Terus kenapa Pak Akmal tidak mengikuti jejak orang tua yang pandai berbisnis?"
"Kalau manusia Sedang dicoba, maka mereka akan dicoba sampai titik terendah. begitupun dengan keluarga saya yang terus Mencoba membuka usaha yang baru, Namun kegagalan demi kegagalan yang saya temui. Sehingga rumah yang sangat saya cintai harus ditinggalkan di kontrakan kepada orang lain, demi mensiasati kebutuhan yang tanpa henti datang setiap hari."
Obrolan mereka ketika di atas moto, Kasman yang sangat tahu bahwa kehidupan zaman sekarang lumayan sulit, dia bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Akmal yang terlihat sangat lugu dengan kacamata yang menunjang penyamarannya.
Lama di perjalanan akhirnya mereka pun tiba di Perum Sentosa Jalan Cendrawasih, Perum yang lumayan elit karena sebagian penghuninya adalah para pengusaha. ketika tiba di nomor 103 Akmal pun meminta Kasman untuk berhenti.
"Oh ini rumahnya. ternyata sangat besar juga ya?" ucap Kasman dengan penuh kekaguman.
"Ya sudah, ngobrolnya di dalam saja. ayo masuk!" ajak Akmal dengan membuka pintu gerbang yang tidak terkunci.