Kasman pun masuk ke dalam halaman yang tidak terlalu besar, namun diisi penuh oleh berbagai tanaman hias. di sebelah kiri ada rolling door mungkin itu adalah penyimpanan mobil. sebelum naik ke teras ada tiga tangga membuat rumah itu terkesan sangat minimalis dan elegan.
"Sayang banget rumah sebagus ini, kalau harus disewakan." ungkap Kasman yang tidak bosan memindai keadaan sekitar.
"Yah begitulah, Saya juga merasa Sayang sama rumah ini, karena ini adalah harta peninggalan satu-satunya milik orang tua. tapi mau bagaimana lagi?" jawab Akmal yang sudah berdiri di depan pintu wajahnya tetap menunjukkan kesedihan
"Iya juga sih, Kadang hidup itu tidak sesuai dengan keinginan. tapi tidak apa-apa, kita harus tetap bersabar sambil terus berusaha agar kedepannya bisa lebih baik. Oh ya Mana kunci yang mau dibuatkan duplikatnya?"
"Yah kunci inilah Pak Kasman." Jawab Akmal sambil menunjuk pintu rumah yang ia datangi.
"Memang Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mereka bisa tidak bertanggung jawab seperti itu?"
"Yah kita tidak bisa memungkiri kehidupan sekarang yang sedang sulit, jadi saya sangat memahaminya. tapi tidak harus dengan cara menipu sampai pergi meninggalkan rumah, Mending kalau tidak merepotkan."
"Mau dikerjakan sekarang?" tanya Kasman yang tidak ingin terlalu membuang waktu agar tidak terlalu lama meninggalkan kiosnya.
"Silakan Pak!" jawab Akmal sambil duduk di kursi teras ia terlihat sangat santai.
Kasman pun mulai mengeluarkan alat-alat, kemudian Dia memasukkan semacam gel ke dalam lubang kunci sambil terus mengobrol membahas kehidupan sehari-hari. Entah mengapa Mereka terlihat sangat akrab padahal mereka baru pertama kali bertemu. mungkin karena Akmal dan Kasman sedang mengalami kehidupan yang sama sedang berada di dalam kesulitan.
Setelah menunggu beberapa saat, gel yang dimasukkan pun dikeluarkan oleh Kasman yang anehnya gel itu yang semula cair berubah menjadi padat berbentuk kunci.
"Untuk membuat kunci duplikatnya saya tidak bisa mengerjakan di sini, saya harus mengerjakan di kios soalnya alat-alatnya berada di sana."
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa yang terpenting pintu rumah saya bisa terbuka."
"Kalau begitu Mari kita pulang kembali ke kios." ajak Kasman sambil merapikan kembali alat-alat untuk menduplikat lubang kunci.
"Kalau saya ambil hasil kuncinya Nanti sore bagaimana, soalnya saya ingin menemui teman yang sudah lama tidak bertemu. Menurut keterangan yang saya dapat dia baru pulang dari luar kota mengurus bisnisnya. Siapa tahu saja ada lowongan pekerjaan di sana, supaya tidak terlalu mengandalkan penyewaan rumah ini."
"Tidak apa-apa, saya akan buatkan."
"Oh iya totalnya jadi berapa?" Tanya Akmal dengan wajah introvertnya.
"Totalnya jadi Rp100.000 Pak, Mohon maaf kalau duplikat kunci biasa Paling Rp10.000, tapi ini saya harus menggunakan gel yang lumayan mahal."
"Tidak apa-apa saya ngerti kok, orang akan memberikan harga sesuai dengan modal yang dikeluarkan." jawab Akmal dengan mengulum senyum, kemudian dia merogoh kantong celananya lalu memberikan uang sebesar Rp300.000.
"Untuk apa, kok ini banyak sekali?" tanya Kasman dengan wajah yang tidak percaya.
"Doakan saya supaya rumah ini jadi di sewa dan teman saya memiliki lowongan pekerjaan."
"Tidak usah banyak-banyak, saya ngerti keadaan kita sekarang lagi sulit, seharusnya kita harus saling membantu bukan saling menyusahkan."
"Tidak apa-apa Pak Kasman, ambil aja! Itung-itung mengganti Uang yang kemarin hilang, meski tidak akan cukup. nanti setelah kuncinya bisa terbuka Saya akan menggantinya dengan kunci yang baru."
Awalnya Kasman menolak namun Akmal tetap memaksa, hingga akhirnya tukang duplikat kunci itu menerima semua pemberian Akmal, dengan diletakkan di dahinya menghargai niat baik orang lain.
Setelah semuanya selesai, Kasman pun meminta izin untuk pulang ke kiosnya, sedangkan Akmal berencana menemui sahabatnya yang baru pulang bekerja dari luar kota dan dia berjanji Nanti sore akan mengambil kuncinya.
Seperginya Kasman, Akmal pun dengan segera keluar dari pintu gerbang kemudian menutup pintunya serapih mungkin. dia menjauh dari rumah itu matanya terlihat celingukan seperti sedang mencari sesuatu.
"Kenapa aku tidak ikut kembali ke pasar, soalnya mobilku disimpan di sana? tapi tidak apa-apa lah kalau aku ikut nanti pak Kasman curiga, sekarang mendingan aku pulang ke klinik menggunakan ojek online." pikir Akmal sambil mengeluarkan handphonenya, kemudian dia memesan ojek online melalui aplikasinya.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya ada motor yang mendekat yang mengendarainya memakai jaket berwarna hijau Senada dengan helm yang ia kenakan. sebelum berbicara dia pun manggut sambil tersenyum ramah.
"Ke klinik gigi Pak?" tanya driver ojol memastikan tujuan customernya.
"Iya, saya Akmal Sanjaya."
Setelah mengetahui bahwa orang itu adalah orang yang order jasanya, dengan segera dia pun melepaskan helm yang dikaitkan di bagasi depan, lalu memberikannya kepada Akmal, bahkan dia pun memberikan masker supaya tidak menghirup udara yang beberapa hari terakhir terdengar sudah terkontaminasi polusi.
Setelah customernya duduk, driver ojol pun mulai melajukan motornya menuju tempat sesuai dengan aplikasi. di perjalanan tidak ada obrolan seperti ketika berjalan dengan Kasman, mereka berdua terdiam dengan Lamunan masing-masing, sampai akhirnya Akmal pun tiba di klinik miliknya.
Pasien yang sudah menunggu dengan segera dipersilahkan segera masuk ke dalam ruangannya, untuk dilakukan pemeriksaan. hari itu Akmal kembali ke rutinitas semula memeriksa tiap gigi yang dikeluhkan oleh pasiennya.
Akmal bekerja dengan begitu profesional melupakan kejadian-kejadian buruk yang terus menghantuinya, tidak ada pasien yang ditangani dengan gegabah dia bekerja sebisa mungkin agar pasiennya bisa sehat kembali.
Kira-kira pukul 03.00 sore, pasien yang masuk ke ruangannya pun sudah tidak ada. berbeda dengan hari-hari sebelumnya sampai jam 04.00 dan bahkan ketika mau pulang pasien masih ada yang mengantri. merasa ada kesempatan Akmal pun menelepon asistennya.
"Desi Persilahkan masuk pasien selanjutnya!" pinta Akmal kepada resepsionis klinik.
"Pasiennya sudah semuanya diperiksa Pak, tidak ada lagi yang mengantri."
"Kalau begitu saya akan pulang lebih cepat, Tolong kalau ada pasien yang baru datang aturkan jadwal Keesokan paginya."
"Baik Pak!" jawab Desi yang tidak terlalu mempedulikan Apa yang dilakukan oleh atasan, dia bekerja sesuai arahan dan instruksi yang diberikan.
Setelah menitipkan pesan, Akmal pun merapikan tempat kerjanya, melepaskan baju putih khas Seseorang dokter, kemudian menggantungnya di hanger.
"Aku harus secepatnya menyelesaikan Tugasku, tidak boleh ditunda-tunda. supaya mereka tahu bahwa aku ini bukanlah orang bodoh, seperti yang mereka kira." gumam Akmal yang mengambil tas kerjanya kemudian keluar dari ruangan dengan sedikit tergesa-gesa.
"Selamat sore Pak!" sapa Desi ketika Akmal melewati mejanya.
"Sore juga!" jawab Akmal dengan wajah datarnya bahkan dari kedua sudut bibirnya yang biasa mengulum senyum ketika berhadapan dengan pasien, itu sangat berbeda ketika berhadapan dengan para karyawannya.
"Haduh punya bos wajahnya kayak tembok, tidak pernah tersenyum kepada bawahan. nggak ngelihat apa kalau aku sudah dandan secantik ini." umpat Desi dalam hati namun pemikiran itu segera dibuang jauh-jauh karena ada seorang pasien yang mendaftar.
Desi pun mulai melayani kembali pasien yang hendak berobat di klinik milik Akmal Sanjaya, karena selain klinik dokter gigi Akmal membuka klinik pengobatan ke pengobatan lainnya. sedangkan orang yang di umpatnya sudah berdiri di depan klinik sambil memegang handphone dan tak lama ojek online pun menghampiri.