Sudah Ditangan

1140 Kata
"Dengan Pak Akmal Sanjaya, tujuan akhir pasar tradisional?" tanya driver ojol yang baru datang. "Betul saya sendiri." Setelah memastikan bahwa Akmal adalah customernya mulai memberikan helm pengaman kepala, kemudian mempersilahkan penumpangnya untuk naik dan berangkat pergi menuju tempat tujuan. Suasana kota Jakarta sore itu terlihat begitu menawan, bayangan bayangan gedung pencakar langit menutupi sebagian Area jalan yang dilewati. matahari yang warnanya sudah mulai meredup berubah menjadi kuning keemasan, membuat keadaan sekitar semakin terasa sangat ikonik. deru Kendaraan tidak pernah berhenti di Sauhuti dengan klakson yang mulai padat, menandakan kota itu tidak pernah berhenti. Trotoar mulai dipenuhi oleh pedagang kaki lima yang mulai menjajakan makanan menyambut Malam yang sebentar lagi akan datang, diselingi oleh para pejalan kaki yang hendak pulang beristirahat ke rumah setelah seharian bekerja ataupun hanya jalan-jalan Menikmati suasana sore yang begitu indah. Motor yang ditumpangi oleh Akmal terus melaju dengan kecepatan sedang, Sampai akhirnya dia pun tiba di pasar yang dituju. pasar itu terlihat nampak sepi sudah banyak lapak lapak jualan yang tutup hanya sebagian kecil yang masih buka. namun mereka sudah terlihat merapikan jualannya untuk dimasukkan ke dalam. "Aduh, kenapa aku bodoh tidak meminta nomor teleponnya. Bagaimana kalau dia sudah pulang?" gumam hati Akmal yang merasa was-was jika Kasman yang diminta untuk menduplikat kunci rumahnya sudah pulang. Namun prasangkaan itu sirna seketika, saat melihat kios milik tukang kunci masih terbuka. Akmal pun meminta driver ojol untuk berhenti di depannya. sebelum pergi tak lupa dia pun membayar ongkos sesuai dengan tarif yang berada di aplikasi. "Aduh, saya tadinya sudah khawatir jikalau Pak Kasman sudah pulang, tapi beruntung Pak Kasman masih buka." Ujar Akmal dengan mengulum senyum penuh bahagia. "Yah pengennya saya secepatnya pulang, karena hari ini saya mendapatkan rezeki yang lebih, mungkin kalau dipergunakan untuk makan cukup seminggu. Tapi saya memiliki janji dan pengusaha tidak boleh mengingkarinya " "Terima kasih banyak Pak, Soalnya orang yang maunya menyewa sudah menelpon, bahwa dia akan segera berkunjung ke rumah, untuk melihat lokasinya seperti apa. Oh ya bagaimana dengan kuncinya?" "Beres Pak, tinggal gunakan saja. kalau tidak pas nanti hubungi saya lagi." jawab Kasman yang terlihat mengulum senyum, tangannya mengambil kunci yang dikaitkan dengan nama Akmal dipaku yang berada di dinding. "Aduh, Terima kasih banyak sampai dibikinkan dua seperti ini, Padahal satu saja sudah cukup karena saya ingin menggantinya dengan kunci yang baru. supaya orang yang mengontrak tidak bisa masuk kembali." "Oh iya, saya lupa tidak ingat sampai ke sana, padahal pak Akmal sudah mengatakan bahwa mau mengganti kunci rumah, tapi bagaimana saya sudah membikinkannya dua buah kunci?" "Tidak apa-apa, Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Oh ya ini untuk mengganti bensin," ujar Akmal sambil memberikan uang kembali sebesar 100.000. "Sudah Pak, tadi juga sudah cukup. jangan terlalu baik sama orang karena bapak juga pasti sangat membutuhkan." tolak Kasman dengan lembut, Bukannya dia tidak membutuhkan uang tapi dia sangat malu dengan kebaikan Akmal. "Tidak apa-apa, saya ngasih karena hari ini juga saya mendapatkan kebahagiaan. teman saya menginfokan ada lowongan di tempat kerjanya dan orang yang mau mengontrak rumah saya sudah memberikan DP dan harganya lebih dari orang yang mengontrak sebelumnya, meski mereka belum mengecek rumahnya." "Tidak usah Pak, nanti kan Bapak juga mau mengganti kunci, pasti bapak membutuhkan uangnya." "Terima Pak! mungkin saya bisa mendapatkan kebahagiaan sekarang gara-gara tadi Bapak mendoakan saya." Paksa Akmal mengingatkan di mana Tadi dia meminta Tasman untuk mendoakannya. "Haduh, Bagaimana ya? tapi kalau saya ambil 50 tidak apa-apa?" "Semuanya juga boleh pak, ini kan uang bapak." "Tidak, saya mengambil 50 saja. Mohon maaf saya bukan memanfaatkan kebaikan orang lain, tapi saya benar-benar menghargai kebaikan hati Pak Akmal." jawab Kasman dengan mengambil uang pemberian itu lalu mengembalikannya sebesar Rp50.000. Mereka berdua pun terlihat mengobrol sebentar, setelah beberapa saat Akmal berpamitan untuk segera menemui orang yang mau mengontrak rumahnya, karena menurut kabar yang ia terima orang itu sudah di perjalanan. "Hahaha, ternyata tidak ada yang sulit di dunia ini kalau kita mau berusaha. Aku sudah mendapatkan kuncinya tinggal melakukan eksekusi." gumam Akmal dengan mengulum senyum sesaat setelah meninggalkan kios Kasman yang terlihat sudah dirapihkan, mungkin tukang kunci itu ingin segera pulang ke rumah bercerita bersama keluarga tentang kebahagiaan yang didapatnya hari itu. Akmal terus berjalan menyusuri lorong pasar yang di samping kanan kirinya terlihat lapak jualan yang sebagian besar sudah tutup, melewati jalan yang bercampur dengan lumpur sedikit, mengeluarkan aroma busuk yang menyengat, namun itu tidak terlalu diperdulikannya karena Hatinya sedang diliputi kebahagiaan. Akmal terus berjalan sampai akhirnya tiba di parkiran untuk mengambil mobil yang sejak dari tadi siang dia simpan di sekitar area pasar, karena harus pergi bersama Kasman untuk membuat kunci duplikat. "Tunggu saja kedatanganku, kalian yang menginginkan ini semua." ancam Akmal sambil menekan tombol Start untuk menyalakan mobilnya. Setelah beberapa saat menunggu, Akmal pun meninggalkan parkiran pasar tradisional bergabung kembali dengan kendaraan-kendaraan yang terus memadati jalanan kota, karena waktu itu sudah waktunya pulang dari pekerjaannya, suara klakson dan bising terdengar begitu nyaring, ketika pintu jendela mobilnya terbuka, menjadikan keadaan yang sangat khas yang akan dirasakan setiap hari di kota yang tidak pernah berhenti. Akmal terus memacu mobilnya Sampai akhirnya dia pun tiba di rumah, dengan segera dia pun masuk kemudian membersihkan tubuh lalu dia pun duduk di sofa sambil memegangi secarik kertas dan pensil, pandangannya menatap ke arah langit-langit khayalannya mulai terbang mulai menyusun kembali rencana rencana yang akan dia lakukan. Kring, kring, kring. Sedang asyik berpikir tiba-tiba teleponnya berbunyi, dengan segera Akmal pun mengangkatnya, karena seperti biasa setiap malam dia akan ditelepon oleh bibinya. "Lagi ngapain kamu Akmal?" "Biasa Bi melukis pesawat, ditemani oleh Robi yang sedang makan dengan begitu lahap." "Kemarin-kemarin aku sudah senang mendengarmu bisa berhenti melakukan hal yang kekanak-kanakan, karena kamu sudah bisa hidup layaknya orang-orang pada umumnya." "Terus sekarang Bibi tidak senang dengan Akmal yang kembali menekuni kebiasaan semula?" "Itu lebih baik daripada kamu melamun dan frustasi gara-gara tidak menjadi menikah, tidak apa-apa kalau hanya untuk mengalihkan kesedihan. tapi bibi cuma bisa berpesan kamu jangan terlarut dengan rasa terpurukmu, kamu harus segera bangkit dan Berjuanglah kembali untuk menemukan pasangan, Nanti keburu Bibirmu yang sudah tua Renta ini meninggalkan dunia." ingat Ati layaknya orang tua pada umumnya yang selalu menasehati anaknya untuk berubah menjadi lebih baik. "Ya Bi. Akmal juga paham. menurut pepatah yang sering Bibi ucapkan, kita berhenti merenung Bukan Untuk Menyerah tapi untuk mengumpulkan tenaga kembali demi menjalani kehidupan yang akan lebih banyak membutuhkan energi. seperti air yang berada di Muara Mereka terlihat terdiam bukan untuk singgah di sana, melainkan untuk menyeberangi arus yang sangat kuat. "Syukurlah kalau kamu memiliki pemikiran ke arah sana, Nanti kalau sudah selesai simpan pesawat mainanmu dan tidurlah!" "Baik Bi, Terima kasih sudah menghubungiku." ucap Akmal sambil memutus telepon. Setelah itu dia pun mulai mencorat-coret kembali kertas yang ada di atas meja, kemudian membaca ulang semua rencananya. setelah dirasa tidak ada yang kurang dia pun menempel catatan itu dengan catatan yang malam kemarin, kemudian pergi ke kasur untuk beristirahat mengumpulkan tenaga kembali untuk perjuangan selanjutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN