Keesokan paginya, Di klinik milik Akmal Sanjaya suasananya sangat tenang menyambut pasien yang datang. Cahaya matahari pagi memasuki ruang tunggu, menciptakan nuansa hangat dan menyegarkan. Petugas pendaftaran dengan ramah menyambut pasien yang tiba, membantu mereka melalui proses administratif. Sementara itu, pasien yang menunggu duduk dengan sabar, membaca majalah atau menggunakan gadget mereka. Bau desinfektan yang ringan menyirami udara, menunjukkan kepedulian terhadap kebersihan dan kesehatan.
Akmal yang baru tiba, dia pun terlihat tersenyum ramah kepada para pasien yang sedang menunggu. lalu masuk ke dalam ruangannya melewati meja pendaftaran membuat dua wanita yang sedang menjaga terlihat berbisik-bisik.
"Heran deh sama Pak Akmal, Kenapa sudah tua itu dia belum juga menikah?" ucap Desi kepada temannya.
"Hush! Kenapa juga kamu harus heran mungkin dia belum menikah, masih ada cita-cita yang belum tercapai. jadi dia fokus terlebih dahulu dengan apa yang ingin dia miliki sebelum menikah." jawab Lisna yang sudah lama bekerja di tempat itu.
"Cita-cita apa? klinik sudah punya, rumah sudah ada, mobil juga ia miliki. Terus apa yang mau ia capai selanjutnya selain daripada menikah?"
"Ya nggak tahu, mungkin begitulah kehidupan orang kaya yang selalu terlihat aneh dalam menikmati kehidupan, berbeda dengan kita-kita yang miskin yang hidupnya lurus-lurus saja, yang terpenting bisa makan, bisa minum, bisa tidur dengan nyenyak dan tercukupi kebutuhan anak. kita sudah sangat bersyukur."
"Apa jangan-jangan dia tidak suka dengan perempuan?" Tanya Desi seolah ingin terus menyelidiki kepribadian Akmal.
"Kalau ngomong jangan asal nguap, nanti kedengaran orangnya kamu bisa dipecat. Lagian Kenapa sepagi ini tumben-tumbenan kamu membicarakan tentang atasan kita, apa jangan-jangan kamu suka?"
"Enggak kok, enggak. Siapa juga yang mau dengan pria aneh seperti dirinya, pria dingin tanpa memiliki perasaan. asal kamu tahu dia sering meneleponku hanya untuk mengutar-ngatur jadwa,l tidak pernah sedikitpun menanyakan keadaanku."
"Oh jadi kamu mau diperhatikan olehnya, Baik nanti aku sampaikan." Jawab bisa dengan mengulum senyum merasa lucu dengan tingkah laku teman kerjanya yang di satu sisi dia tidak mengakui bahwa dirinya menyukai sang atasan namun di sisi lain Dia seolah menunjukkan ketertarikan.
"Janganlah Lisna! emangnya aku cewek apaan yang mengungkapkan perasaan terlebih dahulu kepada seorang laki-laki?"
"Oh jadi kamu mau ditembak duluan, baik itu tidak akan susah."
"Ah Lisna kamu suka mengada-ngada, udah ah, kalau ngobrol sama kamu aku selalu salah jawab." PutusDesi dengan membuang muka, soalnya tidak ingin raut wajahnya dilihat oleh temannya.
Lisna yang melihat perubahan raut wajah Desi dia pun hanya mengulum senyum, seolah tahu apa yang diinginkan oleh teman seprofesinya. namun dia tidak yakin kalau keinginan temannya itu bisa tercapai, karena melihat dari Akmal yang seolah tidak tertarik dengan seorang perempuan.
Kring, kring, kring.
Telepon yang berada di atas meja pun terdengar berdering, Lisna yang sudah mengetahui bahwa telepon itu dari atasannya, dengan segera dia pun menyenggol lengan Desi.
"Kenapa," tanyanya dengan raut wajah heran.
"Lumayan buat PDKT." tawar Lisna dengan mengulum senyum.
"Ih apaan sih, nggak jelas banget." jawab Desi wajahnya berubah seketika menjadi memerah.
"Ya halo Pak dokter."
"Tolong persilahkan masuk pasien yang hendak memeriksakan giginya."
"Baiklah Pak," hanya kata itu yang keluar dari mulut Desu seolah tidak ada kata-kata yang lain, karena Akmal terasa sangat kaku dan tidak menyenangkan untuk diajak ngobrol panjang lebar.
"Pasien motor urut 1, yang hendak memeriksakan giginya silakan masuk ke ruangan pemeriksaan." ujar Desi melalui microphone memberitahu bahwa dokter Akmal Sanjaya sudah siap menangani pasiennya.
Hari itu dilalui seperti hari-hari biasa, disibukan dengan melayani pasien-pasien yang hendak berobat di klinik milik Akmal. sampai waktu istirahat tiba terlihatlah Akmal yang beberapa hari terakhir selalu keluar ketika makan siang. dengan wajah datar dia melewati meja pendaftaran terlihat Lisna yang berbisik meledek sahabatnya.
"Apaan sih, orang dianya tidak tertarik dengan perempuan. sudah Ah, Aku istirahat duluan nanti kita gantian." jawab Desi sambil bangkit dari tempat duduknya kemudian dia pun keluar dari ruangan untuk mencari makan.
Ketika di parkiran dia sempat berhenti sesaat ketika melihat Akmal yang berpostur tinggi dengan wajah putih namun tidak begitu terlihat menarik, karena ada kacamata yang menutupi ketampanannya. apalagi fashion yang ia Gunakan selalu terlihat salah kadang ia memadukan celana hitam dengan kemeja berwarna krem, membuatnya semakin terlihat berantakan dan sangat aneh.
"Mau ke mana Dia, setiap hari keluar terus, apa jangan-jangan dia sudah memiliki pacar. Lah kenapa aku mengurusi urusan orang lain, mana mungkin juga kalau dia tidak punya pacar mau denganku yang hanya sebagai resepsionis kliniknya." Umpat Desi membuang jauh-jauh pikiran yang ada di benaknya. dengan segera dia pun melanjutkan niat untuk mencari makan, sesaat setelah mobil Akmal pergi meninggalkan parkiran.
Sedangkan orang yang di umpatnya, dia terus terfokus mengendarai mobil bergabung dengan kendaraan-kendaraan lainnya yang terus beraktivitas tanpa lelah. para sopir bus dengan penuh kesabaran mereka terus mengantarkan penumpang, Sama halnya dengan driver driver lainnya. kurir-kurir mereka disibukkan dengan mengantar paket para pelanggan, membuat kota Jakarta terlihat begitu hidup dengan segala aktivitasnya.
Matahari kala itu tidak terlalu terik dihalangi oleh awan hitam yang menggumpal, sepertinya hujan yang sudah tidak turun dalam beberapa hari terakhir akan datang kembali, untuk membasahi kota Jakarta yang biasa terasa sangat panas. Akmal terus mengendarai mobilnya namun ketika melewati penjual makanan yang menyediakan jasa drive true, Akmal pun berhenti untuk membeli makan siang, walaupun dia sangat sibuk namun dia selalu menjaga kesehatannya.
Setelah mengemudikan mobil kembali, tak lama diantaranya mobil itu pun berhenti di salah satu ruko yang di halamannya terparkir banyak mobil, di atas tertulis bahwa ruko itu menyediakan sewa mobil. kemudian dia turun sambil tetap mengunyah burger yang iya beli, makanan kesukaan yang selalu dijadikan cemilan.
"Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita dengan tersenyum ramah.
"Apakah benar tempat ini penyedia jasa penyewaan mobil?"
"Benar sekali Pak, Silakan duduk terlebih dahulu!"
"Terima kasih." jawab Akmal yang tetap masih memindai keadaan sekitar, memperhatikan mobil-mobil yang berbaris rapi.
"Baik Pak, Apakah bapak ingin menyewa salah satu mobil dari kami?"
"Iya, kira-kira harga sewanya berapa?"
"Harga sewanya berkisaran 300.000 sampai Rp500 per hari tergantung Mobil apa yang hendak digunakan, dan itu belum termasuk ongkos supir. Itupun kalau bapak mau menggunakan Sopir dari kami."
"Kalau tidak mau bagaimana?" tanya Akmal dengan menatap sales itu.
"Tidak apa-apa, namun ketika ada kerusakan maka Bapak akan diminta pertanggung jawaban sesuai dengan perbaikan yang dibutuhkan."
"Baiklah kalau begitu? saya sewa mobilnya saja. oh ya mobil yang paling murah Mobil jenis apa?"
Sales rental mobil pun mulai menjelaskan mobil-mobil yang tersedia dengan berbagai kelebihan kelebihan masing-masing. Akmal dengan cermat memperhatikan mencari-cari mobil sesuai dengan apa yang ia butuhkan
"Kira-kira Bapak mau mengambil mobil yang mana?" tanya sales setelah menjelaskan mobil-mobil yang tersedia.
"Kayaknya Saya mau sewa mobil sedan saja, soalnya mobil itu terlihat masih bagus dan harga sewanya relatif murah.
"Baiklah kalau begitu, saya akan buatkan nota penyewaannya."
"Tapi Mohon maaf saya bukan mau menyewa untuk hari ini, saya mau menyewa untuk besok siang ataupun sore, karena hari ini saya masih bekerja."