"Baiklah, tidak apa-apa. Tapi kalau besok siang ataupun sore mobil yang bapak inginkan saya tidak bisa menjamin ketersediaannya, karena mobil yang bapak inginkan selalu menjadi mobil terlaris untuk disewa." jawab sales itu menjelaskan.
"Tidak apa-apa, Nanti saya cari mobil yang lain yang ada, karena perjalanan saya hanya pergi ke Bogor untuk liburan keluarga."
"Kalau begitu ini nomor kontak saya, Nanti kalau bapak minat bapak bisa menghubungi." jawab sales dengan tetap tersenyum ramah meski pelanggannya hanya sekedar bertanya.
Setelah mendapat informasi Akmal pun berpamitan dan berjanji besok dia akan menghubunginya kembali, ketika membutuhkan mobil sewaan. Akmal mulai mengendarai mobilnya untuk kembali ke rumah sakit melanjutkan pekerjaan seperti biasa, Karena dia merasa tidak enak selalu terus mengatur ulang jadwal gara-gara kesibukan dengan urusan yang sedang dialaminya.
Ketika pukul 02.00 siang, Akmal yang kala itu tidak ada pasien yang periksa. dia pun Merenung sambil merapatkan tangan untuk menopang dagunya, khayalannya mulai terbang kembali ke masa-masa yang akan datang yang sudah diatur serapi mungkin.
Kring, kring, kring.
"Iya, ada apa Desi?" Tanya Akmal yang mengetahui bahwa yang menghubunginya adalah petugas pendaftaran.
"Sehubung belum ada pasien yang hendak memeriksakan giginya. Apakah saya harus menyediakan kopi untuk bapak?"
"Maksudnya Desi?" tanya Akmal dengan mengerutkan dahi.
Suara Desi pun sempat menghilang, namun terdengar ada yang berbisik membuat Akmal semakin tidak paham dengan kelakuan karyawannya, namun dengan sabar dia pun tetap menunggu.
"Maksudnya begini Pak Akmal, apakah Bapak mau kopi untuk menemani istirahat Bapak, sambil menunggu pasien yang datang."
Sekarang giliran Akmal yang terdiam seperti sedang memikirkan dirinya Apakah membutuhkan segelas kopi ataupun tidak. namun setelah dipikir tawaran Desi memang sangat ia butuhkan, pikiran yang sedang kalut beberapa hari terakhir membuatnya membutuhkan relaksasi.
"Baiklah! sekalian kamu temui saya di ruangan." jawab Akmal memberikan keputusan.
"Pak atasan Menyuruhku menemui di ruangannya, kira-kira kenapa ya .apa gara-gara aku menawarkan kopi dia menjadi marah kepadaku?" tanya Desi dengan wajah pucat spasi karena kelakuannya menawarkan kopi itu adalah hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
"Kenapa kamu Jadi parno, kan itu keinginanmu yang ingin mendekati atasan kita."
"Iya emang salah aku mendekatinya?"
"Tidak salah sih, Dia kan belum menikah, belum memiliki pasangan. kalau kamu mau kamu bisa berusaha Namun usaha yang dibutuhkan akan lebih keras." jawab Lisna yang memberikan motivasi terhadap sahabatnya.
"Iya gara-gara kamu, otakku mulai tercuci. Sampai berani menawarkan kopi terhadapnya."
"Semuanya butuh perjuangan, sudah jangan buang waktu. sekarang kamu buatkan kopi untuk dirinya kalau bisa kamu jampi-jampu dulu supaya pria introvert itu Jatuh hati kepadamu."
"Emang zaman sekarang pelet masih bisa digunakan?"
"Bisa, kalau produknya produk dari luar negeri, kalau dari dalam negeri sudah jarang peminatnya."
"Emang pelet apaan dari luar negeri?"
"Pelet gaya hidup glamour penuh kemewahan, kalau miskin jangan harap kamu mendapatkan cinta."
"Kamu aneh-aneh aja! di satu sisi Kamu mendukung namun di sisi lain Kamu seolah menjatuhkan. Sudah ah, aku mau membuatkan kopi terlebih dahulu." ujar Desi sambil bangkit dari tempat duduknya kemudian dia pergi ke dapur membuatkan Secangkir Kopi untuk atasannya.
Setelah selesai dibuat, cangkir kopi ditaruh di atas nampan kemudian dia pun menuju ruangan atasannya, dengan hati yang berdebar tidak karuan. jantungnya berdetak tidak beraturan. bahkan keringat dingin mulai bercucuran membasahi tubuh. bertemu dengan Akmal tidak seperti ketika bertemu di waktu yang lain, Karena dia sudah mulai mengaguminya saat pertama kali bertemu, namun Akmal yang sangat dingin membuatnya merasa senggan, apalagi status mereka sangat berbeda.
Truk, truk, truk.
Pintu ruangan pun diketuk, suasana hati Desi semakin tidak karuan, Bahkan dia terlihat menarik nafas beberapa kali menenangkan jantung yang berdetak tidak beraturan, seperti hendak menemui orang penting yang takut melakukan kesalahan.
"Masuk!' seru Akmal dari dalam.
Pintu pun didorong, dengan menundukkan pandangan Desi pun berjalan mendekat ke arah pria introvert itu, yang terlihat sedang sibuk dengan berkas-berkas yang ada di mejanya.
"Kopinya Pak!" tawar Desi sambil menaruh cangkir kopi di meja atasannya.
"Terima kasih." jawab Akmal tanpa mengalihkan pandangan membuat Desi sedikit merasa kesal karena perhatian yang diberikan tidak terlalu digubris oleh atasannya.
Untuk sementara waktu Desi hanya berdiri di samping Akmal memperhatikan pria yang mulai ia kagumi dengan begitu lekat, membuat Akmal melirik ke arahnya seolah merasa heran kenapa asistennya masih tetap berdiri di ruangan.
"Ada apa?" tanya Akmal dengan wajah penuh heran.
"Tidak ada apa-apa Pak, Siapa tahu saja Bapak mau menyuruh yang lain?" jawab Desi dengan ragu-ragu Secepatnya Dia pun pergi meninggalkan meja kerja Akmal.
"Kenapa aku berharap disukai oleh pria aneh seperti itu? tidak, aku harus mencari target yang lain yang serius mencintai wanita, melihat Dari gelagatnya Mungkin dia tidak tertarik dengan seorang perempuan." gumam hati Desi sambil mempercepat langkahnya.
"Desi!" Panggil Akmal ketika penjaga pendaftaran itu hendak keluar dari ruangan.
"Ada apa Pak, nanti malam saya tidak kemana-mana. saya di rumah saja " tiba-tiba Jawab Desi seperti itu membuatnya menggigit bibir, karena jawaban yang diberikan tidak seharusnya diucapkan, mungkin gara-gara pikirannya yang sedang kalut sehingga dia tidak berkonsentrasi.
"Maksudnya?" tanya Akmal masih tetap dengan wajah datarnya.
"Tidak apa-apa, ada apa Pak?"
"Tolong kamu belikan obat ini di apotek!" Jawab Akmal sambil memberikan secarik kertas yang sudah dituliskan resep obatnya.
"Untuk apa?"
"Sebaiknya kamu tidak usah banyak tanya! Tolong belikan saja karena ini untuk kebutuhan medis di klinik kita."
Untuk yang kedua kalinya Desi pun merasa kesal karena Akmal memanggilnya bukan untuk mengajak makan malam, melainkan untuk menyuruhnya membeli obat di apotek.
Seperginya Desi, Akmal pun menyadarkan punggung ke sandaran kursi goyang miliknya. matanya menatap ke arah langit-langit membayangkan apa yang akan dilakukan selanjutnya, dia tidak terlalu menggubris perubahan karyawan yang terlihat ingin mendapatkan perhatiannya. Sudut bibirnya mulai terangkat ketika membayangkan rencana-rencana yang akan dilakukan.
"Kunci sudah didapat, penyewaan mobil sudah ada dan obat pun sedang dibelikan. tinggal aku memantau situasi di sana, kapan aku harus mulai beraksi?" gumamnya di dalam hati sudut bibirnya terangkat seperti sedang merencanakan sesuatu yang besar yang akan dia lakukan.
Beberapa saat berlalu Desi pun sudah kembali lagi dengan membawa obat yang baru saja ia beli, kemudian diberikan kepada Akmal yang sejak dari tadi menunggunya.
"Memangnya Bapak tidak bisa tidur malam, kok Bapak membeli obat tidur?" tanya Desi mulai mencoba kembali mencari cara untuk mengobrol dengan atasannya.
"Tidak, ini bukan buatku tapi untuk pasien yang lain. Terima kasih atas bantuannya kamu boleh lanjut bekerja."
"Sudah aku bilang aku jangan terlalu berharap dengan pria seperti pisang itu memiliki jantung tapi tidak memiliki hati. Apakah dia tidak sadar kalau aku sedang mencari perhatiannya." umpat Desi dalam hati sambil berlalu pergi meninggalkan ruangan.
"Desi!"