Sedetail Mungkin

1130 Kata
Petugas penerima pendaftaran klinik pun menghentikan langkah, sesaat setelah dipanggil kembali oleh atasannya. dengan wajah yang mengulum senyum Desi menghadap ke arah Akmal , sambil manggut memberi hormat menunjukkan kesopanan sebagai seorang bawahan. "Iya, Bagaimana Pak?" tanya Desi dengan hati yang sedikit berdegup kencang, berharap sesuatu yang indah akan menimpa hidupnya hari itu. "Seperti hari kemarin, kalau tidak ada lagi pasien yang datang, kamu buatkan janji ulang untuk hari esok, karena saya masih banyak urusan di luar." "Hanya itu Pak?" tanya Desi seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar, Padahal dia sudah bisa memprediksi Apa yang akan terjadi, bahwa atasannya tidak mungkin melihat dirinya dari sudut pandang lain. "Iya, kamu keberatan?" tanya Akmal sambil menatap lekat ke arah bawahnya. "Tidak Pak, tapi ini baru jam 02.00. Apakah dari sekarang saya harus menutup pendaftaran?" "Tidak, sampai jam 03.00 saja. kalau nanti setelah jam 03.00 lewat maka kamu harus menutup pendaftaran itu." "Baiklah Pak, kalau begitu selamat melanjutkan pekerjaan, semoga kopi buatan saya sesuai dengan lidah bapak." pamit Desi sambil manggut memberi hormat kembali kemudian dia pun keluar dengan mengepalkan tangan, seolah kesal dengan dirinya sendiri yang tidak sadar bahwa Desi dan Akmal sangat jauh berbeda. "Kenapa kamu lama sekali masuk ke ruangan Pak Akmal, Apakah dia mengajakmu kencan nanti di akhir pekan?" tanya Lisna sambil melempar senyum ledekan ke arah teman kerjanya. "Mana ada kata kencan dari pria yang sangat datar seperti gedebog pisang itu, Mana mungkin memiliki hasrat untuk berpikir ke arah sana, dia hanya memikirkan pekerjaan, kerja, kerja dan kerja." "Kamu mungkin belum menunjukkan kecantikanmu yang tersembunyi, sehingga dia tidak sadar bahwa ada seorang bidadari yang sedang mengintainya." "Bagaimana dia sadar kalau dia tidak membutuhkan seorang perempuan. sudahlah aku menyerah saja, mendingan Aku mencari pria yang normal-normal saja. Lagian Mungkin dia sudah punya pacar, karena akhir-akhir ini dia sering pulang lebih cepat atau tidak masuk ke klinik." "Baru segitu saja perjuanganmu sudah menyerah. Kamu mungkin membutuhkan kegigihan yang lebih gigih daripada orang lain, karena tidak ada kebahagiaan yang diraih secara cuma-cuma. harus ada keringat darah yang bercucuran baru kesuksesan itu menghampiri." Ingat Lisna yang tidak mematahkan semangat temannya, karena dia juga merasa kasihan dengan Akmal, yang ketika tidak bekerja Dia terlihat termenung seperti sedang memikirkan kehidupan yang begitu berat membelenggunya. "Yah, tapi Cinta itu harus saling berjuang, Bukan berjuang sendirian. makanya ada kata saling mencintai." "Mungkin dia mendapat trauma sebelumnya sehingga kamu harus terus berusaha meyakinkannya. aku yakin dia sangat menginginkan hadirnya seorang perempuan karena beberapa kali aku melihat dia memajang sebuah foto di aplikasi kencan online. itu menunjukkan bahwa dia tidak seperti yang kamu tuduhkan, Pak Akmal memiliki hasrat kepada seorang perempuan. "Masa iya sih, dia sampai segitunya. aku baru tahu kalau dia memakai aplikasi yang begituan." "Dulu pas pertama aku kerja, Dia terlihat sangat Murung sampai akhirnya sering bercerita, karena karyawan kala itu hanya ada lima orang 2 resepsionis 2 perawat dan satu dokter gigi. Kami sering bercerita sampai aku mengetahui kalau Pak Akmal sangat sulit mendapatkan seorang perempuan karena gaya bicaranya yang sangat kaku tidak nyaman untuk diajak mengobrol." "Terus bagaimana dan kenapa sekarang Dia terlihat begitu Acuh kepada para karyawan?" tanya Desi yang terlihat semakin antusias untuk menggali lebih jauh orang yang sedang ia dekati. "Aku dan para karyawan lainnya sering mengenalkan dirinya kepada wanita teman-teman masing-masing, namun wanita itu semuanya menjauh karena Akmal terlalu formal ketika berbicara dia terlalu perfeksionis dalam segala hal. sehingga para wanita pun merasa tidak nyaman mungkin mereka menganggap kalau dalam sebuah hubungan bukan untuk dibebani masalah pekerjaan, Namun hubungan itu adalah penyemangat dalam bekerja." "Kalau yang dibicarakanmu benar, dia sangat kasihan. pasti kehidupannya sangat kesepian, apalagi sekarang dia sudah tidak memiliki orang tua." "Yah, makanya aku sangat mendukungmu mendekati dirinya. dari perempuan-perempuan yang terus menolak Akhirnya dia pun menutup diri dengan karyawan, Mungkin dia merasa minder dengan ketidakmampuan yang ia miliki Padahal kami sangat mensupportnya." Mendengar keterangan dari Lisna, Desi terlihat manggut-manggut seolah mengerti dengan apa yang disampaikan, bahwa Akmal bukanlah pria yang menyimpang namun rasa minder yang begitu tinggi membuatnya menutup diri dan menjadikannya sebagai pria introvert. Suasana klinik menjelang sore terlihat begitu santai, tidak terlalu sibuk seperti tadi siang, pasien-pasien yang datang hanya sedikit dan lebih banyak beristirahat. sehingga memberikan keleluasaan lidah dan Desi untuk terus merumpi. Kring, kring, kring! "Yah, kenapa Pak Akmal?" tanya Lisna yang mengetahui bahwa yang menghubunginya adalah pemilik klinik. "Kalau ada pasien yang hendak memeriksakan giginya, tolong aturkan jadwal untuk besok pagi!" "Baik Pak!' jawab Lisna sambil menutup teleponnya kembali. Tak lama diantaranya pintu ruangan dokter gigi pun terbuka, lalu keluarlah Akmal dengan berpakaian yang terlihat sangat rapi dengan baju kemeja yang dimasukkan, sepatu hitam yang ia kenakan terlihat begitu mengkilap, dipadukan dengan kacamata yang tidak pernah lepas dari atas hidungnya. pria introvert itu terus berjalan melewati meja resepsionis, sehingga Lisna dan Desi pun bangkit untuk memberi hormat, namun seperti biasa Akmal hanya manggut tanpa melempar seutas senyum kemudian dia pun keluar dari klinik. "Tuh kan dia tidak menyapa kita." ujar Desi melaporkan sikap atasannya. "Itu bukan hal yang aneh, kalau dia menyapa barulah itu adalah hal yang aneh, karena sudah kebiasaannya Pak Akmal terlihat datar." "Kamu kan sudah menikah dan sudah memiliki anak, Bagaimana cara menunjukkan seorang wanita yang dibatasi oleh norma-norma yang ada, untuk mendekati seorang pria yang kamu sukai?" tanya Desi yang terlihat maju mundur ketika hendak mendekati atasannya. "Aku bukan menggurui orang lain, tapi kalau mau menerima saranku mendingan kamu sekarang membuat akun di aplikasi kencan, dan perlahan-lahan kamu mulai mendekatinya dengan cara ketidaksengajaan. sehingga kita sebagai perempuan tidak kehilangan harga diri karena kita mengejar laki-laki, Jangan sampai kita dituduh sebagai wanita yang tidak diperjuangkan." "Tapi bagaimana kalau ada pria lain yang mendekatiku?: "Itu adalah pilihan yang bagus, kamu bisa memacari kedua-duanya. dan nanti kamu bisa memilih mana yang terbaik yang menurutmu bisa memberikan kebahagiaan." "Benar juga ya! soalnya aku merasa takut kalau harus memiliki suami yang tidak bertanggung jawab. aku melihat Pak Akmal memiliki semua kriteria yang dibutuhkan untuk menjadi kepala rumah tangga." "Ya sudah, Jangan membuang waktu nanti keburu direbut oleh orang lain. sekarang kamu sudah memulai perjuangan" "Emangnya dia memakai aplikasi kencan yang mana?" "Kalau tidak salah di semua aplikasi kencan Dia memiliki akun." jawab Lisna seolah yakin dengan apa yang dikerjakan oleh Akmal Sanjaya. "Terus bagaimana nanti aku mencari akunnya, aku takut kalau dia memakai nama samaran?" "Tidak, Akmal bukan orang seperti itu. dia selalu jujur dengan apa yang ia miliki. bahkan hobi yang sangat tidak wajar ditekuni dia pajang di biodata akun kencannya." "Memangnya Apa hobi dia?" "Melukis pesawat dan memiliki hewan peliharaan kura-kura yang bernama Robi." jawab Lisna dengan begitu yakin. Tanpa membuang waktu Desi pun mulai membuat akun di salah satu aplikasi kencan, waktu yang sudah semakin sore membuat para pasien yang berkunjung tidak membludak seperti tadi siang, membuat mereka memiliki keleluasaan untuk mengintip kebiasaan-kebiasaan Akmal lewat dari sebuah aplikasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN