Sore hari di kota Jakarta, waktu itu kira-kira pukul 03.00. adzan asar berkumandang, matahari dari ufuk barat terlihat masih memancarkan sinarnya, namun tidak setarik tadi siang, apalagi ada awan hitam yang menutupi. di jalanan kota terlihat mobil masih berlalu-lalang, meski belum sepadat beberapa jam yang akan datang, karena waktu itu para karyawan masih berada di kantornya, mungkin sedang bersiap-siap untuk pulang ke rumah.
Dokter Akmal Sanjaya terus mengemudikan mobilnya, meninggalkan klinik bergabung dengan kendaraan-kendaraan lain, yang terlihat tak lelah terus berjalan. para Pengantar paket terlihat sibuk mendatangi satu persatu rumah ataupun gedung customernya, begitupun para ojek online mereka masih bersemangat mengantarkan para penumpang, meski kelelahan tergambar di wajah. di samping kanan kiri trotoar, para pedagang kaki lima mulai bersiap-siap membuat tenda darurat, untuk melindungi jualannya dari hujan yang masih sering turun.
"Semua peralatan sudah komplit, tinggal aku melaksanakan eksekusinya. tapi aku harus tetap berhati-hati supaya mereka tidak menganggapku bodoh." gumam Akmal matanya tetap fokus menatap jalan yang akan dipijak.
Mobil yang dikemudikan terus melaju sesuai dengan apa yang dia inginkan, sampai akhirnya tiba di salah satu rumah, dengan segera dia pun masuk ke dalam untuk membersihkan badan terlebih dahulu, setelah itu dia pun keluar kembali dengan berpakaian yang berbeda dari biasanya. Akmal kala itu menggunakan jaket kulit, celana jeans, kacamata Min berwarna hitam dan sebuah topi yang menutupi sebagian wajahnya.
Akmal dengan penampilan yang berbeda, dia pun berdiri di dekat pintu gerbang seperti sedang menunggu seseorang. benar saja tak lama diantaranya, ada ojek online yang menghampiri setelah memastikan bahwa Akmal yang memesannya, mereka pun pergi meninggalkan rumah.
Semakin sore suasana kala itu semakin terlihat gelap, awalnya diprediksi tidak akan hujan. namun tanda-tanda itu sudah terlihat dengan awan hitam yang menggumpal menutupi cahaya matahari membuat orang-orang yang masih berada di luar, mereka bergegas menuju rumah masing-masing agar tidak basah terkena air hujan.
"Rental mobil yang ini bukan Pak?" tanya driver ojol ketika sampai di salah satu tempat penyewaan mobil.
"Benar ini tempatnya Pak." jawab Akmal yang duduk di belakang.
Driver ojol pun menghentikan motornya tepat di parkiran, setelah membayar sesuai dengan aplikasi driver ojol pun berpamitan. Sedangkan Akmal masuk kembali ke dalam yang terlihat masih buka, karena waktu itu baru pukul 04.00 sore lebih.
"Selamat sore Pak, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang sales sambil manggut memberi hormat.
"Saya mau bertemu dengan mbak Anisa, Apakah dia masih ada di sini?"
"Ada Pak, sebentar saya panggilkan, Silakan duduk terlebih dahulu." jawab sales itu kemudian meninggalkan Akmal untuk memanggil temannya.
Tak lama diantaranya, dia pun sudah datang kembali ditemani oleh seorang perempuan yang tadi siang ditemui oleh Akmal. wanita bernama Annisa itu mengulurkan tangan untuk mengajak bersalaman, kemudian duduk di hadapan Akmal.
"Bagaimana Pak, Ada yang bisa saya bantu?" tanya Anisa seperti biasa layaknya seorang sales pada umumnya.
"Begini Mbak Anisa, saya tidak jadi menyewa mobil besok. Namun saya mau menyewanya hari ini juga, karena anak saya sudah ingin berangkat."
"Baik Pak, mobil mana yang akan dijadikan teman untuk menemani liburan keluarga Bapak."
"Kayaknya saya pakai mobil Minibus yang tahunnya masih muda, Karena kalau memakai mobil sedan yang tadi, saya takut nanti mogok di jalan."
"Minibus yang berwarna merah itu bukan?" tanya Annisa sambil menunjuk salah satu mobil yang berada di tempat itu.
"Benar yang itu. tadi Harga sewanya berapa?"
"Yang itu harga sewanya Rp300.000 per hari, Namun kalau satu hari satu malam dikenakan tarif Rp500.000 tanpa sopir."
"Kalau begitu saya sewa untuk 3 hari saja, nanti kalau mau menambah bisa transfer kan?"
"Bisa pak, bisa sekali. ya sudah tolong isi data diri Bapak di sini." jawab Anisa sambil memberikan sebuah formulir penyewaan mobil yang ada di kantornya.
Akmal pun mulai mengisi biodata dirinya dan melengkapi persyaratan-persyaratan penyewaan. mulai dari membayar uang sewa, sampai menyerahkan fotocopy identitas diri. Setelah semuanya selesai Anisa pun memberikan kunci mobil yang hendak dipakai oleh Akmal.
"Semoga liburan Anda menyenangkan, Terima kasih sudah mempercayakan kepada kami untuk menemani perjalanan keluarga Bapak." ujar Anisa dengan bahasa yang format ketika Akmal hendak pergi meninggalkan rental mobil.
Akmal Terus mengemudikan mobil sewaannya menuju salah satu tempat. awan hitam yang semakin lama semakin terlihat menggumpal, membuat lampu-lampu jalanan yang otomatis dengan kegelapan mulai menyala. dan tak lama diantaranya hujan pun mengguyur kota Jakarta, namun itu tidak menyurutkan niatnya untuk melanjutkan perjalanan.
Seperti biasa di tengah jalan Akmal sempat mampir untuk membeli burger kesukaannya, di tempat-tempat yang menjadi akan layanan drive true. setelah itu dia pun melanjutkan kembali perjalanan hingga akhirnya dia tiba di salah satu perumahan yang mewah, dia masuk ke dalam kemudian memarkirkan mobilnya di pinggir sebuah jalan Komplek yang terlihat agak luas, supaya tidak mengganggu pemilik rumah ketika hendak keluar.
Sambil mengunyah makanan, matanya terus memindai salah satu rumah yang berada tepat di hadapannya. sesekali Dia mencatat aktivitas yang sedang dikerjakan supaya nanti tidak lupa.
"Kayaknya rumah itu nampak sepi, tak berpenghuni. tapi aku tidak boleh gegabah, aku harus memperhatikan semuanya aku tidak harus buru-buru yang terpenting semuanya bisa sempurna." gumam pria introvert itu sambil terus mengunyah.
Suasana di luar mobil terlihat hujan masih turun dengan deras, sesekali terlihat ada kilatan cahaya yang disusul dengan suara petir yang menggelegar. wajah Akmal yang berada di dalam kegelapan sekali terlihat. dari arah jauh terdengar sayup-sayup adzan maghrib berkumandang sampai akhirnya hujan itu mulai berhenti, menyisakan gerimis yang masih turun namun rumah yang sedang dipantau belum memberikan sedikitpun perubahan.
"Dasar orang tidak tahu diri, suami sudah meninggal bukannya mengadakan acara tahlil, ini malah sibuk mengurus restoran. memang benar-benar wanita kurang ajar, yang harus diberi pelajaran." gumam Akmal yang terlihat sedikit tidak sabar karena sudah terlalu lama menunggu.
Untuk mengusir rasa bosan Akmal pun mengeluarkan handphone, kemudian membuka aplikasi-aplikasi sosial media yang sudah lama tidak ia lihat, karena terlalu sibuk berhubungan dengan Shakila. namun ketika dia membuka sebuah aplikasi kencan dia melihat ada pesan yang masuk.
"Tumben-tumbenan ada Messenger yang masuk. jangan-jangan seperti yang sudah-sudah, pria homo yang sangat kesepian " gumam Akmal sambil membuka aplikasi pesan itu namun ketika dia melihat dia pun sedikit terkejut karena yang mengirimkan pesan adalah seorang perempuan.
"Desi, siapa Desi?" tanya Akmal sambil mengerutkan dahi kemudian dia mengklik profil wanita yang mengirimkan pesan, sayang biodatanya belum terisi dengan lengkap.
"Iya salam kenal juga, Maaf ini siapa ya, Kok profilnya tidak ada foto?" balas Akmal melalui chat.
Namun sayang chat balasannya tidak dibalas langsung oleh wanita yang mengirimkan pesan, membuat Akmal melihat-lihat wanita-wanita cantik yang sedang mencari pasangan hidup.
"Semuanya yang berada di aplikasi kencan ini wanitanya sangat cantik-cantik, Namun sayang tidak ada salah satu dari mereka yang tertarik denganku. ada yang tertarik itu hanya memanfaatkan."
Tring!
Bunyi notifikasi pesan pun terdengar, dengan segera Akmal pun membuka pesan yang dikirimkan oleh wanita yang menyapanya.