"Mohon maaf Kak, aku belum menggunakan foto profil soalnya aku baru bergabung dengan aplikasi kencan online." balas wanita misterius yang menyapa Akmal lewat aplikasi kencan
"Oh tidak apa-apa, tapi apakah nama Desi ini seorang cewek ataupun cowok?" tanya Akmal kembali ingin memastikan bahwa orang yang sedang dicatnya adalah seorang perempuan.
Wanita itu tidak langsung menjawab seperti Sedang berpikir mencari jawaban yang pas untuk berbicara dengan orang seperti Akmal, karena tidak mungkin ada seorang nama Desi itu berjenis kelamin seorang laki-laki.
"Kenapa kamu tidak balas, Kamu lagi sibuk ya?" tanya Akmal untuk yang kedua kalinya.
"Yah saya seorang perempuan, makanya saya menggunakan nama Desi. kalau saya seorang laki-laki Mungkin saya akan menggunakan nama Deri ataupun Zaki."
"Maaf kalau pertanyaan saya tidak berkenan di hati Mbak Desi, karena Mbak tidak menggunakan foto profil sehingga saya menerka-nerka kemana-mana."
"Mohon maaf kalau membuat kakak tidak nyaman."
"Jangan panggil kakak karena aku tidak memiliki adik. panggil nama saja mungkin kita seumuran Ataupun mungkin kamu lebih tua."
"Yah Pak Akmal." jawab wanita misterius itu dengan singkat, mungkin dia sadar kalau Akmal benar-benar tidak enak untuk diajak mengobrol.
"Memangnya Umurmu berapa sekarang?"
"Umurku sekarang 25 tahun."
"Oh itu tidak jauh berbeda dengan umurku. hanya berbeda awalannya saja. kamu dua aku tiga." balas Akmal Mungkin dia mengajak wanita itu untuk bercanda, namun lelucon yang diberikan tidak lucu sama sekali.
Desi hanya mengirimkan balasan dengan mengirim emoticon tersenyum, kemudian menghilang seperti wanita-wanita yang pernah mendekati Akmal, namun pria yang sudah senang disapa dengan segera mengirimkan pesan kembali.
"Kamu sibuk apa, kok balas chatnya lama sekali?" pesan yang sangat menyebalkan dikirimkan oleh Akmal, Tidak sepantasnya orang yang baru kenalan memaksa untuk membalas chat tepat waktu.
"Aku tidak sedang sibuk Aku sedang di rumah aja. mungkin Bapak yang sedang sibuk karena beberapa hari terakhir ini sering pulang cepat." balas pesan yang dikirimkan oleh perempuan bernama Desi, namun pesan itu dengan segera ditarik.
"Kenapa pesannya Kok dihapus, ingat malaikat sudah mencatatnya." tanya Akmal diakhiri dengan emoticon tersenyum.
"Tidak tidak apa-apa, Mohon maaf Pak saya harus tidur lebih cepat, Besok saya harus bekerja."
"Memang kamu kerja di mana?" tanya Akmal tidak memperdulikan wanita yang sudah berpamitan.
"Di Jakarta Pak, Mohon maaf saya harus beristirahat, kita lanjut chat besok saja."
"Tunggu dulu sebentar, aku boleh meneleponmu?"
"Boleh tapi tidak sekarang. aku benar-benar ingin beristirahat."
"Ya sudah, aku minta nomor handphone mu."
Setelah permintaan itu dikirimkan Desi tidak langsung membalas membuat Akmal kembali memfokuskan pandangan menatap ke salah satu rumah yang sedang diintai, yang sejak dari tadi sore Belum menunjukkan perubahan bahkan lampu di dalam rumah terlihat belum menyala.
"Ke mana mereka, sampai semalam ini belum juga pulang?" tanya Akmal di dalam hati tangannya Mulai mengambil kembali burger yang masih tersisa, kemudian memakannya untuk mengisi perut agar tidak terlalu keroncongan.
Kring, kring, kring.
Suara teleponnya pun berbunyi, dengan segera Akmal pun melihat Siapa yang memanggil, kemudian menempelkan ke telinganya setelah menggeser tombol berwarna hijau ke arah atas.
"Kamu sudah makan apa belum?" tanya Bu Ati yang setiap malam akan menyempatkan diri untuk meneleponnya.
"Sudah bi, Akmal sudah makan."
"Sebentar, Kenapa suaramu menggema, kamu sedang berada di mana?" tanya Bi Ati yang menangkap perubahan terhadap keponakannya.
"Aduh, mohon maaf Bi Akmal tidak bisa menjawab. tapi bibi juga bisa pasti sudah bisa menebak."
"Kurang ajar amat kamu mengangkat telepon di kamar mandi sambil ngeden."
"Hehehe, bibi neleponnya saja yang tidak tepat waktu."
"Halah menjijikan saja! ya sudah kalau habis beol kamu rapikan mainanmu dan pergi tidur, jangan banyak bergadang itu tidak baik untuk kesehatan." perintah bibinya sambil mematikan telepon membuat Akmal menarik nafas lega, karena tidak harus berlama-lama mengobrol dengan bibinya.
Setelah mematikan telepon Akmal melihat kembali ada pesan yang masuk, kemudian membukanya dan ternyata itu adalah nomor yang diberikan oleh Desi. tanpa membuang waktu Akmal pun menyimpannya kemudian telepon lewat aplikasi pesan berwarna hijau berlogo telepon.
"Halo apakah benar ini dengan Desi yang ada di aplikasi kencan?" sapa Akmal setelah teleponnya terhubung.
"Benar, mohon maaf anda siapa ya?" Jawab Desi balik bertanya.
"Saya dokter Akmal Sanjaya, dokter gigi yang membuka klinik di jalan Ahmad Yani Nomor 135." jawab Akmal dengan sejujur-jujurnya.
"Senang berkenalan dengan Pak dokter gigi yang sangat terkenal di kota ini."
"Oh ya, Kamu tinggal di mana?" Akmal kembali bertanya ingin mengenal lebih jauh dengan wanita yang baru saja menyapanya.
"Saya tinggal di Jalan Pegangsaan Timur tidak jauh dari Jalan Ahmad Yani."
"Waduh ternyata kita berdekatan ya, tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu dan aku juga belum tahu Wajahmu seperti apa?"
"Mohon maaf Pak Dokter Saya malu menunjukkan wajah saya yang jelek ini, tapi kalau Pak Dokter mau melihat Lebih Baik Pak Dokter bertemu secara langsung."
"Itu lebih bagus untuk kita agar kita tidak tertipu Oleh foto yang sudah banyak di manupulasi dengan filter-filter jahat yang sangat mudah digunakan.
"Seperti foto Pak dokter yang terlihat masih muda?"
"Tidak saya tidak melakukan hal kurang kerjaan seperti itu, karena Kejujuran adalah hal yang paling utama dalam kehidupan. Kalau kamu tidak percaya kamu boleh menelepon resepsionis Rumah Sakit Harapan sembuh, Foto itu diambil dua bulan yang lalu di sana."
Mendengar penjelasan Akmal wanita itu terdengar cekikikan, mungkin penjelasan dari Akmal membuatnya merasa lucu, karena kalau untuk menjawab Apakah Akmal menggunakan foto asli ataupun editan itu cukup simpel tinggal berkata bahwa itu foto yang asli, tidak harus menyertakan alamat lengkap pengambilan fotonya.
"Kenapa kamu malah tertawa Apakah saya harus mengirimkan nomor teleponnya sekarang?"
Wanita yang bernama Desi tidak kuat lagi rasa gelinya, sehingga gelak tawa pun terdengar karena menurut dirinya Akmal sangat lucu, padahal pria introvert itu berbicara seperti biasanya. Dan mungkin inilah yang membuat para wanita ilfil berdekatan dengan Akmal.
Tut, tut, tut!
"Yah dia marah, kenapa teleponnya dimatikan? lagian Kenapa aku tidak bisa mengontrol tertawa sehingga membuatnya tersinggung. bodoh memang bodoh...!" gumam wanita itu sambil menyimpan handphonenya kemudian melanjutkan tertawa yang sudah tidak bisa lagi ditahan
Sedangkan yang mematikan, telepon dia tidak sedikitpun merasa marah, ditertawakan, di cemooh, dihina sudah menjadi makanan sehari-hari. Akmal mematikan teleponnya karena rumah yang diintai terlihat menunjukkan pergerakan dengan adanya mobil yang masuk ke dalam. Tak lama diantaranya ada dua orang yang keluar dengan penuh kebahagiaan mereka saling menggenggam erat kemudian masuk ke dalam rumah.