Mengintai

1154 Kata
Akmal mengeluarkan buku catatan kecil kemudian melihat jam untuk menuliskan kegiatan kedua orang yang baru keluar dari mobilnya. Mereka terlihat sangat mesra dengan saling menggandeng pinggang, bahkan yang pria tidak senggang-senggan melepaskan ciuman lembut ke pipinya, seolah dunia ini milik mereka berdua. Gandengan itu tidak terlepas sama sekali, walaupun ketika membuka kunci pintu rumah, seolah tidak memperdulikan Akmal yang sedang memantau. ketika masuk lampu pun mulai menyala memberikan penerangan di sekitar area rumah. "Haduh kenapa aku lupa, kalau aku belum mencoba kuncinya? siapa tahu aja kunci duplikat ini tidak bisa digunakan." umpat Wira yang merasa menyesal kenapa tidak ada dari tadi dia berpikir ke arah sana. "Tapi tidak apa-apa masih banyak waktu untuk mencobanya. aku tidak perlu terburu-buru, yang terpenting sekarang aku sudah mengetahui jam mereka pulang." lanjutnya sambil memasukkan Catatan Kecil ke dalam saku kemejanya. Setelah memantau beberapa saat Akhirnya dia pun memutuskan untuk pulang kembali ke rumah, menyiapkan tenaga untuk rencana rencana selanjutnya, yang hendak mengembalikan rasa sakit yang pernah diberikan. malam terasa dingin, Tidak seperti biasanya yang sangat panas, mungkin gara-gara hujan yang masih mengguyur meski dalam keadaan gerimis. lampu lampu Jalan terlihat sangat redup, jalanannya terlihat mengkilap ketika ada Seberkas cahaya dari sorot lampu mobil yang lewat menimbulkan sedikit bayang Semu di tengah-tengah keheningan malam. Akmal terus mengendarai mobil, sampai dia melihat sebuah hotel, dan pikirannya pun mulai terbuka karena secara tidak langsung dia sedang membawa barang bukti. "Benar aku harus menitipkan mobil ini di parkiran, agar tidak ada yang mencurigaiku." putusnya sambil memutar kemudi ke samping kiri lalu masuk ke sebuah parkiran. Sebelum keluar Akmal memesan taksi online, soalnya keadaan di luar masih gerimis. dia tidak mau kesehatannya terganggu gara-gara terkena air hujan. tak lama diantaranya notifikasi pesan pun berbunyi memberitahu bahwa mobil yang dia pesan sudah menunggu di halte depan. Tanpa membuang waktu, Akmal pun keluar dari parkiran Hotel, melewati satpam yang menjaga tempat parkir, kemudian dia menuju mobil yang terlihat sudah menunggu. "Pak Akmal Sanjaya?" tanya sopir sambil menurunkan kaca jendela. "Ya pak, saya Akmal Sanjaya." Setelah merasa yakin bahwa orang yang menghampiri adalah customernya, Sopir itu membuka kunci pintu untuk mempersilahkan Akmal masuk ke dalam, supaya dia bisa cepat menyelesaikan tugasnya. "Jalan Fatmawati Komplek Nuansa Indah?" tanya sopir seusai melihat Akmal duduk dengan tenang. "Ya pak, Tolong antarkan saya ke sana!" Tanpa mengajukan pertanyaan lagi, sopir pun mulai melepaskan kopling dan menginjak gas secara perlahan, hingga mobil itu mulai melaju meninggalkan area hotel tempat Akmal menitipkan mobil. Di perjalanan tidak ada yang mengobrol sama sekali, mereka terfokus dengan pekerjaan masing-masing. Akmal terus memikirkan rencana-rencana yang akan ia kerjakan, sedangkan sopir terus fokus memperhatikan jalan yang terlihat sangat licin Beberapa saat berlalu, akhirnya mobil yang ditumpangi Akmal pun tiba di tempat tujuan. setelah membayar tagihannya Akmal masuk ke dalam rumah untuk beristirahat, namun sebelum ia tidur tak lupa memberikan pakan kura-kura kepada Robi. ~ Keesokan paginya, suasana di klinik terlihat begitu hangat. cahaya matahari dari ufuk timur menembus melewati jendela jendela yang besar. Para cleaning service terlihat sibuk membersihkan seluruh ruangan, Begitu juga dengan para staf medis yang menyiapkan alat-alat pekerjaannya. Desi yang tadi malam menghubungi Wira melalui chat yang ada di aplikasi pesan, Dia menceritakan semua yang terjadi kepada teman kerjanya yang bernama Lisna. "Kamu harus lebih bersabar dan harus lebih berjuang, melihat Dari gelagatnya Akmal bukan pria yang mudah untuk ditaklukan." tanggap Lisna setelah mendengar cerita temannya. "Tapi apa dia tidak akan memecatku kalau mengetahui aku menghubunginya?" tanya Desi penuh kekhawatiran. "Tidak mungkin memecatmu karena itu bukan kesalahan dalam pekerjaan. Lagian kalau dipecat juga kamu tidak akan penasaran karena kamu sudah berusaha mendekatinya." "Ya Jangan begitulah! kamu membuatku semakin takut. mencari pekerjaan di zaman sekarang sangat sulit, seperti mencari jarum ditumpukan jerami." "Semua tindakan yang kita ambil pasti akan ada resikonya, baik itu kebahagiaan ataupun kesedihan. kalau kamu ragu dengan tindakan yang kamu ambil mendingan kamu tidak usah melanjutkan." Mendengar perkataan sahabatnya, Desi pun termenung menimbang baik buruknya apa yang akan terjadi ketika dia mendekati atasannya. namun setelah dipikir dia sudah kepalang tanggung basah sudah mencebur mengikuti naluri hatinya. "Kenapa kamu diam? Kalau kamu ragu mendingan menyerah dari sekarang, supaya tidak banyak energi yang keluar." ujar Lisna setelah tidak mendapat tanggapan. "Ya benar dengan apa yang kamu ucapkan. semua pekerjaan pasti memiliki resiko masing-masing, Aku akan mencoba mengambil resiko terburuknya. "Nah begitulah kalau mau mencari kebahagiaan, harus melewati duri-duri tajam sebagai pengganggunya." "Tapi menurutmu, sebaiknya Aku Jujur bahwa aku adalah bawahannya, ataupun tetap seperti rencana semula." "Aku yakin kamu sudah bisa memilih mana yang terbaik untuk dijalani. maka lakukanlah apa yang menurutmu benar." Mereka berdua pun berhenti berbicara ketika melihat ada sosok kakek-kakek tua yang datang menghampiri, dengan ramah penuh Senyum mereka berdua pun menanyakan keluhan orang yang hendak berobat. Lisna dan Desi pun mulai disibukkan dengan mendata pasien-pasien yang datang ke klinik Akmal Sanjaya, mereka bekerja seperti biasanya, seperti tidak terjadi sesuatu. bahkan ketika Akmal lewat Desì terlihat cuek seperti biasa, menyapa dengan penuh hormat. Hari itu dilalui seperti hari biasanya, para pengunjung terus berdatangan untuk memeriksakan kesehatan dibantu oleh Lisna dan Desi untuk mengarahkan ke mana mereka harus dirawat sesuai dengan keluhan masing-masing. sampai akhirnya waktu pulang pun tiba, Akmal terlihat kembali melewati meja resepsionis yang disapa oleh Lisna, sedangkan Desi hanya tertegun malu dengan apa yang sudah ia kerjakan. Setelah keluar dari kliniknya. Akmal pun bergegas pergi dengan mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah. membersihkan tubuh lalu mengganti pakaian dengan pakaian yang seperti kemarin ia kenakan. memakai jaket kulit, celana jeans dan kacamata berwarna hitam. tak lupa topi yang menutupi sebagian wajah. sebelum pergi dia pun mengambil kotak kecil yang sejak kemarin ia sediakan. Setelah semuanya dirasa rapi Akmal memesan ojek online untuk mengantarnya mengambil mobil yang dititipkan di parkiran hotel, lalu berdiri di depan rumah untuk memudahkan penjemputan. tak lama diantaranya ojek yang dipesan pun datang dan mengantarkannya ke tempat yang dituju . "Haduh! gara-gara banyak pasien yang datang, aku harus pulang seperti biasa. tapi aku yakin kalau jam segini mereka belum pulang, soalnya tadi malam juga mereka baru pulang ketika pukul 09.00." gumam hati Akmal ketika dia sudah mengendarai mobil sewaannya. Kala itu Jalanan sudah mulai macet, para pekerja mulai memadati jalan-jalan utama untuk pulang kembali ke rumah. Begitu juga dengan halte busway ataupun stasiun kereta terlihat di penuhi oleh para penumpang, berbaris dengan rapi menunggu kereta yang akan mengantarnya tiba. matahari dari ufuk barat tidak terlihat sama sekali, sepertinya Hujan akan kembali turun, seperti hari kemarin yang mengguyur kota Jakarta sampai malam. "Ayo dong jangan macet, nanti mereka keburu pulang." gumam Akmal ketika melihat mobil yang berada di depannya berhenti. Keadaan jalan ketika sore hari memang tidak bisa dihindari dari kemacetan, banyaknya pekerja yang pulang menggunakan kendaraan pribadi membuat jalanan terasa penuh sesak. tapi dengan perjuangan yang begitu gigih akhirnya Akmal pun tiba di tempat yang dituju. Setelah mematikan mesin mobilnya, Akmal mengambil sarung tangan medis yang terbuat dari karet. kemudian mengambil perlengkapan perlengkapan yang sudah disiapkan beberapa hari sebelumnya. mulai dari obat tidur, kunci duplikat, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN