Menyelinap

1230 Kata
"Gara-gara macet, aku harus secepatnya masuk ke dalam rumah, takut mereka keburu pulang." ujar Akmal sambil keluar dari dalam mobil, sebelum berjalan dia pun memindai keadaan sekitar yang nampak sepi. Suasana kala itu sudah terlihat gelap, dari arah jauh terdengar sayup-sayup orang sedang bersholawatan untuk menyambut azan maghrib tiba. awan yang mendung terlihat masih memeluk langit, lampu-lampu kotak mulai menyala menciptakan siluet gedung-gedung tinggi yang kontras dengan langit yang berwarna abu-abu, menciptakan suasana misterius di perumahan yang sedang didatangi oleh Akmal, karena orang-orang di situ masih berada di jalan pulang ataupun sudah berada di rumah namun enggan keluar ketika menyaksikan suasana sore hari yang tidak mengindahkan. Akmal terus berjalan menuju ke salah satu rumah yang berada di seberang jalan dengan penuh kehati-hatian, takut bertemu satpam atau warga sekitaran Kompleks. namun beruntung waktu itu masih terlihat sepi sehingga dengan mudah dia pun masuk ke dalam pintu gerbang yang tidak dikunci. "Memang kalian sangat gegabah, sampai-sampai membiarkan pintu gerbang tidak dikunci." gumam Akmal sambil kembali menutup pintu gerbang kemudian dia berjalan Kembali menuju ke pintu rumah Dari arah jauh terdengar sayup-sayup adzan maghrib berkumandang, mengingatkan bahwa warga Kota Jakarta agar segera menghentikan aktivitas untuk sejenak mengingat sang penciptanya. namun pria introvert yang sudah diselimuti oleh rasa dendam dia tidak memperdulikan hal itu, dengan segera dia mengeluarkan kunci duplikat kemudian dimasukkan ke lubangnya. Ceklek! Terdengar kunci pintu yang bisa dibuka membuat Akmal terlihat mengulum senyum merasa puas dengan apa yang sudah ia kerjakan, tanpa membuang waktu Akmal pun masuk ke dalam kemudian mengunci pintunya kembali agar tidak membuat orang curiga. Suasana di rumah terlihat sangat redup karena hanya lampu tengah yang dinyalakan, sedangkan lampu-lampu Lain terlihat masih mati. Akmal dengan perlahan dan penuh kehati-hatian memindai keadaan sekitar dengan remang-remang, kursi sofa terlihat berbaris rapi di ruang tamu. Akmal berjalan menuju ruang tengah di mana, di tempat itu sangat terang dari lampu yang berada di atas. "Aku harus mencari makanan mereka, supaya aku bisa menggunakan obat tidur." pikir Akmal sambil melanjutkan kembali, langkahnya menuju ke dapur. Sesampainya di sana Akmal kembali berdiri memindai keadaan sekitar yang tidak nampak jelas. Akmal merogoh kantong celananya kemudian menyalakan Flash handphone, sehingga bisa membantu Akmal melanjutkan aktivitas. meski tidak terlalu terang namun cukup untuk memindai keadaan sekitar yang terlihat sangat rapih dan bersih, di sudut kiri terlihat ada tempat penyimpanan kompor, berdampingan dengan rak piring. di samping kanan ada sebuah kulkas yang terdengar bergemuruh . Akmal mendekati lemari pendingin itu kemudian membuka pintunya, terlihatlah rak-rak yang dipenuhi oleh berbagai macam makanan segar dan minuman. ada pula sayuran-sayuran berwarna-warni seperti wortel, tomat, bayam yang tersusun rapi di bagian bawah, buah-buahan segar seperti apel dan jeruk ditempatkan di bagian atas mungkin agar mudah menjangkaunya. Beberapa kotak plastik berisi makanan sisa yang mungkin akan dimakan kembali, seperti ayam panggang, tempe dan tahu goreng, dan ada pula yang berisi tumis sayur bayam yang akan dihangatkan. di bagian pintunya berderet rapi minuman-minuman mulai dari air mineral, s**u, jus buah dan minuman-minuman kaleng lainnya. terdapat juga beberapa protein mulai dari daging dan telur yang disimpan di bagian freezer. Akmal terlihat tertegun sesaat, merasa bingung harus memilih makanan yang mana yang akan dicampuri obat tidur, kalau dia salah memilih maka pekerjaan yang sudah disusun dengan rapi akan menjadi sia-sia. "Ngapain Aku susah susah memilih, aku campur saja ke semua makanan yang ada." umpat Akmal sambil mengeluarkan beberapa makanan yang berada di dalam toples. Dengan penuh kehati-hatian dan diterangi cahaya dari flash handphonenya Akmal pun mulai membagi obat tidur ke setiap makanan yang mudah menyerap serbuk obat tidur. Setelah semuanya dirasa rapih Akmal menutup kembali penutup obat tidurnya kemudian memasukkan ke dalam celana. "Hahaha, Tidurlah kalian dengan lelap, seperti orang yang sudah mati agar aku bisa membalas kejahatan kalian." gumam Akmal sambil kembali memasukkan toples toples makanan ke dalam kulkas. Setelah menutup pintu kulkas, Akmal pun kembali memindai keadaan sekitar, hingga terlihatlah sebuah pintu yang terbuat dari bahan plastik. dengan mengulum senyum Akmal pun mendekat ke arah pintu itu lalu membukanya kemudian mengarahkan cahaya senter handphone ke dalam kamar mandi. "Tidak ada apa-apa di sini, mungkin kamar mandinya berada di kamar utama." pikir Akmal sambil kembali menutup pintu kamar mandi, kemudian dia kembali ke ruang tengah lalu memindai keadaan sekitar yang terlihat nampak ada dua pintu yang terletak di bagian depan dan di samping ruang keluarga. "Mungkin ini kamar utamanya, karena tidak mungkin mereka menggunakan kamar depan." umpat Akmal sambil memegang handle pintu kamar yang berada di dekat ruang tengah, namun setelah dibuka dan diterangi ternyata kamar itu sangat sempit, mungkin ini adalah kamar tamu agar memudahkan mereka ketika hendak menggunakan toilet yang berada di dapur. Setelah tidak menemukan apa-apa, Akmal pun masuk ke kamar yang bersebelahan dengan ruang tamu. benar saja di tempat itu terlihat sangat luas, ranjang yang empuk dilapisi oleh selimut dan bantal yang terlihat rapi di atasnya. jendela yang sangat besar tirainya masih terbuka, pemilik rumah mungkin belum pulang sehingga cahaya remang-remang dari luar terlihat masuk ke dalam. Di bawah bagian ranjang ada lemari besar tempat penyimpanan baju, di samping kanan ada meja rias dengan cermin yang sangat besar, dihiasi lampu-lampu yang berbaris rapi, di setiap sudutnya dan di samping kiri terlihat ada sebuah pintu yang terbuat dari kayu jati. Akmal mendekat ke arah meja rias memperhatikan satu persatu alat make up yang digunakan oleh wanita yang menghuni rumah itu, namun tidak ada satupun yang menarik keinginannya, sehingga dia mulai mendekat ke arah pintu kamar mandi. Setelah membuka pintunya, Akmal kembali mengarahkan flash ponsel ke arah dalam memperlihatkan bathtub yang berada di samping pojok, di ditutupi oleh tirai yang transparan. di tengah-tengah terlihat ada shower yang menggantung dan di hadapannya ada wastafel dengan cermin yang sangat besar, berpadu dengan lantai marmer yang menambah futuristik. Dengan penuh kehati-hatian Akmal pun mendekat ke arah rak yang berdekatan dengan wastafel, dia pun memperhatikan perlengkapan-perlengkapan mandi dan perawatan pencuci muka yang berbaris rapi di atasnya. "Akhirnya ketemu juga, aku harus melakukan ini supaya alergi dermatitis kontakmu kambuh." umpat Akmal sambil mengambil sabun pencuci muka. Setelah menemukan benda yang ia cari, Akmal pun keluar dari kamar utama untuk kembali ke dapur dengan membawa botol sabun pencuci muka. "Rasakan kamu kurang ajar! kamu akan kepanasan dengan rasa gatal yang tak terhingga dengan sabun cuci piring ini." umpat Akmal sambil menuangkan sabun pencuci muka ke wastafel, kemudian mengisi kembali dengan sabun cuci piring, wajahnya terlihat dihiasi oleh senyum merasa puas dengan apa yang sudah ia lakukan. setelah itu dia pun kembali ke kamar utama untuk menyimpan benda yang ia ambil ke tempat semula. "Baru jam 07.00 tepat. aku masih punya waktu 2 jam lagi sebelum mereka pulang aku harus memanfaatkannya untuk mencari barang bukti yang mereka gunakan sebagai ancaman." gumam Akmal ketika melihat jam yang berada di handphonenya. Akmal keluar kembali dari pintu kamar utama kemudian menutup pintunya seperti semula. Akmal berdiri tepat di ambang pintu memindai keadaan ruang tengah yang terlihat ada meja yang dipenuhi oleh cemilan-cemilan ringan di sampingnya ada sebuah laptop yang masih terbuka. "Siapa tahu saja mereka pintar dan mangcofinya ke dalam laptop. Kalau itu terjadi maka aku harus menghapusnya sebelum mereka pulang." umpat Akmal sambil duduk di kursi kemudian menyalakan laptop yang ada di sana. Namun ketika dia sedang menunggu laptop itu booting untuk menyala, dari arah luar terdengar suara orang yang sedang mengobrol. suasana yang sangat sepi sehingga ketika ada pergerakan terdengar begitu jelas. "Iya kamu harus tegas kepada semua Karyawan, supaya mereka tidak berleha-leha dalam bekerja." terdengar suara laki-laki yang seperti mengingatkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN