Setelah berada di luar, Akmal pun mengeluarkan kunci kembali kemudian dimasukkan ke dalam lubangnya. namun ketika hendak diputar kunci itu Sedikit macet karena masih ada kunci yang menggantung dari arah dalam.
"Halah merepotkan saja!" gerutunya sambil membuka kembali pintu Kemudian sedikit menarik kunci yang berada di dalam.
Ceklek! ceklek!
Kunci pintu diputar du kali tidak menimbulkan jejak bahwa ke dalam rumah Shakila dan Rinto baru saja ada orang yang menyusup, soalnya Akmal bekerja dengan penuh kehati-hatian dan penuh ketelitian.
Kala itu langit terlihat gelap dengan awan hitam yang menutupi, menciptakan suasana keangkeran di perumahan Sentosa. hujan deras turun dengan bergemuruh mengguyur bumi begitu lebat, lampu-lampu yang berada di Jalan terlihat sangat redup tertutupi oleh derasnya air yang turun.
Tanpa mempedulikan hujan yang begitu deras, Akmal berlari menerobos guyuran air lebat yang membasahi bumi, menuju mobil yang terparkir di tepian jalan, untuk menjadikan tempat perlindungan sementara sebelum obat yang diberikan bereaksi.
Sesampainya di dekat mobil dengan cepat Akmal membuka pintunya, menyelinap masuk ke dalam, kemudian duduk belakang kemudi. Nafasnya terlihat memburu namun hatinya terasa sedikit lega karena sudah berhasil keluar dari rumah Shakila. tidak seperti gemuruh air hujan yang terus berjatuhan menimpa bagian atas mobil.
Sedangkan Rinto dan Shakila mereka masih terlihat bergulat dengan sentuhan-sentuhan yang menggairahkan, mereka tidak menyadari kalau baru saja ke rumahnya ada penyusup akibat dari rasa sombong yang menyepelekan orang lain sehingga mereka tidak Waspada.
Setelah mencapai kenikmatan masing-masing ,mereka berdua pun mandi bersama sambil sesekali berpelukan, bahkan mendaratkan kecupan kecupan lembut di bagian tubuh sensitif masing-masing. dari kedua sudut bibir mereka terukir senyum penuh kebahagiaan.
"Ayo makan! aku sudah menghangatkan semuanya." ajak Rinto telah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang bersih, membuat tubuhnya merasa hangat di tengah derasnya air hujan yang turun dari luar.
Mereka berdua pun keluar dari kamar kemudian duduk di meja yang berada di ruang tamu, meja serbaguna yang biasa digunakan sebagai tempat makan atau tempat bekerja, yang di atasnya sudah terisi oleh berbagai lauk yang sudah tidak panas lagi, karena permainan mereka lumayan begitu lama.
"Sebentar aku ambil nasinya dulu!" ujar Rinto sambil pergi ke dapur namun tak lama dia pun kembali dengan membawa cup rice cooker yang berisi nasi yang terlihat masih mengepul.
Rinto dengan penuh kasih sayang melayani istrinya dengan mengambilkan nasi beserta lauk yang tadi sudah ia hangatkan,bahkan untuk mengambil sendok Shakila menyuruhnya. namun tidak membuat Rinto merasa terhina karena dia benar-benar mencintai wanita yang sudah berjuang untuk menggapai kebahagiaannya.
"Bagaimana ya, keadaan dokter Akmal Sanjaya?" tanya Rinto di sela-sela kunyahan makanannya.
"Tidak tahu dan aku tidak mau tahu. semoga saja dia cepat mampus! agar tidak mengganggu kehidupan kita lagi." jawab Shakila sambil mengulum senyum mengingat kembali ke kejadian di mana dia memanfaatkan seorang pria introvert yang sangat mudah dikelabui.
"Ya, Aku yakin dia sudah menggantung lehernya, karena frustasi tidak ada wanita yang benar-benar tulus mencintainya."
"Hahaha, aku sudah bisa membayangkan wajahnya yang datar ketika lehernya tercekik oleh tambang.apakah wajah datar itu masih terlihat sama atau berubah menjadi sangat menggelikan?"
"Awalnya aku takut, kalau dia akan terus mengganggu kita. tapi setelah aku berikan satu tamparan yang keras ternyata dia kabur tidak berani mendatangi kita lagi."
"Semoga saja begitu, waktuku terbuang sia-sia kalau hanya untuk memikirkannya. masih ada hal besar yang harus kita pikirkan yaitu mengembangkan restoran yang kita miliki."
Mereka berdua terus menyantap makanan masing-masing dengan begitu lahap, pergulatan yang begitu mengesankan membuat mereka merasa lapar dan membutuhkan energi tambahan. sambil menikmati makanan sambil terus bercerita tentang Akmal, menertawakan kebodohan dan keleguannya, sampai tidak sadar kalau makanan yang masuk ke dalam mulutnya sudah dicampur dengan obat tidur.
Selesai makan, Rinto pun membereskan semua piring-piring kotor untuk disimpan ke wastafel untuk dicuci keesokan pagi. kemudian dia pun kembali menemani Shakila yang masih berada di meja makan.
"Rinto aku tidur duluan, Entah mengapa kepalaku terasa pening dan mataku terasa berat." ungkap Shakila dengan wajah yang lesu bahkan terlihat beberapa kali mulutnya menguap.
"Mungkin Kamu kecapean karena seharian bekerja di restoran, ditambah harus melayaniku yang gagah perkasa .Ya sudah kamu tidur duluan! aku mau merokok terlebih dahulu."
Shakila yang tidak mengetahui dengan perubahan yang menimpa, dia pun bangkit dari tempat duduk kemudian berjalan dengan sedikit sempoyongan menuju ke arah kamar, membantingkan tubuh ke arah kasur yang begitu empuk. tak lama terdengar suara dengkuran sampai ke arah ruang keluarga.
Melihat kejadian itu Rinto hanya tersenyum merasa bahagia sudah bisa kembali hidup bersama kekasih hatinya. Tanpa sedikitpun memiliki rasa curiga, Rinto mengambil sebatang rokok kemudian membakarnya, Hayalnya mulai terbang kembali ke kejadian masa-masa lalu di mana kehidupan mereka sangat susah. Rinto yang bekerja serabutan tidak bisa mencukupi kebutuhan kekasihnya, sampai akhirnya jalan kesuksesan terbuka lebar ketika Shakila didekati oleh Ramlan.
"Memang tidak ada pekerjaan yang menghianati hasil, aku merelakan kekasihku ditiduri oleh pria lain. namun sekarang apa yang aku dapat, restoran dan rumah mewah ini sudah menjadi milik kita." gumam hati Rinto sambil mengempeskan asap dari mulutnya.
Semakin terlarut dalam lamunan semakin terasa nyaman, sampai-sampai rokok yang dipegang ya jatuh ke atas lantai tidak kuat menahan rasa ngantuk akibat kelelahan setelah seharian bekerja.
"Kayaknya tubuhku butuh istirahat." putusnya sambil mematikan rokok yang baru dihisap beberapa isapan. kemudian dia bangkit dari tempat duduknya lalu mematikan lampu yang biasa dimatikan ketika waktu tidur tiba, menyisakan lampu besar yang berada di ruang keluarga.
Rasa aman yang selalu dihadirkan, membuat seseorang tidak memiliki kewaspadaan yang lebih. Sama halnya dengan Rinto yang tidak mengecek kembali pintu, matanya semakin terasa berat dengan sempoyongan Rinto pun berjalan menuju ke kamar, menidurkan tubuhnya di samping Shakila. sampai akhirnya suara dengkuran keras pun saling bersahutan obat tidur yang diminum sudah mulai bereaksi.
*****
Akmal terus memantau rumah yang menjadi fokus perhatian dari balik kaca mobil yang gelap, cahaya lampu jalan yang redup menambah Suasana dingin. namun hujan yang turun tidak sebesar tadi ketika dia keluar dari rumah, menyisakan gerimis yang membuat orang semakin merasa betah untuk beristirahat.
Akmal terus bersembunyi dari balik kaca mobil yang gelap memastikan setiap gerakan dan aktivitas di rumah yang sedang ia amati. sesekali wajahnya terlihat ketika ponselnya dinyalakan menambah kemisteriusan dirinya yang tidak bisa ditebak.
"Kalau sesuai dosis dan anjuran pada dokter, obat tidur akan terasa efeknya antara 15 sampai 30 menit. tapi aku menaruh obat tidur itu tidak sesuai takaran, mungkin butuh waktu 10 menit untuk mereka bisa tidur terlelap." gumam Akmal setelah melihat lampu yang berada di dalam rumah dimatikan.
Dengan penuh kesabaran Akmal terus bersembunyi di dalam mobilnya menunggu momen yang tepat untuk masuk ke dalam rumah milik Shakila, sesekali Dia terlihat melihat handphone untuk menghitung waktu yang tepat untuk melanjutkan misi balas dendam.
Setelah dirasa cukup Akmal mulai kembali mengenakan sarung tangan medis yang terbuat dari karet, sampai dua lapisan. setelah itu dia keluar dari mobilnya mengendap-ngendap mendekat ke arah rumah Shakila.
Setelah sampai di depan pintu, Ia pun berdiri sambil memasang kedua telinga memantau kondisi di dalam rumah yang terlihat sudah sangat sunyi, hanya terdengar suara dengkuran yang begitu keras sampai samar-samar terdengar keluar.
Ceklek! ceklek!