Banyak memori manis yang tercipta di daerah ini yang membuat d**a gue berdesir pelan, terlebih sekarang gue datang bersama tokoh utama di masa itu. Kentang yang tadinya gue sangat inginkan, kini jadi dianggurkan. Memori masa lampau yang berkelebat membuat rasa ingin yang menggebu itu tiba-tiba menguap. "Kok nggak dimakan lagi kentangnya?" tanya Lay heran. "Udah dingin," kayak hubungan kita sekarang... sambung gue dalam hati. Lay kemudian mengambil alih kentang yang ada di tangan gue dan mulai memakannya dalam diam dengan pandangan menerawang, entah memikirkan apa. "Lumayan banyak yang berubah," ucap gue dengan miris, di antaranya bangku, cat, ring basket dan beberapa warung yang dulu merupakan tempat kami menghabiskan istirahat makan siang sudah tidak ada. "Tempat bisa berubah seiring

