#10

1568 Kata
“Egh ," Aca mendorong badan Fariq saat tangan Fariq  menarik tengkuknya dan memperdalam ciumannya. Fariq melepaskan ciumannya dan mereka saling menatap dari jarak yang sangat dekat. Hembusan napas kedunya saling menghangatkan wajah. Lalu terlihat Fariq menormalkan deru napas dan melihat mata Aca yang berkaca-kaca dengan wajah sedih. "Maafkan aku ca,  kenapa kamu terlihat sedih," Fariq akhirnya memeluk Aca dan mendengar suara isakan tertahan. "Kamu tidak akan seperti dia kan Riq, setelah puas menciumi ku, setelah puas memeluk dan mengelusku lalu membuang aku?" suara Aca terdengar lirih diantara tangisannya. "Nggak Ca, nggak,  segitu takutnya kamu memulai perjalanan baru,  hanya karena orang tak tahu malu itu?" Fariq mengelus lembut punggung Aca. "Dulu dia juga seperti ini Riq, lembut padaku, tidak pernah sekalipun kasar padaku, makanya aku selalu berharap lebih pada perjalanan kami,  dia menjaga aku dan....," jari-jari Fariq menyentuh bibir Aca, mencoba menghentikan ucapan Aca. "Bisakan Ca kamu tidak berbicara tentang dia jika denganku, seolah kamu membandingkan aku dengannya, seolah aku sama brengseknya dengannya?" Fariq melepas pelukannya, melihat mata basah wanita yang ingin ia sembuhkan. "Maafkan aku Riq, aku tidak bermaksud begitu,  aku hanya takut," suara Aca terdengar mencicit dan seketika pembicaraan mereka terputus saat ponsel Fariq berbunyi. Fariq mengecup kening Aca dan beranjak menuju tasnya di luar kamar tempat Aca tidur, ia raih ponselnya dan menempelkan ke telinganya. Ya maaaaa ...... Aduh sudah terlalu maaaa ...... Iya Fariq tahu,  tapi sekarang aku lagi sama Aca ....... Ya di rumah ma ....... Mamaaaa, nggak, kami cuman duduk aja, besok aja lah ma,  Fariq janji bakalan ngajak Aca... Fariq mematikan ponselnya dan melangkah ke dalam kamar lagi dan menemukan Aca telah memakai blazernya lagi. "Kita pulang ya Riq?" Aca melihat Fariq mengangguk. "Tadi mama nelpon,  nyuru kita ke rumah,  banyak makanan, dikirimi anak buah papa, tapi nggak mungkinlah,  ini terlalu malam,  besok aja ya Ca,  mau ya,  sekalian ngasi kado buat papa, papa suka kalau aku ngajak kamu," ujar Fariq dengan wajah memelas dan Aca tak bisa menolak. **** Sepanjang hari itu Aca terlihat sibuk, dan pada sore hari Aca melihat laporan dari anak buahnya. Memeriksa laporan harian,  keluar dan masuknya uang. Terlihat Aca memanggil anak buahnya karena melihat hal yang ganjil. "Mengapa ini ada pengeluaran besar?" tanya Aca. "Pembiayaan si bos yang kapan hari ke luar sama Tenti, bu,  kan mereka menjamu rekanan bisnis," jawab staf Aca. Aca memeriksa semua kuitansi,  nota dan bukti pembayaran lainnya. Ia terbelalak dan melangkah menuju ruangan Fariq,  menoleh pada meja Tenti yang kosong. Mengetuk pintu Fariq dan terdengar suara manja Tenti. "Ah bapak bisa saja, masa sih, ya sudah saya ke luar dulu,  nanti lanjut ya Pak." Tenti membuka pintu dan mendapati wajah dingin Aca. "Ibu ada perlu sama bapak,  dia sibuk," ujar Tenti dan Aca tak peduli ia menerobos masuk dan memperlihatkan semua bill itu pada Fariq, Fariq hanya mengernyit lalu menatap wajah dingin Aca. "Apa yang jadi masalah dengan bill ini?" "Jika seperti ini terus, bangkrut perusahaan kita pak," ujar Aca dengan suara tegas, ia tetap berdiri. "Tidak apa-apa,  toh sekali-sekali, tidak tiap hari," ujar Fariq sambil tersenyum. "Baiklah, jika Dengan Tenti memang tak masalah,  terima kasih," Aca berbalik dan Fariq baru menyadari jika ada yang salah. Ia mengejar Aca dan menarik lengannya. "Apa maksudmu?" ujar Fariq bingung. "Lanjutkan pekerjaan bapak tadi yang sempat tertunda dengan sekretaris bapak," Aca menarik lengannya dan ke luar dari ruangan Fariq. Fariq bingung ia tak mengerti perubahan sikap Aca yang tiba-tiba. **** Jam tujuh Fariq menelpon Aca,  tapi tak diangkat, akhirnya ia melangkah ke ruangan Aca, ia tidak menemukan siapapun. "Bapak mencari siapa?" tanya Tenti. "Bu Anataya, apa dia sudah pulang?" tanya Fariq. "Satu jam yang lalu bu Aca sudah pulang kok pak,  apa bapak perlu teman,  bapak mau ke mana,  bisa saya temani?" ujar Tenti tersenyum manis. "Aku mau dia yang menemaniku,  bukan kamu," Fariq melangkah cepat menuju mobilnya. Tenti kembali menghentakkan kakinya dengan marah. **** Kemana kamu Ca,  ada apa lagi.. Fariq mengendarai mobilnya dengan pelan. Entah mengapa tiba-tiba ia melajukan mobilnya menuju suatu tempat,  tempat ia dan Aca dulu saat jaman sma sering ke sana jika jam-jam seperti ini sedang tidak ada tugas dan masalah pribadi yang tak kunjung usai, biasanya ia atau Aca yang gantian curhat. **** Fariq memarkirkan mobilnya agak jauh dari warung bakso langganannya dulu, ia berjalan pelan dan langkahnya terhenti saat melihat mobil Aca terparkir di sana. Ia agak kaget dengan perubahan fisik warung bakso langganannya yang lebih mirip cafe, lengkap dengan fasilitas wifi dan interior yang menarik. Ia masuk dan dari jarak jauh ia sudah hafal betul punggung Aca, nampak teronggok mukenah di dekat kursi Aca. Semakin dekat, Fariq dapat melihat Aca yang hanya mengaduk ice lemon teanya dan menyisakan semangkuk bakso yang belum tersentuh sama sekali. Fariq duduk dan Aca terlihat sangat kaget,  namun ia kembali mengaduk ice lemon teanya dan meminumnya sedikit. Mendekatkan mangkuk bakso dan mulai memasukkan potongan siomay dan bakso serta gorengan ke mulutnya ke mulutnya, Aca memaksa dirinya makan jika tidak ingin perutnya bermasalah lagi Fariq mendekatkan saos dan sambel namun Aca masih saja diam, ia memotong baksonya menjadi potongan kecil-kecil. Fariq meraih garpu di tangan Aca dan memasukkan potongan bakso ke dalam mulutnya lagi. Aca mendesah pelan, mengerjabkan matanya berkali-kali. "Kali ini aku salah apa Ca?" Fariq mengusap rambut Aca, Aca diam saja. "Aku lebih baik kau marahi,  dari pada diam kayak gini," Fariq melihat Aca menyudahi makannya. Meraih mukena dan memasukkan ke dalam tasnya, lalu berdiri dan meninggalkan Fariq sendiri menuju kasir dan melangkah cepat ke mobilnya. Fariq mengejar Aca saat akan masuk ke mobilnya. Menahan pintu yang akan ditutup. "Caaaa aku salah apa, bilang jika ada yang tidak kamu suka, aku tidak bisa menafsirkan semuanya sendiri Ca," ujar Fariq dan Aca menatap wajah Fariq. "Aku bisa minta pindah ke cabang yang lain, aku capek melihat kalian," Aca menutup pintu mobilnya melajukan dengan cepat mobilnya menuju jalan raya. Fariq terhenyak dan baru menyadari jika hampir seharian ia bersama Tenti di ruangannya menyelesaikan dokumen terakhir yang harus ia selesaikan dengan tiga rekanan barunya, perusahaan besar yang akan menjadi rekanan selama lima tahun ke depan. Caaa kamu cemburu..aku bahagia jika memang iya... **** Pagi hari Fariq tergesa mendatangi ruangan Aca, sekali lagi staf Aca kaget dengan kunjungan mendadak bosnya. "Bu Anataya belum hadir?" tanya Fariq dengan senyum cerah dan terlihat tak biasa di mata karyawannya. "Ibu Anataya sakit pak, tadi sempat nelpon saya saat akan ke dokter, saya antar karena ibu terlihat lemas, kata Bu Anataya sudah mengirim foto surat keterangan dokter ke bapak," sahut salah satu staf Aca dan Fariq terlihat kaget, tidak biasanya Aca sampai tidak masuk karena sakit. Fariq segera ke ruangannya dan mengambil ponselnya, melihat pesan dari Aca. Fariq berusaha menelpon Aca tapi tak diangkat. Seharian Fariq gelisah dan konsentrasinya terpecah. Siang hari ia segera mengemasi barang-barangnya dan ke luar dari ruang kerjanya,  menghampiri meja Tenti. "Aku ke luar Ten,  dan mungkin tak akan kembali," Fariq hendak melangkah saat terdebgar suara Tenti. "Bapak akan menemui Bu Anataya,kan?" tanya Tenti dengan wajah gelisah. Fariq menoleh dan menatap tajam sekretarisnya. "Kalau memang iya, lalu apa urusanmu sampai berani bertanya seperti itu padaku?" wajah Fariq terlihat marah. "Ingat kau sekretarisku, hanya urusan kantor yang harus kamu selesaikan, bukan masalah pribadiku, jangan membawa-bawa perasaan dalam pekerjaan kita," Fariq berbalik dan melangkah cepat menuju lift. **** "Eh nak Fariq, mari silakan duduk," ujar ibu Aca ramah, Fariq segera meraih punggung tangan wanita berwajah teduh itu dan menciumnya. Fariq segera duduk dan terlihat bingung, ibu Aca tersenyum mengerti siapa yang tamunya cari. "Acanya sakit, nak,  ibu tidak tahu mengapa,  ia sangat lemas sampai harus dipapah sama stafnya pas mau ke dokter, badannya panas sekali, ayo ibu antar jika mau ke sana," Fariq mengekor di belakang ibu Aca. "Silakan, maaf nak, jika Acanya nyenyak jangan dibangunkan ya,  sepertinya ia sulit tidur semalam," suara ibu Aca terdengar berbisik Fariq hanya mengangguk dan melangkah masuk, ibu Aca meninggalkan Fariq dan membiarkan pintu kamar Aca terbuka lebar. Fariq melihat kamar yang sederhana,  bercat putih tanpa hiasan apapun, hanya ada satu lemari pakaian besar, meja rias kecil dan meja kerja Aca yang terdapat laptop di atasnya. Fariq penasaran pada sebuah bingkai Foto yang warnanya putih,  ia raih dan kaget melihat foto dirinya dan Aca saat sma, entah ada acara apa di sekolah saat itu, ia sudah lupa, sepertinya di lapangan basket terlihat teman-teman di belakangnya,  ia dan Aca duduk berdekatan sambil tertawa lebar. Ada sebuah buku kecil bercover silver di samping pigura itu, Fariq raih dan terlupakan untuk sementara tujuannya masuk ke kamar itu. Fariq duduk di kursi sederhana yang ada di kamar itu dan membukanya pelan, lalu ia baca dengan cepat tiap lembarnya, matanya bergerak-gerak gelisah dan berkaca-kaca saat ia sampai pada lembar terakhir. Fariq menoleh pada Aca yang tertidur pulas, ia mulai tersenyum namun air matanya hendak jatuh,  ada kesedihan dan kebahagiaaan yang bercampur aduk. Fariq melangkah ke tempat Aca tidur,  duduk di samping kasurnya yang sederhana namun sangat bersih. Ia pegang perlahan tangan Aca yang terasa panas ditangannya, mengangkatnya dan menciumi jari-jari itu. Aca bergerak perlahan, mulai membuka matanya dan kaget saat melihat wajah orang yang sangat tidak ingin ia lihat saat itu,  ia pejamkan lagi matanya. "Caaaa....aku mengkhawatirkanmu, maafkan aku Ca,  aku telah membuatmu sakit,  untuk selanjutkan aku akan lebih peka padamu, akan selalu berkabar apapun yang aku lakukan,  agar kamu bisa meyakinkan dirimu bahwa kau mulai mencintaiku juga," ucapan pelan Fariq membuat mata Aca terbuka lagi dan menghembuskan napas,  mendesah pelan lalu menatap tajam laki-laki yang ada di depannya. "Kau membuka buku harianku?" ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN