#11

1216 Kata
“Kau membaca buku harianku Riq, kau tahu itu sangat pribadi sifatnya?" Aca menunduk,  entah malu atau marah. "Terserah kamu marah atau apapun, yang pasti maaafkan aku yang tidak peka, aku tidak mengira itu diarymu, dimana-mana yang aku tahu di toko buku diary cewek warnanya cewek banget, yang kamu mirip buku agenda biasa Ca,  awalnya aku tertarik pada bingkai foto yang ternyata foto kita berdua," Fariq melihat wajah Aca memerah dan ia melanjutkan kalimatnya. "Lalu aku melihat buku itu, iseng-iseng aku buka,  pikiranku paling isinya jadwal kerjamu, niatku ya aku buka sambil nunggu kamu bangun karena ibu berpesan kamu jangan dibangunkan eh ternyata diary kamu, maafkan aku Ca, jika nggak karena kejadian ini,  aku ngak akan pernah tahu jika kamu mulai...," Aca meremas tangan Ariq dengan kesal, ia memejamkan matanya. "Kamu sama Tenti beda jauh Ca, jika kamu cemburu sama anak itu, aku nggak ngerti alasannya karena apa, kecantikan,  kepandaian, dan misterius kamu bercampur jadi satu, bikin laki-laki penasaran, sedang Tenti...," Fariq mengakhiri kalimatnya dan menggenggam tangan Aca perlahan,  mengelusnya dan menciuminya. "Tapi semua laki-laki pasti menoleh jika dia lewat,  bahkan kamu betah seharian berdua dengannya di ruanganmu," ujar Aca tanpa melihat Fariq dan terdengar tawa Fariq pelan. "Aku suka kamu marah karena cemburu, aku tahu maksudmu,  tapi aku tak tertarik pada kelebihan yang dia miliki, mungkin laki-laki lain akan melihatnya dengan nafsu karena lekuk tubuhnya yang sempurna, tapi hidup tidak hanya melulu tentang itu Ca, kamu boleh menertawakanku, aku belum pernah berpikir untuk melakukan itu dengan siapapun,  aku menunggumu Ca, dan hanya denganmu aku mau melakukannya," Fariq melihat wajah Aca kembali memerah, menatapnya jengkel dan kembali memukul tangan Fariq. "m***m," Aca memejamkan mata dan terdengar lagi tawa Fariq, "Wajarlah kita mikir tentang itu,  usia kita sudah 28 tahun Ca," ujar Fariq dan duduknya menggeser mendekati Aca. Aca menatap tajam dan Fariq tersenyum. "Kita,  kamu yang mikir,  aku nggak," jawab Aca agak ketus. "Bohong," ucap Fariq semakin menggeser duduknya dan kini wajahnya sangat dekat dengan wajah Aca. "Riiiq, kamu mau apa,  tuh pintunya terbuka lebar, ada ibu," suara Aca terdengar mencicit. "Tuh kan, kamu yang m***m, aku nggak akan ngapa-ngapain kamu, aku hanya ingin...," Fariq tak melanjutkan kalimatnya ia merengkuh badan Aca yang masih panas ke dadanya. Ibu Aca yang melihat pemandangan itu segera berbalik, dan mengusap dadanya perlahan,  ia kawatir Aca, entah mengapa ibu Aca takut Aca kembali mengalami kekecewaan, karena ia sadar benar,  siapa dirinya dan Aca,  dibandingkan keluarga Fariq yang memiliki segalanya. **** "Loh sudah mau pulang nak Fariq?" tanya ibu Aca. "Iya ibu, nanti malam saya akan kembali bersama mama, saya pamit dulu," ujar Fariq sambil mencium punggung tangan ibu Aca. **** "Masih panas badanmu Ca," ibu Aca memegang dahi Aca lalu membetulkan selimut sampai ke d**a Aca. Aca diam saja, lalu menatap ibunya yang melihatnya dengan pandangan kawatir. "Fariq ternyata masih menyukaimu ya Ca?" Aca kaget dengan pertanyaan ibunya,  ia diam saja, hanya menunduk menatap selimut yang ia remas perlahan. "Dan kamu mulai menyukainya juga kan?" ibu Aca mengusap perlahan rambut Aca. "Terus terang ibu sangat menyukai Fariq,  ia santun, ramah hanya kita yang harus tahu diri,  Ca,  ia anak orang kaya, kita hanya seperti ini,  ibu hanya janda dari pensiunan yang uang pensiun ibu saja tidak seberapa,  beruntung kamu bekerja di perusahaan besar seperti itu hingga kamu yang mencukupi semuanya, tapi jika kamu mulai menyukai Fariq, kamu harus siapkan hatimu Ca,  jangan sampai tersakiti lagi, ibu tidak mau anak ibu menghabiskan malam-malamnya lagi dengan menghadap ke jendela, melihat jalan yang berangsur sepi, kamu menyukai kan Fariq Ca,  kamu mulai mencintainya kan anakku?" pertanyaan ibunya terasa sangat berat Aca jawab. Agak lama sampai terlihat kepala Aca yang mulai mengangguk perlahan.  Dan Aca mendengar suara hembusan napas ibunya yang terasa berat. Dia sabar ibu,  hanya kadang dia kurang peka..beberapa hari ini malam-malamku selalu diganggu ingatan akan ciuman dan pendar di matanya...entah mengapa aku jadi sering merindukan pendar mata itu ibu.. **** Malam hari terdengar sebuah mobil berhenti di depan rumah Aca,  Bu Heru, ibu Aca bergegas membuka pintu dan melihat Fariq dan mamanya membuka pagar. "Mari Bu Ferdi, nak Fariq silakan masuk," ibu Aca segera membuka pintu ruang tamu dengan lebar. Mama Fariq memeluk ibu Aca dan mencium pipinya kanan dan kiri. "Ini Bu Heru, sedikit oleh-oleh untuk Aca,  Aca sangat suka croissant tanpa isi, iya kan Riq ?" ujar mama Fariq sambil tersenyum. "Duh jadi repot, ini bu Ferdi, ini sudah saya buatkan terang bulan, masih hangat, mari dicicipi Bu Ferdi, nak Fariq, saya ke dapur dulu ya,  saya buatkan teh melati hangat," Bu Heru berdiri dan mama Fariq mengikuti langkah ibu Aca ke dapur. "Nggak usah repot Bu Heru," mama Fariq menarik tangan Bu Heru menuju ruang makan,  dan Bu Heru agak kaget. Sesampainya di sana,  keduanya terlihat duduk bersisian. "Bu Heru maaf jika saya lancang masuk-masuk ke rumah ibu, eeemm begini sepertinya kedua anak kita ini ada masalah,  saya perhatikan Fariq yang tadi pulang dan langsung memeluk saya, tiba-tiba mengatakan kalau dia bingung menghadapi Aca,  mungkin Bu Heru tahu bahwa anak saya sebenarnya sejak sma sudah menyukai Aca,  tapi waktu itu saya tidak menganggap serius,  saya pikir hanya cintanya anak-anak akan hilang dengan sendirinya eh ternyata saya salah, dia terus memendam perasaan itu, sampai saya jodohkan,  dia sudah bertunangan eh gagal karena tunangannya dicuekin, waktu saya tanya,  siapa wanita yang kamu cintai lah jawabannya Aca, duh saya bingung bu, lalu bagaimana dengan Aca Bu Heru?" tanya mama Fariq. Terlihat ibu Aca yang bimbang, menatap wanita dihadapannya yang tetap cantik diusia senjanya. "Saya melihat hal yang aneh juga pada anak saya Bu Ferdi, dia semalam kurang tidur, saya perhatikan hanya memandangi pigura kecil di kamarnya, yang saya tahu di sana ada foto Aca dan Fariq, lalu tadi sore saya tanyakan padanya apakah dia mulai menyukai Fariq, ternyata dia mengangguk,  tapi..saya bilang pada Aca sebaiknya dipikir lagi, karena apalah kami Bu Ferdi yang hanya...," belum selesai ibu Aca berbicara tiba-tiba mama Fariq memegang dua tangan ibu Aca. "Bu Heru terlalu berlebihan menilai kami, Bu Heru jangan punya pikiran seperti itu,  kami sejak dulu menganggap Bu Herulah yang lebih dari kami,  keramahan,  keluasan hati yang tak kami miliki meski kami punya segalanya, sekarang yang harus kita pikir anak-anak kita bu,  mari kita bantu Aca agar dia bisa lebih yakin pada perasaannya dan menghilangkan kenangan buruk yang pernah dia alami, saya ingin Aca menikah dengan Fariq,  mungkin kita tidak perlu terburu-buru karena tidak mudah bagi Aca menghilangkan kenangan yang menyakitkan, mari kita bekerja sama bu Heru, demi kebaikan anak-anak kita," mama Fariq menatap wanita berwajah lembut di depannya yang terlihat gamang lalu mengangguk pelan. **** Fariq membuka pintu kamar Aca perlahan, ia melihat Aca yang menoleh dan berusaha bangun dari kasurnya,  Fariq melangkah cepat membantu Aca. "Nggak usah Riq, aku mulai mendingan kok,  tapi aku masih belum bisa masuk besok, nambah sehari nggak papa ya Riq,  jadi ijin dua hari," Aca menatap wajah laki-laki yang tiba-tiba sangat dekat dengan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Riq, jangan," ucap Aca tiba-tiba dan Fariq kaget. "Ada apa Ca?" tanya Fariq. "Biasanya kamu kalau sudah dekat gini langsung nyium aku," ujar Aca pelan sambil menunduk dan Fariq tersenyum lebar menyadari wajah Aca yang memerah. Sementara di luar kamar Aca, Bu Heru dan Bu Ferdi terbelalak, menutup mulut mereka dengan telapak tangan, langkah mereka jadi terhenti yang awalnya ingin masuk ke kamar Aca yang terbuka lebar. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN