#12

1206 Kata
“Boleh masuk mama Ca?" suara mama Fariq mengagetkan Aca dan Fariq,  seketika Fariq menjauh dari Aca. "Eh mama,  silakan ma," ujar Aca menoleh ke pintu melihat wajah mama Fariq yang menahan senyum sedang wajah ibunya yang terlihat tegang,  entah apa yang dipikirkan wanita teduh itu sampai ia tak bisa tersenyun lalu mengekor tamunya masuk ke kamar anak gadisnya. "Duh kamu sampe pucat gini Ca, Riq  jangan berat-beratlah kamu ngasi kerjaan ke Aca,  masa sampai seperti ini sayang," mama Fariq memegang dahi Aca yang terasa panas di telapak tangannya. "Dimana-mana namanya accounting manajer ya banyak kerjaannya ma," sahut Fariq pelan. "Ya udah Ca, mama sama Fariq pulang dulu ya, istirahat, jangan tidur terlalu malam," ujar mama Fariq. "Kok sudah mau pulang ma?" tanya Fariq terlihat enggan pulang. "Ya besok lagi kalau masih kangen sama Aca,sekarang biar Aca istirahat dulu," ujar mama Fariq dan wajah Fariq bersemu merah sambil menyugar rambutnya perlahan. Lalu mama Fariq mencium kening Aca dan berlalu meninggalkan keduanya,  terlihat ibu Aca yang masih menoleh ke arah Aca dan Fariq saat akan ke luar dari kamar anak gadisnya. "Ca,  aku pulang ya,  kamu harus sehat, aku nggak mau kamu sakit karena aku,  maafkan aku yang sudah bikin kamu kayak gini," ujar Fariq pelan,  Aca hanya menatap laki-laki di depannya yang tampak salah tingkah. "Eeemmm boleh aku nyium kening kamu kan Ca?" Fariq mendekat ke arah Aca dan menempelkan bibirnya lama di kening Aca, Aca memejamkan matanya merasakan kehangatan yang tiba-tiba menjalar disekujur tubuhnya. Setelah Fariq melepaskan bibirnya dari kening Aca ia mengelus pelan pipi Aca. "Tumben mau nyium minta ijin dulu?" tanya Aca bersuara lirih. "Ngeri Ca,  di rumah calon mertua," jawab Fariq menatap dengan wajah jenaka saat melihat mata Aca yang terbelalak lalu bibirnya mencebik perlahan. "Mertua, mertua siapa?" suara Aca hanya bergumam tak jelas. Wajah Fariq terlihat tanpa senyum lagi, menatap wajah Aca lama hingga Aca mengerjabkan matanya dan menunduk menatap selimut yang ia remas perlahan. "Aku mencintaimu Ca, kita mencoba melangkah bersama ya Ca, aku akan berusaha peka pada apa yang kamu rasakan,  bantu aku dengan mengingatkanku tentang hal itu," suara Fariq lebih menyerupai bisikan dan Aca hanya menatap wajah laki-laki di depannya dengan tatapan bimbang. "Kita coba ya Ca, berjalan beriringan denganku?" tanya Fariq lagi. "Boleh aku berpikir dulu Riq?" tanya Aca menatap Fariq dengan wajah memelas. "Baiklah, aku tunggu besok, aku pulang Ca," ujar Fariq, Aca mengangguk lalu menatap punggup tegap itu menjauh ke luar dari kamarnya. **** Aca kembali membetulkan selimutnya lalu tidur menyamping, saat ada langkah mendekat dan menyentuh bahunya pelan. Aca menoleh dan melihat ibunya yang memandangnya dengan tatapan tak biasa. "Ca, ibu boleh bicara?" "Iya ibu, ada apa?" Aca berusaha bangun, namun ditahan oleh ibunya. "Sambil tiduran saja Ca, kamu masih terlihat lemas, masih pucat lagi," bu Heru membetulkan selimut Aca. "Ibu dan mamanya Fariq tadi tidak sengaja mendengar kamu bicara dengan Fariq, ibumu ini orang kuno nak, orang yang sejak dulu oleh orang tua ditanamkan aturan-aturan pertemanan yang sesuai dengan aturan agama,  bahkan ibu dan bapakmu ini menikah juga karena dijodohkan, jadi tadi ibu kaget waktu mendengar kamu bilang sama Fariq bahwa kalau duduk kalian dekat pasti Fariq akan eeemmm nyium kamu, apa kalian sudah pernah melakukan itu sebelumnya anakku?" tanya ibu Aca dengan tatapan mata yang mengharap gelengan dari anaknya namun nyatanya ia melihat Aca mengangguk pelan dan bahu ibu Aca terlihat merosot, ia mengelus bahu Aca. "Ibu tidak tahu anakku,  apakah ibumu ini kolot atau tidak tahu perkembangan pergaulan,  tapi yang ibu tahu dan ibu kawatirkan, takut setelah melakukan hal seperti itu lalu mengarah ke hal-hal yang lain, ibu tidak ingin kamu terluka lebih sakit lagi Ca, kamu menyukai Fariq kan, atau mungkin kamu mulai mencintainya kan Ca, sakitmu ini ibu yakin ada hubungannya dengan Fariq,  entah apa yang terjadi pasti kalian sedang ada masalah," ibu Aca meraih badan Aca dan memeluknya dengan erat. "Kita hanya berdua anakku, bu lik dan pak likmu jauh semua, mereka ada di Tulungagung dan Maospati, ibu berada di kota besar ini karena ikut bapakmu yang diangkat pns sampai pensiun ya di kota ini, mbah putri dan mbah kakungmu sudah meninggal semua,  kita benar-benar berdua anakku jika kita tidak saling menguatkan dan menjaga diri kita maka tidak akan ada yang menolong dan mendekap kita seperti ini, " ujar ibu Aca sambil terisak. "Ibu tidak mau kamu sakiti lagi hatimu seperti tahun-tahun sebelumnya, jika hatimu mantap pada Fariq jalani saja anakku,  meski berat akan ibu dampingi kamu melalui masa sulit." Aca memeluk ibunya dengan erat, ia merasakan kesedihan ibunya dan merasa bersalah telah membuat wanita sabar itu menjadi kawatir,  Aca memaklumi jika ibunya sampai sesedih ini, ibunya adalah wanita yang memegang teguh aturan agama, hingga ia sangat kaget saat mendengar pembicaraan Fariq dan Aca, meski sebenarnya dengan Reyhanpun Aca juga pernah melakukan hal yang sama. Berciuman dan tak lebih. "Maafkan Aca, ibu," hanya itu kata yang terucap dari Aca. Lalu perlahan mereka saling melepas pelukan dan Aca kembali merebahkan badannya. "Tidurlah Ca," ujar ibunya sambil menyeka sisa air mata dan melangkah ke luar dari kamar anaknya. **** "Riq, Aca itu sakit karena capek pasti, kurangilah kerja Aca, sampe pucat dan lemas kayak gitu," ujar bu Ferdi saat mereka dalam perjalanan pulang. "Nggak ma,  bukan,  bukan karena capek, Aca sakit karena marah sama aku,  dia kayaknya cemburu deh ma," Fariq menjawab tanpa menoleh pada mamanya dan tepukan keras di pundaknya membuat Fariq kaget. "Maaa aku sedang nyetir,  mama pake acara mukul segala," Fariq menatap mamanya yang terbelalak dan mulai tersenyum. "Beneran,  beneran dia sakit karena cemburu,  lalu cemburu sama siapa?" tanya mama Fariq dan Fariq bercerita penyebab kemarahan Aca hingga Fariq tahu semuanya dari buku harian Aca. "Iiiihhh kamu ini,  bener-bener nggak peka,  kok ya nurun banget dari papamu, apa-apa harus dibilangin baru ngerti,  capek deh," terlihat mama Fariq yang jengkel menatap wajah anaknya. "Meski merasa bersalah,  aku bahagia ma,  akhirnya aku tahu jika Aca mulai membuka hatinya untuk aku,  meski tidak mudah,  meski suatu saat dia masih akan mengingat mantannya, aku harus yakin bahwa suatu saat ia akan benar-benar mencintaiku," ujar Fariq tetap berkonsentrasi menatap jalan dengan bibir menyunggingkan senyum. "Eeeemmm lalu kamu sudah bilang ke Aca kalau kamu mencintainya Riq?" tanya mamanya lagi. "Sudah berulang malah,  dan tadi bilang lagi,  aku nunggu dia jawab besok ma," sahut Fariq kembali tersenyum. "Jika Aca menerimamu,  mama nggak mau lama-lama Riq,  langsung tunangan sama Aca ngerti, karena kakak kamu juga akan tunangan trus nikah, lalu nyusul kamu juga sama Aca," ujar mama Fariq yang mau tak mau Fariq kaget dan mencari tempat berhenti yang aman. "Ngapain berhenti Riq?" tanya mamanya dengan wajah bingung. "Mama ini gimana sih, baru juga nunggu Aca ngangguk kok langsung tunangan, duh maaa ntar kalau terburu-buru,  Fariq kawatir Aca malah mundur," ujar Fariq tampak kawatir. "Duuuh nih anak,  kamu diem aja, mama sudah atur sama bu Heru, ayo jalaaan," mama Fariq menepuk pundah anaknya dan Fariq melajukan mobilnya dengan wajah ditekuk. Saat baru sampai di rumah mengantar mamanya, Fariq mendengar ponselnya berbunyi, ia meraih dan melihat nama Aca di sana. "Cepet Riq angkat, speaker, mama ingin dengar juga," ujar mamanya antusias. "Ah mama," Fariq terlihat gusar namun ia mengikuti saran mamanya. Ya Ca, ada apa Kamu di mana Baru nyampe di rumah mama Aku mau jawab sekarang Riq... Fariq dan mamanya saling berpandangan....dengan wajah tegang.. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN