#13

1360 Kata
Iya Ca, ngomong aja aku dengerin Kamu dah duduk enak kan Riq,  karena aku agak lama ngomongnya Iya ini masih di rumah mama,  ok lah aku sambil jalan ke kamarku Mama Fariq menarik Fariq duduk di gazebo taman. Ok Ca ngomong aja,  aku nggak jadi ke kamarku, jauh,  ini di gazebo taman depan, bicaralah Ca Sejujurnya aku takut memulai lagi Riq, setelah peristiwa itu rasanya nggak ingin jatuh cinta lagi, setelah cinta itu pergi  aku sebenarnya memilih menyembuhkan hatiku, sampai kamu hadir gantikan papa Ferdi lalu dia si Rey datang lagi, dan selama dia gangguin aku,  kamu yang melindungi aku, lalu sikap kamu yang bikin bingung, kadang perhatian, kadang cuek,  kadang marah-marah nggak karuan, bikin aku bingung, lalu aku sering tanya pada diri aku sendiri untuk apa aku bingung mikir kamu,  ada apa dengan diriku, setelah lamaaa aku pikir kayaknya aku memang mulai...mulai lebih dari rasa suka sama kamu Riq...tapiiii... Aku nggak mau tapi Ca, kamu mau kan jalan di sisi aku Ca, kamu mau kan membagi sedih kamu sama aku Ca, jawab Ca ..... Acaaa Iya Iya,  iya gimana Ca Iya aku mau,  cuman aku maunya kita tetap profesional di kantor, atau kalau boleh,  aku pindah ke cabang lain Riq Jangan Caaa jangan, kamu harus tetap satu kantor sama aku Dan membiarkan melihat kamu selalu dekat.. Dekat dengan Tentikan, dia sekretarisku Caaa, ok kalau kamu maunya gitu, aku pindah dia ke cabang lain dan aku ganti dengan sekretaris dari cabang lain yang kebetulan laki-laki, ada Pak Rajendra, dia sekretaris yang ok dari cabang lain, hanya aku minta bantuanmu untuk menyiapkan hal-hal yang biasa disiapkan Tenti seperti cemilan, kopi, kenyaman ruanganku yang dulunya diurusi Tenti, nggak harus kamu sih,  kamu bisa nyuruh OB tapi yang ngawasi kamu langsung Segitunya tugas Tenti selama ini? Ya iyalah,  dia sekretarisku Aca sayaaang, bukan hanya ngurusi jadwal kerja saja tapi juga hal-hal kecil kayak gitu, makanya sejak awal aku sudah pasang peringatan sama Tenti,  jangan melibatkan perasaan eh malah Tentinya gitu dan kamu cemburu Aku nggak cemburu Cuman ngambek aja Ah kamu, bukan gitu Caaa aku tahu apa yang kamu pikirkan ......... Jadi kita pacaran ya Ca Pacaran? Ya iyalah Ca, aduh usia kita sudah 28 Ca, jalan bareng gini ya pacaran Caaa Iiii iyaa Love you Ca Eh apa I love you Acaaa Ah kamu Riq, eh udah ya Aku besok ke kamu ya Tapi jangan masuk ke kamar, biar aku ke luar aja Kalau kamu masih lemas Nggak, biar aku ke luar,  aku takut sama ibu, kamu jangan macem-macem lagi Riq, aku ngeri kalau tahu kita...macem-macem nanti disuru nikah sama ibu Loh aku kan nggak macem-macemin kamu Eeeemm anu,  itu nyium itu Riq maksudku Mama Fariq menutup mulutnya menahan tawa dan Fariq menatap mamanya dengan pandangan bingung Ibuuu, ibu sedih Riq, nangis juga,  ngerasa aku sudah berbuat lebih, meski hanya ber itu apa berciuman Fariq menggaruk-garuk kepalanya Baiklah Ca, aku akan nunggu kamu di ruang tamu,  besok aku akan ngirim pesan dulu sebelum ke kamu Iyah Dah dulu ya Ca,  love you Lagi Loh bales dong Ca Nggak Dan Aca menutup pembicaraan, Fariq menatap mamanya yang terlihat lega. "Kayaknya Aca belum bener-bener yakin deh ma, jalan sama aku," ujar Fariq terlihat lelah. "Alaaah jalani dulu,  nanti mama bantu, Bu Heru juga akan mama bujuk, mama nggak mau lama-lama,  ngeri,  takut Aca berubah pikiran, paling lama dua bulan lagi tunangan, ngerti," mama Fariq melangkah masuk meninggalkan Fariq yang melangkah mengikuti mamanya hendak pamit kembali ke rumahnya. **** Malam semakin larut saat ibu Aca membuka perlahan kamar anaknya, mendekat ke kasur Aca dan melihat anaknya yang sudah tidur, ia sentuh dahi dan lengan Aca,  masih terasa panas, meski tidak sepanas semalam. "Ibu hanya ingin kamu bahagia anakku, ibu tidak ingin kamu sakit lagi," suara lirih ibu Aca, membuat Aca sedikit bergerak namun matanya masih terpejam. Diciumnya kening Aca dan berlalu dari kamar anaknya. Aca membuka matanya dan perlahan air matanya turun. "Maafkan Aca ibu,  akan Aca lakukan apapun asal ibu bahagia," suara Aca hilang ditelan isakannya. **** Pagi-pagi Fariq terlihat melangkah menuju ruangannya namun ia melihat Tenti berdiri di depan pintu. "Apa salah saya Pak,  mengapa saya dipindah, apa kerja saya tidak bangus, apa saya membuat kesalahan?" tanya Tenti menahan tangis. Fariq melangkah masuk ke ruangannya dan menyuruh Tenti duduk. "Mutasi kepegawaian kan hal yang biasa dalam sebuah perusahaan, lagi pula bukan hanya kamu yang dimutasi, aku juga kena mutasi kan,  baru beberapa bulan aku di sini," sahut Fariq menatap Tenti dengan tatapan serius dan sesekali melihat pada pintu yang ia biarkan terbuka. "Saya merasa ada yang aneh kepindahan saya Pak," ujar Tenti. "Tidak usah menerka-nerka, laksanakan semua pekerjaan dengan baik, silakan ke luar, saya banyak pekerjaan," ujar Fariq berdiri dan Tenti juga berdiri, menatap bosnya yang menatapnya tanpa senyum. "Saya menyukai bapak," ujar Tenti dengan suara tercekat. "Dan  aku tidak punya perasaan apapun padamu, aku sudah punya seseorang, maaf silakan ke luar," Fariq menghembuskan napas dengan kuat. "Bu Anataya, kan Pak ?" tanya Tenti lagi. "Ya, dan kamu akan diundang pada pesta pernikahan kami yang tidak lama lagi," Tenti terbelalak kaget, Fariq menuju pintu dan membuka pintu semakin lebar. Tenti melangkah menuju pintu dengan mata berkaca-kaca. Namun sebelum ke luar, dia menoleh. "Saya pamit pak, terima kasih,  saya hanya heran mengapa bapak bisa suka pada wanita berwajah dingin itu," Tenti berlalu dan Fariq segera menutup pintu ruangannya. Fariq duduk di kursinya tersenyum mengingat pertanyaan Tenti tadi, mengapa bapak suka pada wanita berwajah dingin itu...dia tidak bisa dingin jika di dekatku Ten, dia akan luluh saat aku peluk dan menciumnya dengan lembut..aku mencintaimu Ca...bagaimanapun caranya, aku akan menikahimu tahun ini Ca... **** "Eh nak Fariq, mari silakan masuk, duh tangan ibu basah ini,  sudah tidak usah salim ya?" ujar bu Heru saat sore itu sedang menyiram bunga-bunga di halaman rumahnya dan tiba-tiba melihat Fariq membuka pagar. Fariq melangkah masuk mengikuti ibu Aca ke ruang tamu. "Duduk dulu nak,  ibu paggil Aca ya?" ujar bu Heru. "Maaf ibu,  saya ada perlu pada ibu," ujar Fariq mendadak bingung dan ibu Aca akhirnya duduk di depan Fariq. "Ada apa ya nak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Bu Heru hati-hati. "Begini bu,  saya menyukai Aca, saya berniat ingin menikahi Aca, namun saya sadar jika tidak bisa memaksakan Aca harus menikah segera mengingat ia sepertinya masih mengingat seseorang, jadi saya meminta ijin pada ibu jika selama saya dekat atau pacaran dengan Aca saya akan sering ke sini,  sering ke luar bersama Aca," ujar Fariq dengan suara pelan. "Iya iya nak Fariq,  terus terang saya lebih suka Aca segera menikah dari pada pacaran, dulu dengan laki-laki yang menyakitinya saya juga baru tahu jika Aca sudah berpacaran lama, dia hampir tidak pernah ke sini hanya satu tahun sebelum melamar Aca dia baru agak sering muncul di rumah ini, ibu perpikir berlama-lama pacaran juga tidak ada positifnya malah mendorong untuk melakukan hal terlarang, biarlah pelan-pelan akan saya bujuk Aca agar segera menikah dengan nak Fariq, saya melihat Aca sepertinya juga mulai menyukai nak Fariq hanya dia masih bingung saja, jangan kawatir saya akan mengajak Aca bicara, hanya saya pribadi meski suka sama nak Fariq sejak lama, merasa tidak pantas masuk ke keluarga nak Fariq yang punya segalanya," ujar ibu Aca terlihat berusaha tersenyum. "Tidak ibu,  jangan punya pikiran begitu, bagi kami ibu dan Aca sudah menjadi bagian dari keluarga kami, mama bahkan suka berlama-lama di rumah ini saat saya dan Aca sma dulu, sekali lagi terima kasih ibu mau membantu saya membujuk Aca, saya pribadi juga tidak mau terlalu lama tanpa ikatan, saya lebih suka segera menikahi Aca dari pada masih melalui proses tunangan tapi saya harus sadar diri ibu,  Aca pasti belum siap," ujar Fariq menatap wanita yang terlihat mulai tersenyum. "Ibu akan mengajak Aca bicara, ibu juga setuju jika kalian memang serius, akan lebih baik jika segera menikah," sahut ibu Aca. "Ibu panggil Aca ya nak?" ibu Aca meninggalkan Fariq menuju kamar anaknya. Dan Fariq bernapas lega, ternyata saran mamanya benar, lebih baik berbicara dengan ibu Aca terlebih dahulu rencana pernikahan mereka, karena wanita teduh itu lebuh suka pada ikatan yang pasti dan sah menurut agama. Fariq memejamkan matanya sambil tersenyum. "Riq, ngapain senyum-senyum?" Fariq kaget saat wajah yang masih tampak pucat dan lelah itu berdiri di depannya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN