“Acaaa sejak kapan kamu berdiri di sana?" tanya Fariq kaget dan senyumnya hilang seketika.
"Sejak tadi, liatin kamu yang lamaaa mejamkan mata, trus lama-lama senyum sendiri, bayangin siapa kamu?" tanya Aca tanpa senyum.
"Kamu," perlahan senyum Fariq mulai muncul lagi. Aca hanya mencebikkan bibirnya.
"Sudah lama kamu datang?" tanya Aca menatap Fariq yang masih menggunakan jasnya dengan lengkap artinya ia dari kantor langsung ke rumahnya.
"Yaaa sekitar beberapa menit yang lalu," jawab Fariq.
"Karena aku mendengar mobil kamu sekitar lima belas menit yang lalu berhenti di depan rumah, tapi ibu baru saja memanggilku memang kamu bicara sama ibu?" tanya Aca yang membuat Fariq gelagapan.
"Iyaaa sih, biasalah Ca, ibu titip kamu, suru jagain, biar nggak mikir aku terus, biar nggak selalu kangen aku...," ujar Fariq menatap wajah Aca yang mulai memerah.
"Hhesssyy..kamu pasti bohong," sahut Aca jengkel.
"Nggak percaya, aku panggil ibu?" tanya Fariq dan Aca berdiri hendak memukul lengan Fariq tapi urung karena tiba-tiba ibu Aca muncul dengan secangkir teh hangat dan sepiring pisang goreng.
"Ayo nak Fariq silakan," ujar ibu Aca mendekatkan piring pisang goreng pada Fariq dan tanpa menawarkan dua kali Fariq langsung mengambil dan menikmatinya.
Bersamaan dengan itu, berhenti sebuah mobil mewah di belakang mobil Fariq yang terparkir.
"Mama," desis Fariq dan ternyata benar, turun wanita paruh baya yang masih terlihat cantik membawa buah dan entah apa lagi.
"Bu Ferdiii," ibu Aca segera menyambut tamunya ke teras, saling cium di pipi dan masuk beriringan.
"Caaa kok masih pucat sih, ini mama bawakan vitamin, minum ya, trus ini ada buah, roti kesukaanmu juga," ujar mama Fariq terlihat sibuk dengan bawaannya dan diletakkan di atas meja dengan bantuan Fariq.
"Duh nggak usah repot ma, saya sudah mendingan, besok saya kerja kok ma," sahut Aca terlihat tidak enak melihat banyaknya oleh-oleh yang di bawa mama Fariq.
"Kamu masih terlihat pucat gitu Caaa kalau ada masalah sama Fariq bicarakan, jangan diam, kamu jadi sakit sendiri, Fariq ini kadang nggak peka, kamu latihan berani ngomong," ujar mama Fariq menatap Aca yang terlihat malu dan bingung sambil sesekali menatap wajah ibunya.
"Begini Bu Heru, saya ingin bicara, mumpung anak-anak juga di sini, saya hanya ingin tahu dan ingin tanya, sebenarnya diantara kalian ini ada apa, usia kalian bukan usia remaja lagi, sudah mendekati angka tiga puluh, ada apa sebenarnya diantara kalian?" Bu Ferdi menatap Aca dan Fariq bergantian.
Aca menatap Fariq dan memberi kode lewat alisnya.
"Begini mama, ibu, kami baru akan mencoba berjalan bersama, saya mengerti jika Aca mungkin masih belum sepenuhnya hatinya untuk saya, tapi saya memberanikan diri menawarkan berjalan beriringan, dan Aca mau menerima saya," Fariq menjelaskan sambil sesekali menatap wajah Aca yang mulai memerah.
"Kamu benar-benar siap Ca menerima nak Fariq? " pertanyaan ibunya membuat Aca gugup dan perlahan mengangguk.
"Begini Bu Heru, ini saya hanya menyarankan saja, tapi semuanya saya serahkan keputusannya pada Bu Heru dan Aca, maksud saya usia Aca dan Fariq kan sudah segitu, bukan masanya pacaran lagi, bagaimana kalau tunangan saja, atau kalau sudah pasti ya nikah saja lebih baik," ujar mama Fariq sambil menatap wajah anaknya yang terlihat menahan senyum, namun Bu Ferdi berusaha bersikap wajar.
Terlihat wajah Aca yang menegang dan menatap wajah ibunya seolah minta tolong.
"Kalau saya bu, lebih baik kedua anak ini segera dinikahkan, usia mereka lebih dari cukup karena...," belum selesai ibunya berbicara Aca sudah memotong.
"Ibuuu Aca belum siap, Aca takut mengecewakan semuanya, Acaaa..Aca rasanya masih perlu mengenal Fariq lebih jauh jika kami akan memutuskan menikah," sahut Aca terlihat bingung dan matanya terlihat berkaca-kaca, ada keinginan Fariq merengkuh tubuh yang duduk tak jauh dari sisinya namun hal itu tidak mungkin ia lakukan.
"Kamu mengenal nak Fariq sejak sma, ke luar masuk rumah ini juga, lalu apa lagi, akan lebih baik kalian pacaran setelah menikah, lebih aman dan jelas halal, tapi semua terserah kamu, ibu hanya ingin kamu bahagia, tidak sakit lagi, tidak mengingat orang yang telah membuat kita sakit bertahun-tahun," terlihat wajah ibu Aca yang memerah menahan tangis dan Aca duduk berjongkok di depan ibunya.
"Maafkan Aca sudah membuat ibu sakit, Aca tidak akan membuat ibu terhina dan malu lagi, Aca akan patuh pada ibu, Aca akan menerima semua yang ibu mau," air mata Aca mulai menetes, Bu Heru merengkuh kepala Aca.
"Ibu hanya ingin kamu bahagia nak, sesakit apapun ibu tak masalah, tapi tugas ibu harus mengantarkanmu sampai kamu menikah dan menemukan orang yang bisa membahagiakanmu, ibu melihat itu ada pada nak Fariq," ibu Aca menarik Aca berdiri dan menyuruhnya duduk di samping Fariq. Tak urung mama Fariq meneteskan air mata melihat Aca dan ibunya menangis.
"Maafkan saya, Bu Heru, Aca, saya tidak memaksa hanya saran saja, jika Aca keberatan tak masalah, kami akan sabar menunggu sampai Aca siap," ujar Bu Ferdi.
"Saya serahkan semua pada ibu, ma," sahut Aca lirih.
"Ya Bu Ferdi, mungkin kapan ya kita perlu bicara berdua saja, atau mari kita ke ruang makan saja Bu Ferdi," ibu Aca dan mama Fariq berjalan beriringan menuju ruang makan.
Fariq menggeser duduknya memeluk bahu Aca. Aca menoleh dan menatap Fariq menandakan protes.
"Ada ibu," suara Aca terdengar lirih.
"Kalau kamu nggak siap nggak papa kita undur," ujar Fariq berbisik di telinga Aca dan menciumi pelipis Aca, sekali lagi Aca mengernyitkan dahinya.
"Riq, ah," sekali lagi Aca protes. Fariq meraih dagu Aca dan mendekatkan bibirnya pada bibir Aca, lalu melepas ciuamnnya saat Aca kesulitan bernapas, Fariq mengusap bibir Aca perlahan.
"Jangan pejamkan matamu Ca, lihat mataku, seperti biasanya," ujar Fariq lirih lalu mendekatkan bibirnya lagi pada bibir Aca, lama dan saling memagut.
"Astaghfirullaaaah lah ini nggak mau dinikahkan bu Ferdi duh saya bisa kena dosanya juga," ibu Aca dan mama Fariq kaget melihat keduanya berciuman di ruang tamu. Mama Fariq menutup mulutnya menahan tawa meski terlihat jengkel pada anaknya, sementara ibu Aca mengusap dadanya berulang.
Wajah Aca dan Fariq terlihat memerah menahan malu.
****
"Iiiiih kamu bikin malu mama Riq, heran deh mama sama kamu kok nggak kuat nahan, main cium anak orang kok ya di rumahnya lagi," mama Fariq ngomel-ngomel setelah sampai di rumah. Papa Fariq hanya tersenyum menatap wajah istrinya yang nampak sewot.
"Makanya Fariq mau nikah aja ma, setelah kak Razel," sahut Fariq.
"Kamu ini harusnya berterima kasih sama mama, rencana kita berjalan lancar, Aca akhirnya nurut sama ibunya, eh malah main nyosor aja," mama Fariq mencubit bahu Fariq karena kesal dan Fariq tertawa keras.
Papa Fariq melihat anaknya yang tak biasanya terlihat sangat bahagia.
"Memang kenapa sih ma?" tanya Pak Ferdi.
"Alhamdulillah pa, akhirnya Aca mau juga sama Fariq dan bersedia menikah dalam waktu dekat, ya setelah Razel tentunya," jawab bu Ferdi dan papa Fariq kaget namun tersenyum bahagia.
"Oh yaaa kejutan sekali ini ma, akhirnyaaaa, papa suka anak itu ma, dia nggak macem-macem, rajin, ulet, selama dia jadi bawahanku, aku tahu betul dedikasinya pada perusahaan seperti apa," sahutPpak Ferdi yang diiyakan oleh Fariq.
"Jeleknya dia jadi lupa makan pa kalau sudah kerja," sahut Fariq.
"'Hanya akan lebih baik jika kalian tidak satu kantor Riq, jika nanti sudah jadi suami istri," ujar papanya yang membuat Fariq kaget.
****