#15

1346 Kata
Fariq melangkah cepat dan duduk di dekat papanya dengan wajah cemas. "Pa, aku baruu saja mengganti posisi papa sekarang, baru saja ketemu Aca, masa harus pisah pa," ujar Fariq, dan terlihat jengkel saat papanya yang jarang tertawa tiba-tiba tertawa keras. "Maaa lihat wajah anakmu ini, baru kali ini aku melihat wajahnya cemas, dulu perusahaan yang dipegangnya hampir collaps tidak setegang ini wajahnya," papa Fariq masih belum berhenti tertawa. "Kalau itu sih Fariq tahu karena kerjaan teman papa yang mengacaukan harga saham kita dan tiba-tiba saja memutuskan secara sepihak tender besar yang sudah disepakati padahal pihak kita sudah ke luar uang banyak, aku nggak kawatir karena pasti akan ada jalan ke luar, nah kalau masalah Aca, aduh paaa jangan dipisah kami lah pa, nggak akan pernah ada jalan ke luar yang ada malah jalan menuju perpisahan pa," ujar Fariq. "Gini Rik, selama kalian belum suami istri silakan sekantor tidak masalah, hanya harus tetap profesional, tapi kalau sudah jadi suami istri akan mempengaruhi kinerjamu ketika ada masalah rumah tangga pasti merembet ke masalah kantor jika kalian tetap memaksakan diri satu kantor, maksud papa kamu tetap yang di kantor sekarang, nanti papa carikan Aca pegang perusahaan papa yang lain, papa ingin istirahat," ujar papa Fariq menyandarkan punggungnya ke kursi. "Oh maksud papa Aca akan pegang perusahaan juga?" tanya mama dan papa Fariq mengangguk. "Iya ma, masak menantu kita tetap posisi manajer ma, aku tahu kemampuan Aca," sahut papa Fariq dan mama Fariq mengangguk setuju. **** Pagi-pagi Aca berjalan terburu-buru dan tanpa sengaja menabrak seseorang saat masuk lift. "Benar-benar tidak sopan, anda...," orang itu menoleh pada Aca namun seketika wajah galaknya berubah kaget dan pias seketika. "Savana..kau..," ucap laki-laki itu. "Maaf saya tidak sengaja menubruk anda, saya Anataya, buka Savana, maaf," Aca masuk ke lift dan orang itu mengekor. Aca merasa terganggu dengan tatapan orang itu padanya karena dari dinding lift ia dapat melihat dengan jelas bagaimana orang itu memandangnya dengan lekat. Tidak sopan...eh sama sih aku juga tidak sopan menabraknya tadi, tapi aku kan tidak sengaja.. Pikiran Aca kemana-mana, beruntung di lift itu hanya mereka berdua dan tak lama sampai di lantai tiga tempat ruangan Aca berada. Aca melangkah cepat ke ruangannya dan suasana menjadi riuh saat staf Aca melihat manajernya masuk kembali. Baru saja duduk Aca sudah menerima panggilan dari Fariq agar menuju ruangannya karena semua manajer berkumpul di sana. Saat membuka pintu ia melihat semua manajer ada di sana dan laki-laki yang ia tabrak tadi. Fariq mengenalkannya sebagai sekretaris Fariq yang baru, Aca terkejut ternyata Fariq membuktikan ucapannya beberapa hari lalu di rumahnya bahwa ia akan mengganti sekretarisnya. Sesaat Aca mengerutkan kening saat menatap mata sedih itu lagi, lalu ia berubah tenang cenderung dingin saat menatap lawan bicara yang lain. Saat Aca akan ke luar, Fariq memanggilnya. "Bu Anataya, ingat tugas barunya kan?" tanya Fariq. "Iya pak, akan saya laksanakan," Aca mengangguk dan ke luar dari ruangan Fariq. "Pak, dia siapa, nama lengkapnya?" tanya pak Rajendra, sekretaris barunya. "Kita hanya berdua saja, panggil aku Fariq saja Ndra, ya dia bu Anataya, nama lengkapnya Anataya Tasyaufi, kenapa?" tanya Fariq terlihat menyelidik. "Maksudku betul dia memang bernama Anataya, bukan orang lain yang berganti nama?" tanya Andra, panggilan akrab Rajendra dengan wajah pernuh tanya. Terdengar tawa Fariq, dan menepuk bahu sahabatnya. "Dia teman sma ku, kami dekat sejak sma, bahkan orang tua kami juga saling kenal, aku menyukainya sejak sma, baru sekarang bisa memilikinya, kamu orang pertama yang aku beritahu, karena dia tidak mau di perusahaan ini ada yang mencurigai kedekatan kami, dia hanya ingin kami profesional, kami akan menikah dalam waktu dekat," Fariq melihat mata sedih sahabatnya terlihat mengangguk. "Mengapa kau bertanya seperti itu Ndra, apa kamu melihat ia seperti orang yang kamu kenal?" tanya Fariq dan Andra mengangguk. "Yah, dia tiba-tiba menghilang Riq, setelah sempat dekat denganku, sangat dekat bahkan, meski hanya dua bulan aku masih merasakan semua yang ada padanya," ujar Andra menghela napas berat. "Apakah itu alasan kamu bekerja tanpa kenal waktu, untuk melupakannya?" tanya Fariq dan Andra mengangguk. "Aku melihatmu setelah lepas dari pekerjaan kamu langsung mengelola cafemu sampai malam, seolah semuanya agar hari cepat berlalu," ujar Fariq lagi, sekali lagi Andra mengangguk. "Tapi jangan kawatir Riq, aku bertanggung jawab pada pekerjaanku, bukan hanya karena kehilangan dia, aku jadi tidak fokus, tidaklah, kamu cukup mengenalku selama kita kuliah," ujar Andra menatap sahabatnya dan Fariq menepuk bahu Andra. "Ok Pak Rajendra hari ini bacakan, apa saja yang harus saya lakukan seharian?" tanya Fariq dengan gaya bos dan Andra menahan napas melihat kaki Fariq menyilang di depannya. Akhirnya keduanya sama-sama tersenyum lebar. **** Sore hari terlihat Fariq dan Rajendra baru datang kembali ke kantor, keduanya bergegas menuju tempat masing-masing. Fariq menelpon Aca yang untungnya sore itu Aca baru saja selesai sholat. Aca meraih ponselnya, tertera nama Fariq di sana, setelah memastikan aman ia mendekatkan ponsel ke telinganya. Hmmmm Ke ruanganku sebentar, bisakan Ada perlu apa? Ck, ayolah turuti perintah calon suamimu Ih Aca mengakhiri pembicaraannya dengam Fariq dan melipat mukenanya dan ke luar dari mushola melangkah menuju ruangan Fariq. Aca mengetuk dan tampak Andra yang membukakan pintu untuknya, seketika wajah Andra menegang dan menyilakan Aca dengan ekspresi datar. "Ada perlu dengan saya pak?" tanya Aca formal dan Fariq tersenyum. "Santai sajalah Ca, Andra teman kuliahku," sahut Fariq. "Kita ke cafenya Andra yok Ca," ajak Fariq dan Aca menggeleng. "Nggak makasih, aku masih belum sehat, nggak papa ya, maaf aku pulang duluan, mari Pak," Aca berdiri dan menatap Fariq yang nampak masih ingin bersamanya. "Naik apa pulangnya Ca, kamu pasti nggak bawa mobil kan?" Fariq terlihat kawatir. "Ada ojol, aku sudah biasa kayak gini, yok dah," sekali lagi Aca mengangguk pada Andra. "Nanti malam aku ke rumahmu," ujar Fariq lagi dan Aca menoleh saat di mulut pintu, mengangguk tanpa senyum dan menutup pintu. "Mengapa mereka sama Riiiiq, aaaakhhhhh," terdengar Andra mengerang perlahan. "Maaf Ndra, atau aku kembalikan kamu ke kantor pusat ya?" Fariq kasihan melihat sahabatnya kesakitan. "Nggak Riq, nggak papa, akan aku hadapi Riq siapa tahu aku malah bisa melupakannya karena dia sudah jadi milik kamu," ujar Andra memejamkan matanya. "Hei yang kamu bicarakan siapa Ndra?"Fariq terlihat kesal. "Iyaaaa aku membicarakan Savana bukan Anataya, tapi agar bisa melupakannya aku harus berpura-pura seperti itu pada hatiku," kata-kata Andra membuat Fariq tertawa. "Jangan sampai kamu jatuh cinta pada Aca, Ndra, dia akan aku nikahi," ujar Fariq mendekatkan wajahnya pada Andra. "Hari ini sudah dua kali kamu bilang gitu Riq," ujar Andra jengkel dan Fariq tertawa. "Aku hanya mengingatkanmu, aku terlalu lama menunggunya Ndra, menunggu dia mengangguk untuk berjalan di sisiku dan itu melelahkan, tapi kini aku lega, akhirnya dia mau, hanya aku harus sabar karena dia masih sulit melupakan mantannya yang b******k itu," Fariq memejamkan matanya dan menghembuskan napas dengan berat. Rajendra menoleh dan memandang Fariq, menunggu sahabatnya membuka mata dan bertanya. "Apa dia punya masa lalu yang menyakitkan?" "Yah, dia dan keluarganya dibuat malu oleh laki-laki itu," dan Fariq bercerita kisah Aca pada Andra. "Ah hidup Riq, kita memang tidak bisa menerka kemana jalannya," ujar Andra pelan. Tiba-tiba ponsel Fariq berbunyi dan Fariq melihat nama Aca yang tertera di sana. Ya sayang Ih sayang, eh anterin aku pulang ya Riq, aku tiba-tiba pusing, nggak aman rasanya kalau naik ojol Ok, kamu di mana, nanti malu kelihatan banyak orang Masih di ruanganku Kita pakai lift khusus aja yah He'eh Fariq masih menggenggam ponselnya dan menatap Andra. "Maaf kau nggak jadi ke cafemu Ndra, mau antar Aca pulang, dia masih nggak enak badan sebenarnya cuman maksain masuk eh ikut mobilku sekalian Ndra?" ajak Fariq dan Andra menggeleng. "Aku akan jadi lalat pengganggu saat kalian bermesraan, tidaklah, aku bawa mobil," Andra mendengar tawa sahabatnya. Saat melewat ruangan Aca, Fariq melihat keributan dan ia segera ke sana, menemukan Aca yang berbaring di sofa ruangannya dengan mata terpejam. "Ada apa, kenapa ibu Anataya?" ujar Fariq cemas, semuanya bingung karena suara Fariq yang keras. "Bu Anataya tiba-tiba pingsan pak," jawan salah satu staf Aca dan dengan sigap Fariq menggendong Aca. "Akan saya antar ke rumahnya, Ryan bawakan semua barang bu Anataya, masukkan ke mobil saya," Fariq melangkah cepat menuju lift. Selama lift berjalan, Fariq memandangi wajah Aca yang tampak lelah. Kenapa kamu Ca.. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN