Maaa cepat ke klinik dr. Aldo
Ada apa, kenapa panik
Aca maaa tiba-tiba pingsan
Ok mama ke sana sayang
Fariq mondar-mandir di depan ruang observasi. Tak lama mama Fariq datang, memeluk dan mencium Fariq lalu menemui dokter yang sudah dekat dengan keluarganya.
Beberapa menit kemudian Fariq mendengar mamanya memanggil dan duduk dengan mamanya di depan dokter berumur namun masih tampak gagah itu.
"Siapamu itu Fariq?" tanya dr. Aldo sambil senyam-senyum.
"Eeemmm in shaa Allah calon istri om," jawab Fariq terlihat gugup namun masih bisa tersenyum.
dr. Aldo dan mama Fariq tertawa perlahan.
"Dia sudah sadar, tadi dia bilang, pingsannya karena tidak kuat menahan sakit, sudah sekitar dua bulan begitu kata dia Riq, di perut bagian kanan, besok kami akan melakukan serangkaian tes, sekarang biar dibawa pulang dulu, besok jam 9 om tunggu di sini Riq," kata-kata dr. Aldo benar-benar mengagetkan Fariq dan mamanya.
"Tapi dia tidak mengeluh apa-apa pada saya om, ah Aca," ujar Fariq kawatir.
"Duh Fariq, kok bisa nggak tahu sih, benar-benar nggak peka deh," mama Fariq terlihat kesal dan dr. Aldo hanya tersenyum.
"Sudahlah, bawa pulang calon menantumu, pasti dia malu mau mengeluh pada Fariq, kelihatannya anak itu memang cenderung pendiam," ujar dr. Aldo pada mama Fariq.
****
"Kamu kok nggak cerita sih Ca kalau mengalami rasa sakit sejak dua bulan lalu?" mama Fariq mengelus bahu Aca yang masih terlihat lelah dan sesekali memejamkan matanya.
"Nggak papa ma, kadang sakitnya hilang, kadang sampai semalam saya tidak bisa tidur, saya hanya tidak ingin ibu cemas," sahut Aca sambil menunduk.
****
Ibu Aca nampak kawatir saat melihat anaknya bersama Fariq dan mamanya.
"Caaa kamu kenapa nak?" tanya ibu Aca cemas, saat melihat Aca dipapah Fariq menuju kamarnya.
"Antar Aca ke kamarnya Riq, biar mama yang menjelaskan ke bu Heru," ujar mama Fariq.
Sesampainya di kamar, Fariq mendudukkan Aca yang sesekali terlihat mengerutkan keningnya.
"Masih sakit?" tanya Fariq menatap wajah lelah di dekatnya. Aca menggeleng sambil tersenyum.
"Pasti kamu bohong, kamu biasa merasakan sakit sendiri Ca," Fariq meraih kepala Aca dan mendekap ke dadanya.
"Bagilah sakitmu denganku Ca," ujar Fariq lagi, Aca mendongak menatap Fariq, hingga hembusan napas Fariq menerpa wajahnya.
Keduanya saling pandang dari jarak dekat, ada rasa saling ingin melabuhkan bibir namun ngeri karena kondisi yang tidak memungkinkan.
Akhirnya Fariq mencium kening Aca, lalu mengecup kedua mata Aca.
"Tidurlah," Fariq merebahkan badan Aca. Aca hanya memandang Fariq dengan tatapan yang hanya keduanya bisa mengerti, sekali lagi Fariq mendekat ke wajah Aca, menyapunya dengan hembusan napas lembut.
"Kamu ganti baju dulu Ca, nanti minta tolomg ibu kalau kamu masih lemas, atau aku akan mengambilkan bajumu, yang mana?" Fariq bangkit namun Aca meraih tangan Fariq.
"Nanti saja, duduk di sini saja, dengan melihatmu, sakitku agak berkurang," kata Aca dengan suara tesendat, ia malu mengakui jika wajah Fariq mulai akrab di matanya.
Fariq tersenyum mengusap rambut Aca lalu mengelus pipi Aca.
"Pandangi sepuasmu, bentar lagi aku akan pulang," hati Fariq terasa mengembang mendengar kata-kata Aca.
Badan Fariq menunduk mendekatkan wajahnya pada wajah Aca, Aca memejamkan matanya, ia tahu ada dorongan dalam dirinya untuk menyambar bibir Fariq namun ia tahan, harga dirinya sebagai wanita menahan untuk tidak berbuat nekat.
"Caaa, pandang aku, kamu mikir apa, mau aku cium sekarang, kamu mulai suka kan kalau aku cium?" tanya Fariq mengusap bibir Aca, Aca membuka mata dan mendorong Fariq perlahan sambil tersenyum, ia malu mengakui jika kata-kata terakhir Fariq memang benar.
"Pulanglah, ini sudah malam, besok kita akan ke klinik itu, sekarang aku mau beristirahat," ujar Aca dan terbelalak kaget saat Fariq tiba-tiba mencium bibirnya sekilas.
"Selamat tidur Ca, aku pulang," Fariq berdiri memandang Aca sekali lagi dan melangkah ke luar kamar.
****
Fariq menghentikan langkahnya mendengar pembicaraan kedua orang tua itu balik partisi yang memisahkan ruang makan dan ruang tamu.
"Kakak Fariq akan menikah tahun ini Bu Heru, gimana kalau sekalian Fariq sama Aca juga, yaaaa paling tidak jarak pernikahan Razel dengan Fariq dua atau tiga bulan lah.
"Saya setuju saja, hanya Aca yang perlu saya ajak bicara dulu Bu Ferdi, biar nanti saya akan mencoba bicara berdua," ujar ibu Aca dan hati Fariq semakin bersorak, pendekatan mamanya pada ibu Aca sepertinya berhasil.
Saat Fariq muncul keduanya kaget dan mama Fariq berdiri.
"Bu Heru kami mohon pamit besok jam 08.30 kami akan ke sini menjemput Aca menuju klinik lagi untuk melakukan tes ah anak itu terbiasa diam jika ada apa-apa," ujar mama Fariq sambil melangkah ke luar diiringi oleh langkah ibu Aca dan Fariq di belakang keduanya.
****
Setelah tamunya pergi, ibunda Aca melangkah menuju kamar anaknya, ia buka pintu yang memang tidak di tutup itu.
Bu Heru duduk di samping kasur anaknya dan mengusap bahu Aca. Aca menoleh, melihat wajah sabar yang cemas dan sedih
"Aca tidak apa-apa ibu, ibu sare saja, ini sudah malam," suara Aca terdengar lirih.
"Kamu menahan sakit kan Ca?" tanya ibunya masih dengan wajah cemas.
"Sudah tidak begitu ibu, sakitnya datang dan pergi, sekarang tidak begitu sakit, ibu istirahat, jangan sakit," ujar Aca lagi, Aca merasakan bibir lembut ibunya menyentuh keningnya dan melihat langkah pelan ibunya menuju pintu, menoleh pada Aca lalu menutupnya dengan pelan.
****
Jam 08.30 Fariq dan mamanya sudah sampai di rumah Aca, lalu mereka bertiga menuju klinik dr. Aldo.
Serangkaian tes dilakukan hari itu dan satu jam kemudian Aca merasakan sakit yang luar biasa lagi, ia hanya mendesis perlahan, namun melihat geraham Aca yang mengatup keras Fariq bisa merasakan sakit yang luar biasa.
Akhirnya Aca diistirahatkan di ruang observasi, dr. Aldo menyarankan menunggu hasil tes. Mama Fariq berada di ruangan dr. Aldo sementara Fariq berada di samping Aca yang memejankan mata.
"Pegang tanganku Ca jika sakit, mau aku cium agar sakitmu teralihkan?" pertanyaan Fariq membuat Aca memerah wajahnya.
"Ssshhhh Riq, kamu masih sempat-sempatnya bergurau," sahut Aca lirih.
Fariq mendekatkan wajahnya memandangi wajah yang selalu terlihat cantik di matanya.
"Riq, jangan terlalu dekat, nanti tiba-tiba mamamu muncul," suara Aca yang tertahan membuat Fariq semakin mendekatkan wajahnya.
"Sakit banget ya Ca, kamu sampai gini," Fariq tiba-tiba meraih tubuh Aca dalam pelukannya, Aca terduduk dan menyandarkan kepalanya pada bahu Fariq sambil terpejam, merasakan punggungnya dielus perlahan, rasa sakit itu memang benar-benar berkurang.
"Enak Ca?" tanya Fariq, Aca mengangguk perlahan.
"Pasti makin berkurang sakitnya kalau aku cium sekarang," ujar Fariq lagi sambil memeluk Aca dan mengangkat kepala yang terasa lemah itu mendekati wajahnya.
"Jangan, jangan Riq, aku tidak mau bayanganmu semakin lekat di mataku, aku tidak mau semakin menambah sakit di tempat lain," sahut Aca sambil merasakan hidung Fariq yang menyentuh hidungnya.
Pintu tiba-tiba terbuka semakin lebar dan Fariq semakin mempererat pelukannya.
"Riq, bawa Aca ke ruangan dr. Aldo yuk, ada yang mau disampaikan, bisa jalan kan sayang?" tanya mama Fariq dan Aca mengangguk dengan wajah memerah lalu melirik kesal pada Fariq yang tersenyum pada mamanya, ulah Fariq membuat Aca merasa tidak enak pada mama Fariq, seolah mereka mencari kesempatan di tempat itu.
****
"Masih sakit Ca?" tanya dr. Aldo sesampainya Aca di depan dokter gagah itu.
"Yaaa sekarang tidak begitu sakit dok, tapi tadi benar-benar terasa meremas perut bagian kanan," sahut Aca.
"Eeemm begini, Aca, penyakit kamu tidak berbahaya namun kamu harus kuat pada sakit yang muncul dan jika diameternya sudah dirasa cukup maka kami akan melakukan operasi," ujar dr. Aldo pelan dan menemukan pasiennya yang cantik terlihat kaget namun bisa menguasai diri.
Aca meremas tangannya sendiri, Fariq segera menggenggam tangan Aca yang terasa dingin dan basah.
"Saya sakit apa dok?" tanya Aca terbata.
****