“Nggak usah takut Ca, maaf om panggil nama kamu ya, karena usia kamu sama Fariq kayak anak om," ujar dr. Aldo.
"Gini, di ovarium kanan kamu ada kista coklat, nggak bahaya, cuman kamu harus kuat nahan sakit, saat ini belum waktunya di operasi karena diameternya masih bisa ditolelir tapi om akan kasi kamu obat pereda sakit," ujar dr. Aldo lagi, Aca hanya tergugu menatap wajah dr. Aldo, pengetahuannya tentang penyakit itu sangat minim, ia hanya berpikir ovarium, mengapa di ovarium tumbuhnya kista itu, apakah ia bisa punya anak kelak jika menikah.
Aca lama menunduk saat dr. Aldo menulis resep, Fariq menggengam tangan Aca yang semakin dingin.
"Ca, kamu nggak papa kan?" tanya Fariq, Aca hanya mengangguk dan mama Fariq mengusap bahu Aca.
"Nggak papa sayang, kamu akan baik-baik saja, mama akan minta obat terbaik untuk penyakit kamu," ujar mama Fariq.
****
Selama perjalanan pulang, Aca lebih banyak diam. Dia hanya menatap jalanan, pikirannya mengingat kembali kata-kata dr. Aldo.
Sesampainya di rumah Aca, Fariq dan mamanya mengantar Aca masuk dan agak lama terlibat pembicaraan dengan ibunda Aca.
*****
Setelah tamunya pulang, Aca segera membuka laptopnya mencari informasi tentang penyakitnya dan kemungkinan untuk memiliki anak.
Aca mendesah pelan menerima kenyataan yang beragam, testimoni dari para penderita penyakit seperti dirinya tidak memuaskannya.
Aca melangkah menuju lemari mengambil baju rumah dan membuka dressnya.
Lalu merebahkan badannya dan menelungkupkan wajahnya pada guling.
Aku takut menerima kenyataan Riq, testimoni yang beragam membuat aku takut dan bingung...
****
Sudah empat hari ini Fariq seperti kehilangan Aca, setiap saat selalu sibuk dengan divisinya, Fariq merasa sungkan untuk mengganggu meski dari Andra ia tahu jika Aca baik-baik saja.
Saat pulang ia selalu kehilangan sosok Aca yang selalu pulang lebih cepat.
Fariq merasa jika Aca menghindarinya, jika ia ke rumahnya selalu Aca sudah tidur nyenyak.
****
"Tumben pulang ke sini sayang, nggak nemuin Aca, tanya gimana kesehatannya gitu?" tanya mama Fariq.
"Aku bingung ma, Aca seperti menghindariku, apa karena penyakitnya itu, dia selalu begini jika ada sesuatu, ia biarkan pikirannya berjalan sendiri," Fariq menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
"Masa sekantor nggak bisa ketemu Riq, aneh kamu, masa tidak bisa cari cara agar bertemu Aca, bos payah kamu Riq," papa Fariq tertawa melihat anaknya yang berwajah lelah.
"Hmm papa, sudah nggak batuin malah ngeledek," Fariq memejamkan matanya lagi.
"Datang lebih pagi besok, papa yakin, kamu akan bertemu," Fariq menatap papanya.
"Hmmm ragu dengan saran papa, lihat mamamu yang cantik itu, masih belum percaya dengan saran papa?" tawa papa Fariq terdengar seperti ejekan bagi Fariq.
"Maksud papa kan sudah dapat mama yang cantik masa sarannya nggak diterima, ah itu sih kuno, mama sama papa kan dijodohin iya kan?" tanya Fariq yang disambut tawa papa dan mamanya.
"Eh Riq meski kami dijodohkan, kami merasa tidak terpaksa karena kakek nenek kamu tidak maksa kami harus jadi ya ma, yaaah biar waktu menjawab dan mamamu akhirnya jatuh ke pelukan papa, saat papa ajak ia menikah, mamamu langsung mau loh, iya kan ma,dan kamu tahu siapa laki-laki yang saat kami dijodohkan masih mengejar mama kamu, dokter langganan keluarga kita, dr. Aldo itu, dia gigih mengejar mamamu, entah kenapa juga si Aldo sulit move on ya ma, tapi kami sudah berteman baik, bahkan sudah seperti saudara," ujar papa Fariq dan Fariq kaget sambil menatap wajah mamanya, mamanya hanya tersenyum dan mengangguk.
"Hanya kisah cinta Aldo selalu berakhir sakit Riq, setelah penolakan mamamu, dia menjalin kasih dengan wanita sesama dokter yang katanya jodoh keinginan ibunya, sampai menikah sih akhirnya, namun kecelakaan merenggut nyawa istrinya yang waktu itu dalam keadaan hamil besar, kabar yang mama dengar Aldo mengikhlaskan kepergian istrinya, membebaskan orang yang menabrak istrinya, karena kondisi ekonomi penabrak yang dari keluarga sederhana, namun ia meminta bayi yang dilahirkan oleh istri si penabrak itu yang kebetulan baru saja melahirkan, Aldo rawat anak itu seperti anaknya sendiri, saat itu usia kamu sekitar enam bulan lah Riq, masih bayi lucu-lucunya," mama Fariq bercerita panjang lebar.
"Wah mamamu ngikutin terus ternyata Riq kabar dr. Aldo," papa Fariq menatap istrinya yang tersenyum lebar.
"Ah papaaa kayak nggak tahu aku aja, Aldo sudah selesai sejak duluuuu, meski kami sempat menjalin kasih, sudah tidak ada hubungan lagi sejak aku menerima perjodohan kita, dan aku mencintaimu, sangat," mama Fariq memajukan wajahnya dan mencium bibir suaminya sekilas.
Fariq yang melihat adegan itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Heeyyyyssss mama, mesti gitu nggak tahu ada aku, atau kak Razel, main nyambar aja," ujar Fariq.
"Lah ya biar, masa setelah tua kita tidak boleh mesra ya pa?" ujar mama Fariq, papa Fariq hanya tertawa menanggapi pertanyaan istrinya.
****
Sekitar jam sembilan malam Fariq pulang ke rumahnya, sesampainya di sana ia segera masuk ke kamarnya. Tawaran makan malam dari pembantunya ia abaikan, Fariq ingin segera mengistirahatkan pikirannya.
*****
Pagi-pagi sekali Fariq sudah di kantornya, menunggu Aca dan membiarkan pintu ruangannya terbuka.
Tak lama ia mendengar langkah mendekat dan Fariq berdiri di mulut pintu, sesaat tatapan Fariq beradu dengan wanita yang telah ia tunggu selama empat hari, Aca menunduk dan melangkah melewati Fariq.
Fariq menarik lengan Aca dan setengah memaksa masuk ke ruangannya.
Dengan kakinya Fariq menutup pintu dan berbalik menatap wanita yang sangat dirindukannya.
Mereka saling memandang lama, Fariq melihat mata Aca yang bergerak-gerak dan berkaca-kaca, lalu dalam hitungan detik Fariq menarik Aca dalam pelukannya, membawa Aca ke dadanya.
Fariq dapat merasakan bahu Aca yang naik turun dan isakannya yang mulai terdengar.
"Aku merindukanmu Ca, merindukan mendekapmu seperti ini," suara Fariq terdengar parau.
"Kenapa menjauh, kenapa menghindar, kamu selalu begini, selalu membiarkan aku menduga-duga sendiri, aku mencintaimu Ca, apapun dan bagaimanapun kamu," ujar Fariq.
"Dan jika aku tak bisa memberimu anak," lirih suara Aca terdengar.
Fariq melepas pelukannya, kini ia tahu kekawatiran Aca.
"Aku tak peduli, tapi kita harus tetap berusaha, dan jika tetap tak ada hasil, kita akan melewati masa tua bersama, aku berjanji Ca, akan selalu mendekapmu seperti ini sampai kita tua nanti, aku mencintaimu Ca, jangan pergi lagi, jangan menghindar lagi" suara Fariq terdengar memohon.
Fariq mengangkat dagu Aca, menurunkan wajahnya dan melumat dengan lembut bibir Aca yang terbuka.
Tangan Aca mendekap erat punggung Fariq dan meremas perlahan jas laki-laki yang sebenarnya sangat ia rindukan namun terasa berat untuk mengakuinya.
"Oh maaf," suara Andra mengagetkan keduanya lalu pintu tertutup lagi.
Wajah Aca memerah karena malu dan karena asupan oksigen yang mulai berkurang. Fariq mendekap Aca lagi.
"Nanti aku antar kamu pulang, kamu masih terlihat pucat, tunggu aku, aku nggak mau kamu lelah Ca," ujar Fariq dan Aca hanya mengangguk.
****
Siang Aca berada di pantry, entah mengapa rasanya ia ingin menjauh dan duduk di sana sendiri menikmati s**u hangat yang ia buat.
Saat sedang menyesap s**u hangat dari mug kecil, ada langkah mendekat, sesaat mata mereka beradu dan saling melepaskan tatapan dengan kesibukan masing-masing.
Aca melihat laki-laki itu menyeduh teh hangat lalu mendekatinya dan duduk tidak jauh dari tempat Aca.
"Maaf jika saya menganggu, kebetulan saya ingin sendiri jadi ke sini," suara Andra membuka percakapan.
"Tidak apa-apa tempat ini bebas untuk siapa saja," sahut Aca.
"Boleh saya bertanya, apakah ibu punya saudara kembar?" tanya Andra.
"Tidak, saya anak tunggal," ujar Aca tanpa melihat Andra.
"Wajah ibu mengingatkan saya pada seseorang yang pernah bersama dengan saya, sama, sama dengan ibu tak ada beda, hanya orang yang bersama saya eemm maaf berdandan lebih mewah," ujar Andra lagi.
"Di dunia ini memang seperti itu pak, ada banyak wajah mirip, apalagi wajah pasaran seperti saya," sahut Aca.
"Bukan begitu bu, suara dan cara berperilaku sama hanya cara berdandan yang berbeda," ujar Andra.
Aca hanya menghembuskan napas, lalu beranjak dari tempat itu.
"Maaf, saya harus ke ruangan saya lagi," Aca melewati Andra dan Andra bersuara lagi.
"Boleh saya berteman dengan ibu?" tanya Andra, Aca berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Ya," sahut Aca pelan dan berlalu dari ruangan itu.
Andra memejamkan matanya, ia yakin wanita itu akan kaget jika suatu saat nanti ia tunjukan foto wanita yang selama ini ia cari, wanita yang telah memenjarakan hatinya, wanita lembut yang telah ia tolong karena telah dicampakkan laki-laki lain, awalnya ia bermaksud menolong dan menghiburnya namun yang terjadi malah ia terpenjara, ia jatuh pada perasaan cinta yang amat dalam.
****