Pagi-pagi Fariq kaget saat ponselnya berdering nyaring, ia ingin sabtu pagi ini mengistirahatkan pikirannya, lalu nanti siang akan ke rumah Aca. Dengan mendengus kesal ia raih ponselnya, matanya masih terpejam, lalu perlahan ia lihat nama di ponselnya, Fariq agak kaget saat melihat nama dr. Aldo di sana.
Ya om
Maaf mengganggu, gimana kesehatan Aca
Alhamdulillah baik om
Oh iya iya, seminggu lagi bawa ke klinik om ya Riq
Baik ok
Fariq meletakkan ponselnya dan berusaha memejamkan matanya lagi namun tidak bisa, ia bangun dan menuju kamar mandi.
Tak lama kemudian Fariq berusaha bergegas memakai kaosnya saat bolak balik bel berbunyi dan mendengar langkah tergesa bu Fera.
"Tuan, ada tamu tuan di ruang tamu, pak Andra, dia menyebut namanya begitu," ujar bu Fera di depan kamar Fariq yang terbuka.
"Terima kasih bu," sahut Fariq sambil melangkah ke ruang tamu dan mendapati Andra yang asik dengan ponselnya.
"Tumben?" tanya Fariq tersenyum lebar.
"Yah ingin ngajak kamu ke luar, ke mana gitu," ajak Andra.
"Ke rumah Aca yuk Ndra, aku ingin mengajak dia ke klinik dr. Aldo," ajak Fariq.
"Masa hari sabtu buka Riq?" tanya Andra.
"Ya iyalah, ini kan klinik besar," sahut Fariq.
"Tahu nggak Riq, aku sebenarnya tersiksa tiap lihat wajah Aca, benar-benar mirip dengan Savana, ah mereka satu orang Riq, orang yang sama," ujar Andra.
"Ok, ok Ndra, terserah kamu deh, dia anak mana?" tanya Fariq lagi dan Fariq melihat Andra mrnggeleng dengan sedih.
"Loh kamu ini gimana sih, katanya dua bulan deket sama tuh orang masa nggak tahu dia anak mana?" Fariq tertawa pelan.
"Terserah kamu percaya atau tidak, awalnya aku lelah Riq, setelah Yessy memutuskanku karena alasan aku terlalu posesif, aku menuju taman kota tiga hari berturut-turut dan hari keempat, aku melihat seorang perempuan menangis tersedu, aku dekati karena hari mulai gelap kasihan juga perempuan itu terlihat sedih dan lemah meski tetap menawan, agak lama dia baru mau berbicara, dia mau aku antar sampai di depan rumah besarnya, akhirnya kami dekat karena dia tiap hari ke taman kota, setelah seminggu, ia banyak bercerita tentang kesepiannya, kangen pada mamanya yang ia tahu hanya dari foto, mamanya meninggal sesaat setelah ia lahir, ia tidak tinggal di negara ini Riq, dia tinggal di Kuala Lumpur, dia pulang ke Indonesia karena sakit hati pada kekasihnya, ia melihat kekasihnya dengan mata kepalanya sendiri tidur dengan wanita lain dan ternyata wanita itu istrinya, berarti kan Savana hanya dijadikan selingan, ia menangis di dadaku Riq, brengseknya aku, akuu membawanya ke hotel, dia menangis dalam pelukanku, mungkin karena terbawa suasana, kami melakukannya Riq, ah entahlah Riq, dan dia masih gadis ternyata, kami melakukannya berulang, satu hal yang membuat dia menghilang dan tak pernah kembali, dia melihat Yessy yang tiba-tiba memeluk dan menciumku di depannya saat kami makan di cafe, ah bodohnya aku, aku tak tahu alamatnya yang di Kuala Lumpur dan ternyata rumah besar yang aku kira rumahnya ternyata bukan, terlalu banyak misteri dalam hidup Savana, aku kehilangam dia Riq, aku kawatir dia hamil dan itu anakku," mata Andra memerah. Fariq hanya menghela napas.
"Rumit ceritamu Ndra, aku sendiri pusing menghadapi Aca, ditambah ceritamu kepalaku jadi semakin nggak karuan, sudah lah, tidur di sini saja Ndra, tidak usah ke mana-mana, akan aku suru Bu Fera menyiapkan makan dan kudapan atau apalah untuk kita," ujar Fariq dan Andra menatap wajah temannya yang terlihat menyedihkan sama seperti dirinya.
"Trus yang rencananya mau ke Aca?" tanya Andra.
"Tidak apa-apa minggu depan saja, toh dr. Aldo meminta minggu depan, ayo kita ke ruang tengah, atau sekalian ke ruang makan," ajak Fariq.
****
Aca merasakan sakit lagi di perut bagian kanannya, obat dari dr. Aldo sepertinya hanya bisa menahan sebentar rasa sakitnya.
Keringat dinginnya mulai ke luar, tapi ia tahan untuk tidak mengeluh.
Bu Heru, ibunda Aca, agak kaget saat membuka pintu kamar anaknya dan menemukan Aca yang mendesis menahan sakit.
"Gimana nak, rasanya, sakit?" pertanyaan yang aneh tapi Bu Heru tak tahu harus berkata apa. Aca berusaha tersenyum dan menggeleng pelan, biarlah ia berbohong asal ibunya tidak kawatir.
"Ibu telpon nak Fariq ya Ca?" tanya Bu Heru lagi.
"Jangan ibuu jangan, Aca tidak mau merepotkan Fariq dan mamanya lagi," ujar Aca sambil memelas.
Keduanya kaget saat ponsel Aca berbunyi nyaring di dekat Bu Heru, ponsel Aca di ambil dan terlihat nama Fariq di sana.
"Fariq, Ca?" suara Bu Heru tertahan.
"Ibu saja yang nerima, kalau Aca, jadi kelihatan jika Aca kesakitan," suara Aca semakin lirih.
Yaaa nak Fariq assalamualaikum
Wa alaikum salam Acanya ada ibu
Emmm Acanya, Acanya sakit nak
Hah sakit, saya segera ke sana bu
Bu Heru meletakkan ponsel Aca di meja dan Aca semakin memejamkan matanya.
"Ibuuuu kok bilang sih kalau Aca sakit," suara Aca semakin lirih.
"Masak ibu mau bohong Ca, kenyataannya kamu memang sakit," Bu Heru mendekati Aca dan mengusap rambut Aca.
"Ibu harus bagaimana agar sakitmu berkurang nak?" Bu Heru mengusap punggung Aca.
"Yaaah seperti itu ibu, terasa nyaman," ujar Aca sembari memeluk pinggang ibunya yang duduk di kasur di samping Aca berbaring.
****
"Ooh nak Fariq mari masuk nak, mari, eh temannya nak Fariq juga mari" ujar ibu Aca mempersilakan Fariq yang ternyata bersama Andra.
"Aca gimana ibu?' tanya Fariq setelah duduk.
"Sudah tertidur lagi, setelah ibu usap punggungnya," jawab ibu Aca.
"Ah boleh saya masuk ibu, saya...," Fariq terlihat bingung.
"Mari silakan nak, ibu antar ke kamar Aca," akhirnya Fariq menuju kamar Aca dan meninggalkan Andra di ruang tamu.
****
"Masuklah," ibu Aca membuka lebar pintu kamar Aca.
Fariq menatap nanar punggung Aca yang meringkuk, ingin rasanya memeluknya, tapi tak mungkin.
Fariq duduk di kasur, sedikit bergerak dan Aca terlihat perlahan membalikkan badannya dan matanya masih tertutup.
"Ibu, usap punggung Aca lagi," suara Aca lirih dan Fariq tercekat saat tangan Aca melingkar di pinggangnya.
Perlahan Fariq mengusap punggung Aca, lalu mencium kening Aca dengan lembut.
Mata Aca segera terbuka saat parfum yang ia hafal harumya menguar dihidungnya. Dan kaget saat tahu Fariq yang ia peluk, segera ia lepaskan dan menggeser menjauh dari Fariq.
"Riq," suara Aca tertahan, Fariq tersenyum mengusap rambut Aca.
"Nggak papa peluk lagi, asal kamu merasa nyaman," ujar Fariq lembut.
"Nggak enak Riq, ada ibu," sahut Aca.
"Jadi kalau nggak ada ibu, kamu mau meluk aku?" tanya Fariq sambil menahan senyum.
"Ah kamu," Aca memeluk guling dan memejamkan matanya lagi.
"Pulanglah Riq, aku ingin tidur," ujar Aca.
"Tidurlah, aku akan menemanimu," sahut Fariq.
****
"Mari nak, diminum," ujar ibu Aca, sambil meletakkan teh hangat dan pisang rebus.
"Adanya hanya ini, kebetulan Aca minta pisang rebus," ujar ibu Aca lagi.
"Iya ibu terima kasih," ujar Andra.
"Nak siapa ya namanya?" tanya ibu Aca.
"Saya Rajendra ibu, biasa dipanggil Andra," sahut Andra dengan sopan.
"Oooh iya iya, mari silakan, saya tinggal ke dapur dulu ya," ibu Aca pamit namun Andra segera menahan dengan pertanyaan.
"Ibu maaf, boleh saya bertanya?"
"Silakan nak, silakan," sahut ibu Aca ramah.
"Eeemmm apakah Aca punya saudara kembar ibu?" Andra melihat keterkejutan di wajah ibunda Aca.
****