Menyadari keterkejutan ibunda Aca, Andra segera meralat.
"Ah maaf maksud saya Bu Anataya, saya hanya mengakrabkan diri memanggil panggilan sama seperti Fariq," sahut Andra dan perlahan ia melihat wajah teduh itu memandangnya.
"Nak Andra di sini melihat ada berapa Aca?" tanya Bu Heru berusaha ramah.
"Eeeemm saya bahkan belum bertemu Bu Anataya, tapi ya tentunya Bu Anataya masih di kamarnya," jawab Andra dengan gugup.
"Ya, berarti hanya ada satu Anataya, tidak ada dua Anataya, itu saja jawaban ibu, maaf ibu tinggal ke belakang," jawaban menggantung ibunda Aca membuat Andra semakin penasaran, ia merasa sesuatu di balik wajah sabar itu.
Ada sebersit penyesalan ia telah menanyakan itu, tapi kesamaan Aca dengan Savana tak terbantahkan lagi, Fariq tidak mempercayainya karena ia belum melihatnya.
"Dan bodohnya aku mengapa aku tak pernah memiliki foto dengan dirinya, yah dua bulan, dua bulan terlalu singkat untuk sebuah hubungan yang manis itu, ah Savana kau membuatku mati rasa, maafkan aku telah merusakmu, tapi kita sama-sama melakukan itu untuk yang pertama, dan kau akan aku jadikan yang terakhir," Andra bergumam sendiri.
"Heh, kalau mau jadi gila jangan di sini, ngomong sendiri malah," ujar Fariq yang tiba-tiba muncul.
"Mana Bu Anataya, kok nggak ikut ke luar Riq?" tanya Andra.
"Dia tidur lagi, awalnya tidak mau tidur tapi aku setengah memaksa, aku usap punggungnya, ah Ndra, rasanya aku ingin menemaninya tidur, memeluknya ke dadaku, biar rasa sakitnya teralihkan," ujar Fariq terlihat sedih.
"Ya nggak bisalah Riq, di rumah Bu Anataya ini, cari mati kamu," ujar Andra menepuk bahu Fariq.
"Seandainya bisa Ndra," sahut Fariq meralat ucapannya.
"Kita pulang saja Ndra, biar Aca istirahat," ajak Fariq dan terdengar langkah kaki ibu Aca.
"Loh mau kemana, ayo dinikmati dulu," ibunda Aca duduk diantara keduanya menyodorkan hidangan sederhana itu.
Tak lama kemudian setelah menghabiskan teh manis hangat Fariq dan Andra pamit.
****
Ibunda Aca memegang dadanya, duduk perlahan di kasur dan air matanya bercucuran tak henti, seketika ia ingat pertanyaan Andra lalu berputar semua peristiwa 28 tahun lalu.
****
"Bu Isti, Pak Heru kecelakaan, dia tidak kunjung ke sini, ke klinik ini karena menabrak seseorang, dan korbannya meninggal,"
Suara-suara orang disekitarnya berdengung, berbaur jadi satu dan ia hanya merasakan gelap.
Seminggu kemudia suaminya pulang ke rumahnya, rasa bahagia kembali menjadi tangis saat suami korban meminta salah satu bayi kembarnya, karena ternyata istrinya yang ditabrak oleh pak Heru sedang hamil besar, dan keduanya tidak dapat diselamatkan, bayi itu sekaligus jadi pengganti bayi keluarga malang itu, yang sama malangnya dengan dirinya, harus melepas salah satu putrinya dan Pak Heru bebas dari segala tuntutan saat bayi mereka yang masih merah semakin jauh dan tak terjangkau...
****
Kini di saat semuanya baik-baik saja mengapa ada pertanyaan seperti itu, di mana salah satu bayi kembarnya, apakah ada yang pernah bertemu, apakah Andra pernah melihatnya...
Ia merasa menjadi orang tua tak bertanggung jawab, keterbatasan ekonomi membuat dirinya dan suaminya tak bisa berbuat banyak.
Perlahan Bu Heru membuka laci kaca rias model klasik yang sudah berpuluh tahun menemaninya, di sana ia meraih sebuah foto lama, kenangan terakhir ia dan suami menggendong bayi kembarnya.
Air matanya tak tertahankan, dadanya sakit seketika.
"Apa kabarmu nak, ibu selalu mendoakanmu dan juga Aca agar selalu baik-baik saja," gumamnya sambil terisak.
"Ibuuuu," panggilan lirih Aca mengagetkannya. Cepat-cepat ia selipkan lagi foto tua itu, dan menghapus lelehan air matanya.
Melangkah cepat ke kamar Aca dan menemukan Aca sudah duduk, hendak meraih sesuatu dari meja.
"Ada apa Ca, ingin apa?" tanya Bu Heru.
"Ah maafkan Aca, ibu tidur ya, biar Aca ambil sendiri air minum," namun saat hendak berdiri Aca terduduk lagi.
Bu Heru menyodorkan air minum ke bibir Aca, satu tegukan melegakan kerongkongan Aca.
"Aca kok lemes ya bu, besok Aca mau ke klinik dokter itu lagi bu, Aca pengen masuk kantor lusa ibu, tidak enak Aca bu, gaji besar malah enak-enak tidur," ujar Aca berusaha berbaring lagi dan Bu Heru membetulkan selimut Aca.
"Minta antar nak Fariq Ca, ke dokternya?" tanya Bu Heru lagi.
"Bareng ibu saja ya, karena Aca sungkan terus-terusan ngerepotin Fariq dan mamanya, biar Aca pesan lewat aplikasi online saja ibu, Aca belum kuat nyetir sendiri," ujar Aca.
"Iya, iya, bareng ibu saja, sekarang gimana pengen apalagi Ca?" tanya Bu Heru menatap Aca yang juga menatapnya.
"Tidak ibu, ibuuu, ibu habis nangis ya, ibu pasti lelah ngurusin Aca, maafkan Aca ibu," Aca terlihat sedih.
"Tidak Acaaa, ibu tidak berat merawat kamu, kan kamu apa-apa bisa sendiri, ibu hanya tiba-tiba ingat bapak kamu," sahut Bu Heru.
"Ah yaaaa bapak, seandainya ada, pasti bapak menggendong Aca ibu, bapak yang tinggi besar selalu memanjakan Aca, mungkin karena Aca tidak punya saudara," ujar Aca dan Bu Heru mengangguk dengan sedih.
"Ya kau sendiri, tidak punya saudara," tiba-tiba mata Bu Heru memanas, dan segera ke luar dari kamar Aca.
Melangkah cepat ke dapur dan menangis lagi di sana, pertanyaan Andra kembali berputar.
****
Keesokan harinya...
Sekitar jam sembilan Aca dan Bu Heru bersiap hendak ke klinik dr. Aldo mereka menunggu mobil yang akan mengantar mereka, yang telah dipesan Aca lewat aplikasi online.
Begitu datang Bu Heru dan Aca segera naik ke mobil itu, tak lupa Bu Heru mengunci pintu dan pagar.
****
Sesampainya di klinik terasa pasien yang lebih banyak dari biasanya, Aca dan Bu Heru menuju perawat yang mencatat nomor antrian untuknya.
Seandainya bersama Fariq dan mamanya, Aca tidak akan melewati antrian seperti ini, tapi tak masalah bagi Aca, ia dan ibunya terbiasa seperti ini.
****
Di kantor Fariq kembali teringat Aca, wajah pucat dan lelah terbayang dalam pikirannya.
Tiba-tiba ia ingin ke rumah Aca, Fariq memanggil Andra dan bertanya apa saja kegiatannya hari ini.
Andra memberi tahu bahwa akan ada dua rapat hari ini, dua rapat itu akan selesai sampai jam satu siang.
"Baiklah Ndra, aku akan menahan sampai jam satu," sahut Fariq sambil memejamkan matanya bersandar pada kursinya.
"Ada apa Riq?" tanya Andra.
"Aku ingin menemui Aca, aku merasakan kesakitannya, akan aku bawa pada om Aldo hari ini," sahut Fariq.
****
Nama Aca dipanggil oleh perawat dan menyilakan Aca agar masuk.
Aca melangkah bersama ibunya menuju ruangan dr. Aldo.
Saat Aca membuka pintu, senyum mengembang di wajah dr. Aldo.
"Acaaaa apa kabarmu nak, bersama Fariq ya?" tanyanya lembut.
"Tidak ini bersama ibu saya," sahut Aca pelan dan dr. Aldo berusaha menahan keterkejutannya, ia sudah mengira dari awal, namun ia tak dapat menahan perasaannya saat melihat wajah sabar itu lagi, dan perasan bersalah menyerangnya lagi.
Sejenak tubuh ibu Aca menegang, namun ia berusaha meredakan perasaannya.
Ya Allah kuatkan hamba..
Ibu Aca hanya tersenyum dan mengangguk sopan pada dr. Aldo.
"Mari silakan duduk bu, apa kabar, ibu dan bapak di rumah sehat?" tanya dr. Aldo pada ibu Aca setelah Aca dan ibunya duduk.
"Bba...baik dok, alhamdulillah sehat," sahut ibu Aca bingung, ia tak mungkin menjelaskan keadaan suaminya, ia begitu gugup dan kata-kata jadi terasa sulit ke luar dari mulutnya.
Ada rasa kaget pada wajah Aca, ternyata ibunya dan dr. Aldo sudah saling kenal.
"Eeemm dokter mengenal ibu saya?" tanya Aca dan dr. Aldo menahan napas saat pertanyaan itu ke luar dari bibir Aca.
****