#20

1325 Kata
“Yah om mengenal ibumu, dan bapakmu juga Ca," jawab dr. Aldo singkat ia tak ingin Aca terlalu banyak bertanya menyadari wajah teduh dan sabar dihadapannya yang mulai mengerjab menahan tangis, ibu Aca lebih banyak menunduk. "Baik Aca, gimana, ada keluhan, atau apapun yang membuatmu tak nyaman sampaikan pada om," tak ingin berlama-lama dengan perasaan tak nyaman yang ia rasakan, dr. Aldo langsung bertanya penyakit Aca. Lalu Aca menjelaskan dengan lengkap keluhannya, dr. Aldo mendengarkan dengan sabar. **** "Ndra, bisa ke ruanganku sekarang?" Fariq terdengar menelpon Andra. Tak lama terdengar pintu dibuka dan tampak wajah Andra. "Ya Riq, ada apa?" tanya Andra sambil menuju tempat duduk di depan Fariq. "Bisa nggak Ndra rapat kedua ditunda besok pagi, aku kepikiran Aca, aku mau ke rumahnya," ujar Fariq. "Iya nggak papa, akan aku umumkan pada para manajer rapat ditunda besok pagi, jam berapa Riq?" tanya Andra. "Pagilah, jam 8 gitu, soalnya besok kayaknya ada jadwal ke luar deh Ndra," ujar Fariq terlihat tak yakin. "Yah kamu diundang klien kita yang baru, undangan makan siang," sahut Andra. "Baiklah, aku ke rumah Aca dulu Ndra," Fariq bangkit meraih tasnya. "Aku ikut Riq, biar aku yang nyetir, mobilku aku tinggal di sini saja, boleh ya Riq, tapi tunggu sebentar, aku akan menghubungi para manajer? " Andra terlihat memohon. "Ck, kamu ini, iya dah, ayolah," akhirnya Fariq melangkah menuju pintu dan Andra mengekor di belakangnya. "Janji deh nggak akan ganggu kamu pas lagi mesra-mesraan," Andra bersuara lagi. "Ndraaa, aku mau menengok orang sakit, ngerti," suara Fariq meninggi dan Andra terkekeh pelan. **** "Kok digembok ya Ndra, kemana Aca dan ibunya?" tanya Fariq sambil tangannya meraih ponsel, Andra juga terlihat bingung. "Wah jangan-jangan ke om Aldo Ndra," Fariq terlihat menghubungi seseorang. Om Aldo.... Ke sini cepat Riq, jemput Aca, dia di sini, di klinik om.. Fariq memasukkan ponsel ke dalam tasnya dan bergegas masuk ke mobil, Andra melajukan mobil dengan kecepatan sedang. **** "Sini Riq masuk, Aca baru saja om periksa," dr. Aldo menyilakan Fariq duduk, dan Fariq tersenyum pada ibunda Aca lalu mencium punggung tangannya. "Begini, bu, ini kan sudah hampir dua bulan dari pemeriksaan Aca yang pertama, melihat perkembangan Aca yang sepert ini dan rasa sakit yang lebih sering datang serta diameter yang dirasa cukup, saya merencanakan dua hari lagi Aca akan dioperasi, semakin cepat semakin baik," dr. Aldo mengatakan semuanya dengan tenang tapi ibunda Aca sangat kaget mendengarnya. "Lalu bagaimana dok, apa Aca sudah tahu jika akan dioperasi, apakah nanti Aca akan baik-baik saja?" pertanyaan beruntun membuat Fariq berusaha menenangkan calon mertuanya. "Ibu, Aca akan baik-baik saja, iya kan om?" Fariq memengang tangan ibu Aca sambil menatap wajah dr. Aldo. "Iyaa, Bu Heru, justru operasi ini akan membuat Aca lebih baik lagi," kata dr. Aldo. Tak lama Aca ke luar dari ruang periksa dan duduk diantara Fariq dan ibunya. Aca memegang tangan ibunya, menatap wanita yang selalu saja membuatnya merasa nyaman. "Aca akan baik-baik saja ibu, lusa Aca siap operasi," Aca berusaha tersenyum lalu menoleh pada Fariq. "Aku mau ngajukan cuti ya Riq, nanti aku akan ke...," belum sempat menyelesaikan kalimatnya Fariq mengusap lembut punggung Aca. "Iya iya, Andra yang akan mengurus semuanya, jangan semua dipikir, fokus pada operasi," Fariq berusaha menenangkan Aca. "Makasih Riq, aku merasa tidak enak, karena aku kan tidak masuk sudah berapa hari," sahut Aca dan terdengar tawa pelan dr. Aldo. "Tenanglah Aca, pacarmu kan pemilik perusahaan, kamu akan banyak menerima keistimewaan," dr. Aldo tersenyum lebar. "Baiklah jika sudah selesai kami pamit om, lusa jam berapa ya om operasi akan dilaksanakan operasinya?"tanya Fariq. "Pagi jam sembilan Riq, tapi besok sekitar jam tujuh atau delapan malam lah, Aca sudah di sini, biar om akan menyuruh perawat untuk menyiapkan kamar untuk Aca, antar ya Riq, temui om di sini," ujar dr. Aldo. "Baik om, kami permisi," Fariq, Aca dan bu Heru bangkit lalu pamit pada dr. Aldo. dr. Aldo menghembuskan napas dengan berat, melihat Aca seolah Savana ada di depannya. Anak yang ia ambil dari pasangan suami istri keluarga sederhana itu, ia besarkan dengan cara yang salah. Ia serahkam pada ibunya di Kuala Lumpur sana, dimanjakan dengan segala kemewahan dan selalu dijaga agar merasa nyaman serta tak kurang satu apapun, hingga suatu saat tanpa sebab ia mengurung diri di kamar, lalu tiba-tiba ingin menemuinya di sini, di negara ini hanya dua bulan menemaninya dan mendadak kembali ke KL. Sesampainya di KL yang ia tahu dari ibunya bahwa Savana mengalami perdarahan hebat. dr. Aldo segera meminta tolong adiknya yang juga seorang dokter di KL agar menolong Savana, hingga sampai pada suatu kesimpulan dari adiknya, Savana mengalami keguguran. Keluarga besarnya kaget, siapa laki-laki yang telah merusak Savana, sampai saat ini tak juga terjawab karena Savana memilih bungkam, selain memang tak ingin berbagi, ia tak tahu di mana rumah laki-laki yang telah menolongnya dari luka yang ia tahu hanya nama, Rajendra. Kini Savana memilih menyibukkan diri di beberapa butiknya, sebagai perancang busana yang mulai di kenal ia menenggelamkan dirinya pada kesibukan itu. Savana, maafkan papa, yang jarang menjengukmu sejak kecil, karena melihatmu seolah membuka luka lama, yang mengingatkan papa pada mamamu... **** Sesampainya di rumah Aca, Fariq dan Andra mengantarkan Aca dan ibunya sampai teras, lalu mereka pamit hendak kembali kantor. "Nak duduk dulu, tadi pagi ibu nyempatkan buat kolak pisang, yuk duduk, " ibu Aca membuka pintu dan menyilakan Fariq dan Andra duduk, dan segera melangkah cepat menuju dapur. "Maaf Riq, pak Andra, saya masuk dulu ya, saya mau sholat lalu istirahat," Aca melangkah menuju kamarnya namun lengan Aca dipengang Fariq dan menjejeri langkah Aca. "Aku antar kamu Ca." Dan Andra menatap Fariq sambil garuk-garuk kepala. "Hmmmm adaaa aja caranya cari kesempatan," suara Andra berupa gumaman namun Fariq mendengar lalu menoleh dan menahan senyumnya. **** "Makasih Riq, keluarlah, aku mau ganti baju, mau sholat trus tidur," lirih suara Aca menatap Fariq di mulut pintu kamarnya. Fariq mendorong perlahan bahu Aca agar agak masuk ke dalam kamarnya, lalu mendekap, meraih kepala Aca ke dadanya. "Besok aku jemput ya, sehat ya Ca, setelah operasi kita nikah, I love you Ca," Fariq memejamkan matanya, merasakan harum rambut Aca. Aca diam saja merasakan d**a Fariq yang keras, ia menyandarkan kepalanya ke d**a Fariq. "Kamu mencintaiku kan Ca?" tanya Fariq lagi. "Aku tidak tahu Riq, cinta atau apa, setelah cintaku kandas, aku bingung mengartikan perasaanku, yang jelas kadang aku jadi ingin bertemu denganmu, nyaman saat kamu meluk kayak ini, kadang jadi marah juga jika dulu kamu melayani sekretarismu itu," suara lirih Aca sanggup membuat Fariq melepas pelukannya dan menatap Aca agak lama lalu perlahan ia tersenyum. "Terserah kamu mengartikan perasaanmu padaku Ca, yang jelas aku sangat mencintaimu," ujar Fariq mencium kening Aca lama. Saat Fariq melepaskan ciumannya ia melihat Aca yang masih terpejam, ia usap bibir Aca dengan jarinya, meski ingin menciumnya ia tahan, lalu ia raih lagi Aca dalam pelukannya. "Nak Fariq, ayo nikmati dulu kolaknya," sentuhan lembut ibu Aca menyadarkan keduanya dan saling melepas pelukan. "Maafkan ibu kalau mengganggu nak Fariq dan Aca, maaf sekali lagi, hanya ibu takut kalian lupa diri, kami ini orang tidak punya nak Fariq, apa yang kami punya selain harga diri, jika itu juga hilang, maka selesailah kami, maaf jika ibu terlalu menjaga Aca dari hal-hal yang menjerumuskan dia meski usianya sudah 28 tahun, ibu ingin dia benar-benar memberikan hal yang berharga pada suaminya," ujar ibu Aca sambi mengusap bahu Aca dan Fariq bergantian. "Terima masih ibu, saya yang seharusnya minta maaf, karena telah lancang masuk kamar ini dan memeluk Aca, saya hanya ingin dia tenang menghadapi operasi lusa, dan saya mengerti apa yang ibu rasakan, saya mengucapkan terima kasih telah menjagakan Aca," sahut Fariq dan mengusap rambut Aca. "Nggak papa nak Fariq masuk kamar Aca, toh pintunya dibuka kok, ibu hanya ngingatkan saja, mari nak ke ruang tamu," ibunda Aca melangkah ke luar kamar dan Fariq menyempatkan meraih dagu Aca, mencium bibir Aca sekilas, dan tersenyum lebar. "Istirahat sayang ya." Wajah Aca memerah, lalu ia pukul d**a Fariq perlahan. "Ih sempat-sempatnya." Keduanya menahan tawa dan kembali terdengar panggilan ibunda Aca. "Nak Fariq kolaknya cicipi duluuuu." ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN