#21

1026 Kata
“Duh kamu kok nggak ngasi tahu mama sih Riq, ngerti gitu kan mama bisa nemenin Aca juga waktu ke Aldo," ujar mama Fariq terlihat kesal. "Alah mama, malah kayak rame-rame aja, tadi itu cuman periksa, Aca bareng ibu, trus aku nyusul, om Aldo bilang nanti malam Aca harus sudah di klinik, rencana Fariq ya biar Fariq aja yang jaga Aca pas malemnya, keesokan harinya sebelum operasi mama jemput ibu ya ke rumah Aca, trus ke rumah sakit, ya ma?" Fariq berusaha memberi pengertian pada mamanya. "Iya dah nggak papa, nanti mama nelpon Bu Heru," sahut mama Fariq. **** Seharian Fariq tak tenang di kantornya, hanya pada saat memimpin rapat saja ia bisa berkonsentrasi tapi begitu rapat selesai ia kembali dihadapkan pada situasi gamang, bingung, dan resah. "Riq, ada tamu, dia bilang teman lama kamu meski sudah aku jelaskan ia maksa ketemu kamu dan aku tidak bisa menghalanginya juga karena dia adalah klien kita yang mengundang kita makan siang nanti," Andra menjelaskan dan Fariq hanya mengangguk tanpa ekspresi pikirannya masih pada operasi yang akan dihadapi Aca. Muncul wajah tak asing, seketika wajah Fariq berubah menjadi dingin. "Halo Fariq sayang ketemu lagi, aku maunya ngajak makan siang tapi aku tak sabar jadi aku bawa makan ke sini," Daniya mantan tunangannya tiba-tiba duduk di depannya. "Kau, ada apa ke sini, aku tidak punya waktu, aku akan menemani calon istriku di rumah sakit," ujar Fariq tanpa senyum. Terdengar pelan tawa Daniya Indisya, wanita dengan wajah cantik dan shape badannya yang menarik, siapapun akan menoleh saat dia berjalan. "Pasti kamu kaget, aku pemilik perusahaan yang akan kerja sama dengan perusahaanmu, awalnya dipegang kakakku memang tapi sejak enam bulan ini aku yang pegang,kakakku mengambil alih punya papa, papa ingin istirahat, daaaan benar-benar kejutan kamu akan menikah, siapa gerangan wanita yang telah menaklukkan laki-laki cuek dan dingin sepertimu?" terdengar lagi tawa renyah wanita seksi di depannya. "Cepat katakan kamu mau apa, mana dokumen yang akan kita bicarakan, setelah selesai pulanglah, aku akan segera menemani calon istriku," Fariq menatap Daniya tanpa senyum. "Sudah aku serahkan pada sekretarismu, biar dia baca, lalu dia sodorkan padamu nanti, besok kau antar ke kantorku ya aku tunggu, ah sayang sekali aku bawa makanan, maunya makan sama kamu tapi kamu malah mau ke siapaaa calon istrimu ah benar-benar penasaran, ya udah aku tinggal di sini ya makanannya, makan yah sayang, jangan sakit, baaaai," Daniya melangkah ke luar dan Fariq mendengus kesal. Andra masuk dan jadi sasaran kemarahan Fariq. "Dengar Ndra, aku tidak mau dia berurusan denganku lagi, mumpung belum ada kontrak apapun, gagalkan semuanya, kembalikan dokumen-dokumen itu," ujar Fariq mrnggebrak meja. "Lalu apa alasannya Riq, kita harus punya alasan, masalahnya kerja sama kali ini akan menguntungkan perusahaan kita, laba kita akan besar Riq," sahut Andra tak kalah keras. "Turunkan nada suaramu, aku pemilik perusahaan ini, berikan alasan apapun terserah kamu, aku tidak mau dia menggangguku, cukup satu tahun aku terganggu saat ia masih jadi tunanganku, aku lega saat ia menggagalkannya, lalu mengapa sekarang aku harus bertemu dia lagi setelah aku nyaman bersama wanita yang akan aku nikahi," ujar Fariq marah dan mulut Andra terbuka lebar, ia baru mengerti masalahnya. "Aaaah ya ya, baiklah, baiklah, aku akan mengatasinya kawan," Andra mengangguk-angguk lalu ke luar dari ruangan Fariq, Fariq menyandarkan kepala sambil memejamkan mata. **** Ponsel Aca berbunyi, ada notifikasi masuk, ia meraih dengan malas, setelah sarapan tadi dia memilih tiduran, ia lihat ternyata Fariq mengirim pesan singkat. Assalamualaikum sayang, boleh aku temani kamu di rumah Wa alaikum salam, nggak, biar sekalian nanti malam Aku kangen, boleh vidcall Nggak, aku lusuh Kamu pasti tetep cantik Gombal Yaudah, istirahat ya, love you Ca Hmmmmm Aca tersenyum lalu meletakkan ponsel di kasur. **** Fariq tersenyum menatap layar ponselnya, ia membaca berulang pesan yang terkirim dari Aca. Teringat wajah malu Aca jika dia cium, meski membalas namun selalu berakhir dengan wajah memerah sambil menunduk. Fariq tahu ia bukan yang pertama mencium Aca, namun merasakan ciuman Aca yang kaku, ia yakin Aca masih belum sepenuhnya melupakan laki-laki itu. "Hmmmm tadi marah-marah, sekarang senyum-senyum, heeeh cintaaa cinta, bikin bosku jadi kurang waras," Andra tiba-tiba muncul dan memberikan satu map dokumen. "Tuh yang akan aku kembalikan pada mantan tunanganmu," ujar Andra lagi. "Ck kok kamu taruk di sini sih, sana bawa ke mejamu, kembalikan Ndra, usahakan kamu bertemu langsung dengan Daniya, buat alasan yang masuk akal, aku yakin kamu ahlinya," ujar Fariq lagi dan Andra hanya mengangguk. "Riq boleh nanti malam aku menemanimu, di rumah sakit?" tanya Andra. "Yang sakit Aca ngapain kamu nemanin aku," sahut Fariq asal. "Heeeh ya maksudku menemani bu Anataya, Riiiq, denganmu juga," Andra terlihat kesal. "Pasti kamu kangen Savana, iya kan, lalu kamu membayangkan Aca adalah Savana," ujar Fariq tak suka. "Ya Allah Riiiq, segitunya kamu, aku hanya simpati sebagai teman satu kantor dan karena dia calon istrimu booos, ngertiiii," ujar Andra semakin kesal. Terdengar tawa Fariq perlahan dan ia mengangguk. "Oklah, dan aku tidak masuk besok Ndra, aku minta tolong laporkan kalau ada apa-apa, aku mau menemani Aca saat operasi, aku ingin ada disampingnya saat ia selesai operasi, saat ia membuka mata setelah operasi aku ingin jadi orang pertama yang ia lihat Ndra" ujar Fariq pelan. "Yah beres," sahut Andra. **** "Ibu Aca berangkat ya," malam, Aca dijemput Fariq menuju klinik dr. Aldo, ia pamit pada ibunya, memeluknya lalu menatap wajah sabar di depannya yang tersenyum sambil mengusap rambutnya. "Yah hati-hati, banyak berdoa ya Ca, biar tenang, ibu besok di jemput mamanya Fariq jam tujuh pagi, titip Aca nak Fariq," ujar Bu Heru menatap Aca dan Fariq bergantian. Ibu Aca menatap keduanya saat memasuki mobil dan mobil bergerak perlahan, melaju dengan kecepatan sedang. **** "Sudah sampai Ca, kita turun," Fariq menyentuh lengan Aca, lalu ia turun, berjalan memutar membukakan pintu untuk Aca. Saat akan melangkah Aca terdiam sebentar, Fariq menatap Aca dengan tatapan bingung. "Ada apa Ca?" tanya Fariq lagi dan mengikuti ke arah pandangan Aca. Fariq melihat Reyhan entah dengan siapa, yang jelas dengan wanita lain lagi, dengan perut besar, tanda bahwa wanita itu sedang menanti masa-masa melahirkan, si wanita menggandeng mesra lengan Reyhan dan Reyhan merengkuh bahu wanita itu. "Ayo Ca, ada aku,"Fariq memeluk bahu Aca, menangkan wanitanya, karena Fariq yakin, kaki Aca akan semakin sulit melangkah. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN