#22

1043 Kata
“Mau aku peluk semakin erat,  atau aku cium kamu dulu biar bisa melangkah tegap?" wajah tampan didepannya semakin dekat, hidung Fariq  perlahan menyentuh hidung Aca, karena Fariq menurunkan wajahnya, Aca memundurkan wajahnya menatap mata Fariq dan ia merasa mendapat kekuatan. "Yah,  temani aku melangkah Riq," suara Aca terdengar lirih, mereka melangkah perlahan, Fariq sambil merogoh ponsel di sakunya, mencari nomor dr. Aldo. "Om saya sudah sampai... Ooo iya iya...baik om terima kasih.." "Kita langsung menuju customer servis di depan Ca, mereka sudah tahu karena om Aldo sudah menyiapkan segalanya, kita tinggal nanya kamar kamu saja," mereka melangkah beriringan, Fariq tahu Aca butuh kekuatan untuk melangkah. Fariq semakin mempererat pelukannya pada Aca, saat ia sadar ada tatapan tajam pada mereka berdua. Sesekali ia cium ujung kepala Aca, sambil melangkah perlahan di depan laki-laki yang tak ingin Aca lihat. Fariq dan Aca sadar jika laki-laki itu menatap mereka sejak awal melangkah menuju customer servis. Segala cara Fariq lakukan agar dalam pikiran laki-laki itu mereka benar-benar sangat dekat, saat sampai di customer servispun, Fariq tak melepas rengkuhannya dari bahu Aca. **** "Tidurlah, aku akan menemanimu, aku bisa tidur di sofa jika ngantuk," Fariq mengusap rambut Aca yang sudah berbaring di dan sudah berganti dengan baju khusus pasien dari klinik itu. **** Akhirnya Aca tertidur setelah perlahan Fariq mengelus rambut Aca. Fariq memandangi wanita yang entah mengapa selalu bisa membuat hatinya luluh, berdebar dan ada keinginan untuk selalu melindunginya,  satu lagi, ada keinginan untuk selalu melumat bibir mungil Aca yang selalu saja terasa manis saat sampai di mulutnya. Perlahan Fariq tersenyum, ia cium kening Aca, terdengar hembusan halus napas Aca yang teratur. Lalu Fariq tarik selimut Aca sampai menutupi dadanya. Fariq sadar jika rasanya sulit bagi Aca akan benar-benar lupa pada Reyhan, namun ia sudah merasa cukup jika Aca sudah mengacuhkan laki-laki itu. Reyhan adalah cinta pertama Aca,  sesakit apapun hati Aca tetap akan sulit melupakan Reyhan. Fariq pelan-pelan akan membuat Aca selalu ingat padanya, entah dengan cara apa, yang pasti Fariq yakin caranya akan berhasil. Fariq bangkit menuju sofa, ia buka jaketnya lalu celana jeansnya, berganti dengan celana bahan katun. Lalu Fariq merebahkan badannya di sofa, menyamankan posisinya dan mulai memejamkan matanya. **** Malam hari Aca bangun karena haus ia bangkit, perlahan turun, menoleh pada jam dinding, masih jam satu dini hari. Setelah terasa segar kerongkongannya ia melangkah pelan menuju sofa tempat Fariq tidur. Aca duduk perlahan di sisi Fariq, ia pandangi wajah laki-laki yang sabar menunggunya membuka hati. Ada perasaan bersalah dalam hati Aca karena ia tidak benar-benar bisa melupakan Reyhan. Ia selalu saja merasa tak sanggup melangkah jika laki-laki itu ada di depannya. Kepolosan wajahnya, senyum lembutnya membuat Aca benar-benar terkecoh. Perlahan air mata Aca luruh, perasaan bersalah pada Fariq semakin jadi, wajah lelah laki-laki di depannya menggambarkan bahwa meski lelah ia selalu ada untuk dirinya. Aca menyentuh wajah Fariq, pipi,  rahang dan berhenti di sana. Aca kaget saat menyadari tangan Fariq memegan tangannya yang masih menempel di rahang Fariq. Fariq membuka mata dan melihat sisa air mata Aca, ia bangun dan duduk berhadapan dengan Aca. "Ada apa, mengapa Ca, apa aku segitu tampannya sampe kamu terharu, dicintai laki-laki seperti aku?" Fariq berusaha menghibur Aca, Aca memukul d**a Fariq dan Fariq menarik Aca dalam pelukannya. "Aku tidak akan membuatmu menangis karena sakit hati Ca, aku mencintai mu, hanya mencintaimu Ca," Fariq mengatupkan gerahamnya sambil memejamkan mata. Aca mendorong badan Fariq, mereka saling pandang. "Boleh aku menciummu?" tanya Fariq dan Aca mengangguk perlahan. Fariq tersenyum lalu mengangkat dagu Aca, mengulum lembut bibir Aca, menyesapnya bergantian, bibir atas dan bawah, Aca hanya diam tak bereaksi, tangannya meremas bahu Fariq perlahan. "Balas Ca, aku yakin kamu bisa," pinta Fariq dan Aca menuruti kemauan Fariq, meski malu ia melakukan permintaan Fariq dan Fariq mengerang tertahan saat ia mulai merasakan aliran tak biasa mengalir ke seluruh badannya dan berhenti di pusat tubuhnya. Ia cium Aca sekali lagi lalu ia rengkuh kepala Aca ke dadanya. "Cukup Ca, aku meraskaan hal lain, aku takut pada diriku sendiri, aku tidak akan pernah lebih dari berciuman, aku tidak akan merusakmu," suara Fariq yang tercekat membuat ia berusaha keras menahan gairah yang tiba-tiba muncul dan badannya terasa panas, keringat mulai timbul di keningnya. Fariq lepas pelukannya dan tersenyum menatap wajah bingung yang Aca. "Tidurlah,  sudah jam dua, aku juga akan tidur dan menidurkan yang lain," senyum Fariq semakin membingungkan bagi Aca, dan ia baru menyadari saat tanpa sengaja melihat celana katun Fariq yang menggelembung di pangkal pahanya. Aca memukul d**a Fariq dan bangkit dengan wajah memerah. Telinganya masih menangkap gurauan Fariq. "Ah aku tak menyangka jika ciumanmu mampu membangunkan yang lain," ujar Fariq dan Aca pura-pura tidak mendengar. Aca merebahkan badannya lagi dan segera memejamkan matanya, senyum Aca perlahan muncul. Sementara Fariq berusaha meredakan gairah yang tadi muncul karena Aca yang menciumnya dengan lembut dengan tidur meringkuk memunggungi Aca. **** Pagi hari sesuai jam yang ditentukan, Aca sudah berada di brangkar. Brangkarnya didorong oleh dua orang perawat menuju kamar operasi, Fariq berada di sisi Aca, menggengam tangan Aca. Lalu mama Fariq dan ibunda Aca mendekat, mencium kening Aca. "Kami menunggu di sini ya sayang,  kamu pasti kuat," mama Fariq tersenyum lembut pada Aca. "Baca doa nak ya, ibu juga akan berdoa di sini," suara ibunya semakin membuat Aca tenang. Saat brangkar Aca sudah sampai di mulut pintu ruang operasi di sana berdiri dr. Aldo yang tersenyum lebar ke arah Fariq. "Lepaskan tanganmu, biar om yang akan bersama Aca untuk sementara waktu," dr. Aldo menggoda Fariq dan Fariq segera melepaskan tangan Aca, tersenyum dengan gugup. "Aku tunggu di sini sayang, aku menunggumu," Fariq berbisik ke telinga Aca, Aca menatap Fariq dan mengangguk sambil berusaha tersenyum. Tiba-tiba... "Ibu Anataya maaf saya terlambat, semoga kuat dan lancar operasinya ya bu," suara Andra yang terengah menandakan ia berlari untuk mencapai tempat itu, Aca hanya mengangguk dan tersenyum lagi. "Ok saya bawa Aca dulu," dr. Aldo memberi isyarat pada perawat untuk mendorong brangkar ke dalam ruang operasi, ia melangkah namun langkahnya sempat terhenti saat lirih ia mendengar laki-laki yang baru datang itu menyebut sebuah nama. "Ah Savana, kau mirip Savana," dr. Aldo menoleh, mengapa ia menyebut Savana, apakah ia mengenal Savananya. Mereka saling tatap namun dr. Aldo melepas tatapannya dan mempercepat langkah saat pintu itu tertutup. dr. Aldo berusaha mengabaikannya karena ia harus berkonsentrasi dengan operasi Aca. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN