#23

1237 Kata
“Bapaaaaak..." "Acaaaa kamu, kamu mengapa ke sini naaaak, sana pulang, bukan tempatmu di sini" "Bapaaak Aca kangen bapak" "Hei anak bapak sudah dewasa kok nangis, baiklah peluk bapak, lalu pulanglah" "Tidak, Aca mau sama bapak" "Jangan Acaaa, mana bawaan Aca kalau Aca siap tinggal dengan bapak?" "Eemmmm" "Tidak ada kaaan, artinya bekal Aca untuk tinggal di sini belum cukup, pulanglah nak, ibumu dan orang-orang yang mencintaimu mulai kawatir, saudaramu juga menunggu pertolonganmu" "Saudara, Aca punya saudara?" "Ya carilah, temukanlah Ca" "Boleh Aca meluk bapak lagi? " "Peluk bapak, peluklah, lalu pulanglah" "Aca pulang bapak" "Pergilah ikuti cahaya putih itu" "Tapi bapak sendirian di sini" "Tidak, teman bapak banyak, pulanglah nak, pulanglah" **** Ada suara-suara aneh berdengung lalu berputar seolah mengelilingi kepala Aca. Perlahan ia buka matanya, terasa silau dan orang pertama yang ia lihat adalah Fariq. "Om, Aca sadar, Aca sadar alhamdulillah ," suara Fariq terdengar kawatir dan bergetar. "Yah, aku panggil mamamu dan ibunya Aca, jangan banyak diajak bicara dulu ya Riq, biarkan Aca istirahat, kau juga, kau tampak lelah," suara dr. Aldo samar-samar terdengar. "Terima kasih sudah sadar Ca, terima kasih mau bertahan," suara Fariq terdengar tercekat. "Acaaa akhirnya kau sadar nak, terima kasih ya Allah," ibu Aca mencium kening anaknya. Alat bantu pernapasan masih menempel di hidung Aca. Mama Fariq terlihat berkaca-kaca mengusap tangan Aca, berusaha tidak menyentuh jarum infus yang berada di punggung tangan Aca. "Mari kita pulang bu Heru, kita istirahat, kamu nggak papa kan jaga Aca Riq, kalau capek gantian sama mama sayang ya?" ujar Bu Ferdi. "Nggak ma, Fariq mau jagain Aca," ujar Fariq menatap mamanya yang terlihat kawatir. "Baiklah, jangan lupa makan, minum vitaminmu, kamu jangan sakit ya, masa nemenin Aca yang sakit, jadi ikutan sakit," Bu Ferdi memahami kekawatiran putranya karena Aca sempat terlalu lama belum juga sadar pasca operasi pengangkatan kistanya. Aca memejamkan matanya lagi, ia masih lelah dan juga masih bingung mengingat kembali percakapannya dengan bapaknya, seolah nyata, seolah benar-benar ada. **** Dua hari kemudian alat bantu pernapasan dihidung Aca sudah tidak terpasang lagi, begitu juga dengan infus dipunggung tangannya sudah dilepas. Fariq yang setia menemani sejak awal mulai bisa tersenyum saat Aca sudah bisa duduk dan makan sarapannya sendiri pagi ini. "Aku tidak mau kau manjakan terus Riq, aku bisa sendiri, nggak sakit lagi kok bekas jahitannya," ujar Aca pelan saat Fariq masih ragu akan meninggalkannya ke kantor. "Bohong, kamu bohong kalau mengatakan tidak sakit, tadi pas berusaha duduk dahimu masih mengernyit dan menggigit bibirmu," sahut Fariq kawatir. "Ya nggak mungkin langsung sembuh lah Riq namanya bekas diiris ya pasti nggak mungkin langsung hilang sakitnya, masih lebih sakit waktu ditinggalkan Rey...," Aca tak meneruskan saat wajah Fariq berubah menjadi dingin, berjalan mendekati Aca yang sedang makan dan pura-pura menatap makanannya. Fariq meraih kepala Aca, menciumnya pelan hingga Aca hampir tersedak dan Fariq memberinya minum. Lalu duduk di dekat Aca, menatap mata Aca yang menghindarinya dengan pura-pura menyendokkan nasi dan lauk ke mulutnya. "Bisakan Ca, kamu nggak nyebut nama dia lagi, bukan aku cemburu, nggaklah, kita bukan remaja lagi, hanya ada rasa tak enak jika namanya ada diantara kita, aku dan kamu sama-sama jadi tidak nyaman," ujar Fariq yang sempat menahan napas saat Aca memandangnya tanpa senyum. "Kamu cemburu!" ujar Aca. "Nggak, aku hanya merasa tidak nyaman," sahut Fariq. "Terserah kamulah Riq, aku merasa kamu seperti remaja yang merajuk pada pacarmu," Aca meletakkan boks makannya di meja yang ada di samping tempat tidurnya, Fariq memberikan air minum dan Aca meneguknya sedikit, memberikan kembali gelas pada Fariq. "Apa aku salah jika aku merajuk padamu?" Fariq semakin mendekatkan duduknya pada Aca. "Kamu mau apa?" tanya Aca melihat ke pintu saat Fariq meraih dagunya dan tanpa permisi Fariq menyesap bibir bawah Aca. "Fariiiiq ....," suara mama Fariq yang tiba-tiba terdengar membuat keduanya kaget, wajah Aca memerah dan Fariq menyugar rambutnya saat papanya juga muncul di belakang mamanya. Wajah papa Fariq yang menahan senyum membuat Fariq semakin salah tingkah. "Ca, aku ke kantor dulu ya, ini sudah ada mama sama papa," ujar Fariq pamit pada Aca, mama dan papanya. Mama Fariq menghela napas sambil menggerutu. "Hmmm sempat-sempatnya padahal Aca masih sakit." "Ck, maaa," sahut papa Fariq pelan. "Bener kan kataku, dia dah waktunya kawin ah papa nggak percaya," mama Fariq terdengar jengkel. "Mamaaaa, Acanya denger tuh," papa Fariq mengusap bahu istrinya dan wajah Aca memerah. "Gimana Ca, sudah enakan?" tanya papa Fariq dan Aca mengangguk. "Iya pa alhamdulillah sudah lebih sehat, maaf kalau Aca akhirnya ngerepotin semuanya, papa kayaknya mau ke kantor? " tanya Aca. "Iya setelah dari sini, nggak papa Ca, nggak ngerepotin, yang repot cuman Fariq kok, dan papa ijinin kamu ngerepotin dia, dia belum pernah sepanik dan setakut ini Ca," ujar papa Fariq dan Aca semakin merasa bersalah pada Fariq. Laki-laki yang selalu ada di dekatnya saat ia sulit melepaskan diri dari Reyhan, sedang Aca masih saja sesak dadanya jika melihat laki-laki yang menyakitinya seolah semakin yakin bahwa dirinya belum sepenuhnya melepas Reyhan dari hatinya. "Papa ke kantor dulu ya Ca, semoga segera pulih," papa Fariq mengelus kepala Aca perlahan. "Ma, aku ke kantor ya, mama nelpon Pak Mul ya jika mau pulang, dia sudah aku kasi tahu kalau mama akan menelpon jika akan balik ke rumah," papa Fariq mencium kening istrinya dan melangkah menuju pintu, membukanya dan menutup kembali. **** Papa Fariq mengeryitkan dahinya saat melihat Fariq dan entah siapa di parkiran, ia melihat Fariq yang mencengkeram krah laki-laki yang postur tubuhnya lebih pendek sedikit dari Fariq. Papa Fariq bergegas menuju tempat anaknya yang mengalami situasi tak nyaman. "Riq, bisa kamu turunkan tanganmu, papa tidak mau kamu mengotori tanganmu dengan tindakan yang tidak benar, pakailah logikamu, jangan emosimu," papa Fariq menepuk pundak anaknya dan berlalu meninggalkan keduanya. "Jika tidak ada papa, akan saya buat anda babak belur pagi ini, jangan sok yakin, anda sudah tidak ada dalam pikiran dan hati Aca, jika masih mencintai anda, ia tidak akan bersedia aku nikahi beberapa bulan lagi," Fariq berlalu dengan kemarahan yang masih menggelegak di dadanya. Langkah lebar Fariq terhenti saat melihat papanya menunggu di dekat mobilnya. "Ada apa pa?" tanya Fariq. "Papa yang seharusnya tanya, ada apa?" tanya papa Fariq kawatir. "Haaah jengkel aku pa, laki-laki itu mantannya Aca yang telah membuat Aca dan keluarganya...," belum selesai Fariq berbicara, papanya sudah mengangguk tanda mengerti. "Iya, iya akhirnya papa mengerti siapa dia, ah sudahlah Riq, berangkatlah ke kantor, kamu hanya cemburu saja," ujar papanya menenangkan Fariq. "Dia melecehkanku pa, dia sok yakin bahwa Aca hanya mencintainya dan mencegatku hanya untuk memastikan Aca baik-baik saja," nada suara Fariq masih terdengar tinggi. "Sudahlah, tenangkan hatimu, jika kamu menuruti amarahmu ya artinya sama saja kamu dengan dia, tunjukkan bahwa kamu lebih bermartabat, bicaralah sedikit tapi buat dia menyesal telah mengganggu ketenanganmu bersama Aca," papa Fariq tersenyum ia baru nenyadari baru sekarang anaknya terlihat mengorbankan segalanya demi wanita yang ia cintai, seumur-umur ia tidak pernah melihat Fariq meledak emosinya. "Kau sangat mencintainya ternyata Riq, bersabarlah, memang akan terasa berat, tapi jika kamu ikhlas dengan kesabaranmu, akan terasa indah pada saatnya nanti, dulu papa juga sepertimu, bersabar menunggu mamamu mencintai papa, karena papa harus benar-benar sabar menghilangkan bayangan Aldo dalam pikiran mamamu yang lebih segalanya dari papa, sekarang berbuah manis, kami malah seperti saudara sekarang dengan dr. Aldo," papa Fariq menepuk bahu anaknya. "Ah papa, ini beda kasus pa, jangan samakan om Aldo dengan si b******k itu, om Aldo hanya masa lalu mama, sedang Reyhan penjahat kelamin pa," sahut Fariq jengkel dan papa Fariq kaget mendengar kata-kata Fariq yang tak biasanya berbicara kasar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN