“Kenapa tersenyum sendiri pa?" tanya mama Fariq melihat suaminya membuka jas lalu menarik perlahan dasinya.
"Fariq ma tadi, ah aku baru kali ini melihatnya semarah itu, aku jadi seolah-olah melihat diriku beberapa puluh tahun lalu," sahut papa Fariq.
"Memang Fariq kenapa pa?" tanya istrinya lagi.
"Dia hendak memukul seseorang yang ternyata dia mantan Aca yang masih saja mendekati Aca, aku tahu bagaimana rasanya harus menahan diri, harus sabar menunggu cinta itu datang padaku dan sekarang terjadi pada Fariq, hanya bedanya dulu Aldo tidak aneh-aneh padamu," ujar papa Fariq.
Mama Fariq diam saja, menatap suaminya dan tersenyum lalu berjalan mendekati suaminya yang memunggunginya sedang membuka kemeja, ia peluk suaminya dari belakang.
"Terima kasih mau menungguku, bisa kan papa tidak usah mengingat masa itu lagi, makanya aku melakukan segalanya untuk membantu Fariq pa, karena aku tahu akan sulit bagi Aca melupakan laki-laki itu, tapi aku yakin melihat kegigihan Fariq, caranya yang lebih nekat dari papa, Aca akan luluh, kalau papa mana berani cari-cari kesempatan kayak Fariq tadi," akhirnya papa mama Fariq tertawa mengingat bagaimana wajah malu Fariq tadi pagi saat kepergok mencium Aca.
****
"Tadi rame banget di sini Riq pas jam istirahat stafku ke sini, tumpah ruah semuanya di ruangan ini ya makanan minuman yang mereka bawa sendiri, aku kangen banget sama mereka, tim yang solid, orang-orang yang rajin dan tekun," ujar Aca saat malam tiba dan Fariq baru saja datang.
"Oh ya, lalu siapa yang nungguin kamu Ca setelah mama pulang?" tanya Fariq membuka jas dan semua yang melekat di badannya setelah sebelumnya ia kunci pintu kamar Aca.
"Ibu, baruuu saja pulang," sahut Aca jengah melihat Fariq yang hanya menyisakan kaos tipis pas di badannya dan boxer menutupi bagian bawah badannya, sehingga terlihat dengan jelas bagaimana otot-otot badan Fariq yang keras, Aca memilih menunduk membetulkan selimutnya.
"Segera ke kamar mandi Riq, lalu pakai bajumu dengan benar," suara Aca terdengar pelan dan memilih merebahkan badannya memunggungi Fariq.
Fariq menahan tawanya, ia tahu Aca belum terbiasa dengan keadaan seperti itu, sedangkan Fariq juga heran pada dirinya sendiri yang seenaknya membuka baju di depan Aca.
Terdengar pintu berusaha di buka, Fariq mengintip lewat jendela, ternyata mamanya, segera Fariq membuka pintu dan mendapati mamanya yang terbelalak, serta wajah menjengkelkan kakaknya yang berada di belakang mamanya.
Mereka segera masuk dan menutup pintu.
"Riq kamu gimana sih, sana ke kamar mandi," ujar mama Fariq.
"Aku ngerti kok ma, dia ingin Aca melihat badannya yang bagus," tawa Razel memenuhi kamar itu, Aca yang baru membalikkan badannya tersenyum dan memilih menerima pelukan mama Fariq dan setelahnya berganti memeluk Razel.
"Cepat pulih adikku, lalu mari kita barengan nikahnya ya?" Razel menatap wajah Aca yang awalnya sempat ingin ia miliki namun memilih mundur saat adiknya mengatakan sangat menyukai Aca, Razel bersyukur ia belum benar-benar mencintai Aca.
"Nggak usah lama-lama meluknya kak, kakak kan sudah punya," ujar Fariq menepuk bahu kakaknya.
Razel menoleh dan melihat wajah Fariq yang tanpa senyum.
"Hmmmm mau mukul aku, aku nggak takut, badan kita sama besarnya, ototku lebih keras dari ototmu, pengusaha batu bara mau dilawan," akhirnya Razel memeluk adiknya sambil tertawa.
"Kapan kakak datang?" tanya Fariq berdiri di dekat Razel dengan handuk di tangannya.
"Barusan, sudah sana mandi ah, Aca ngeri lihat gundukan kamu yang segitunya nggak tahu malu menggelembung tanpa sebab," Razel terbahak saat adiknya memukul dengan keras bahunya dan berlalu menuju kamar mandi.
"Kak Razel ada apa kok tiba-tiba pulang?" tanya Aca.
"Satu mau fitting baju pengantin, dua mau menjenguk adikku yang cantik, mau makan lagi yuk, tuh mama sudah nata semuanya di meja tinggal makan aja," ajak Razel.
"Ayo sayang mama suapin ya?" mama menawarkan pada Aca.
"Nggak ma, makasih Aca baruuu saja makan malam sebelum Fariq datang," jawab Aca.
"Oooh anak itu baru datang, aku kira dia dah lama setengah telanjang kayak tadi," Razel terkekeh lagi saat wajah Aca memerah karena malu.
"Ih Razel, adik kamu nggak biasanya juga kayak gitu, dia kan pemalu nggak kayak kamu yang main srudak sruduk, tumben aja mama lihatnya," ujar mama Fariq mulai menikmati masakan Italia cepat saji.
"Kalau di depan Aca dia nggak akan malu ma, dia malah showoff force, menunjukkan seberapa kekar dia di depan Aca, dan ternyata emang kekar ke dalem-dalemnya ma," ujar Razel sambil memasukkan spageti ke mulutnya.
Mama Fariq tersedak dan meraih air minum lalu memukul lengan Razel.
"Kamu ini, jangan ngomong sembarangan, Aca nggak biasa aneh-aneh, ah ni anak, mama sampe keselek lagi," mama Fariq terdengar menggerutu dan terdengar Fariq yang baru saja selesai mandi, lalu mengambil celana katun dan memakainya.
"Tuh kan ma, dia sengaja kok emang, dia pakainya juga di depan Aca, biar Aca tahu aja perabot dia, kan dah dekat juga yang mau nikah, biar nggak kaget," Razel terkekeh dan kembali menerima pukulan dari Fariq di bahunya.
Mau tidak mau akhirnya Aca tersenyum menanggapi gurauan Razel meski ia benar-benar malu karena Aca tidak terbiasa dengan gurauan seperti Razel.
"Ayo makan Riq," ajak Razel.
"Nggak, aku baru makan sama Andra tadi sebelum ke sini," sahut Fariq yang melangkah menuju Aca dan menarik kursi agar bisa duduk di samping tempat tidur Aca.
Ia pandangi wajah Aca, seharian tadi dia banyak pekerjaan dan tak sempat berkabar apapun pada Aca.
"Aku kangen kamu Ca," mata Fariq masih saja menatap Aca, dan Aca memberi kode dengan matanya, bahwa ada mama dan kak Razel.
Fariq tak peduli, ia pegang tangan Aca dan mengelusnya dengan lembut, perlahan Aca tarik dan berdecak pelan.
"Actioooon," Razel berteriak.
"Huusssyy ramenya ni anak," ujar mama Fariq kaget.
"Biarin ma, biar yang lagi memulai serangan agak menahan diri," ujar Razel tertawa.
"Iya mama ngerti, tapi nggak usah teriak-teriak kamu, ini tempat orang sakit," sahut mama Fariq.
Akhirnya Fariq bangkit dan menuju tempat mama dan kakanya duduk.
"Ok, mumpung kalian sama-sama ada di depan mama, Razel kan nikah dua bulan lagi, nah Fariq nyusul setelahnya, dua bulan setelah Razel nikah, bantu mama ngerti jangan bercanda saja."
"Lama banget ma, sebulan dari kak Razel ajalah ma," pinta Fariq dan tawa Razel kembali meledak.
"Jangan dimajukan lagi Riq, sudah benar kata mama," sahut Aca tiba-tiba. Fariq menoleh, menatap Aca tanpa senyum.
"Apa bedanya Ca, empat bulan lagi dengan tiga bulan lagi, toh hasilnya sama saja kan, kamu akan jadi istriku" tanya Fariq.
"Biar aku dan ibu ada waktu menyiapkan pernikahan kita," sahut Aca.
"Sudah siap semua kok sayang, ibu sama mama sudah menyiapkan segalanya, kita tinggal bikin baju pengantin saja" ujar Fariq.
Aca kaget, ada tanya dalam pikirannya, mengapa ibunya tidak bercerita padanya.
Seketika Fariq berdiri melangkah mendekati Aca, menatap wajah gadisnya yang terlihat ragu. Ia raih kepala Aca ke dadanya, merasakan degup jantung Aca yang tak biasa.
Mama Fariq dan Razel diam saja, mencoba melanjutkan apa yang mereka makan, mereka memahami situasi tak enak yang dihadapi Aca dan Fariq.
****